Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia bergerak melemah pada perdagangan Selasa (2/6/2026) di tengah ketidakpastian terkait keberlanjutan gencatan senjata di Timur Tengah yang menahan sentimen positif dari sektor kecerdasan buatan (AI).
Melansir Reuters, Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,6% setelah bergerak fluktuatif antara zona hijau dan merah pada awal perdagangan.
Baca Juga: IPO SpaceX Makin Dekat, 5% Saham Disiapkan untuk Investor Terpilih
Pelemahan dipimpin oleh pasar saham Korea Selatan, di mana indeks KOSPI sempat anjlok hingga 3,3% setelah dibuka menguat.
Kontrak berjangka indeks S&P 500 turun 0,5%, sementara indeks Nikkei 225 Jepang merosot 1,9%.
Analis pasar IG di Sydney Fabien Yip mengatakan, pelemahan pasar saat ini lebih mencerminkan aksi ambil untung setelah reli panjang sektor AI daripada perubahan fundamental terhadap prospek teknologi tersebut.
"Ini bukan re-rating terhadap saham AI, melainkan aksi profit taking setelah reli yang sangat kuat," ujarnya.
Menurut Yip, pasar juga mulai terbiasa dengan tarik-ulur perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang sejak April kerap mengalami kebuntuan.
"Hari ini tidak ada kemajuan berarti dalam negosiasi, dan pasar sudah terbiasa dengan situasi yang berubah-ubah tersebut," katanya.
Baca Juga: Anthropic Resmi Ajukan IPO, Selangkah di Depan OpenAI
Ketidakpastian Timur Tengah Membayangi
Harga minyak Brent turun 0,6% ke level US$ 94,45 per barel setelah Lebanon mengumumkan gencatan senjata parsial antara Hezbollah dan Israel pada Senin (1/6).
Penurunan ini memangkas sebagian kenaikan tajam harga minyak sehari sebelumnya yang dipicu laporan penghentian sementara perundingan tidak langsung antara Iran dan AS.
Pelaku pasar masih berhati-hati menilai peluang tercapainya kesepakatan damai antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama tiga bulan, mengingat rapuhnya gencatan senjata yang tercapai pada April lalu.
Di Amerika Serikat, indeks S&P 500 ditutup naik 0,3% pada perdagangan sebelumnya setelah data aktivitas manufaktur menunjukkan perbaikan.
Indeks PMI manufaktur ISM naik menjadi 54,0 pada Mei dari 52,7 pada April, melampaui ekspektasi pasar dan menjadi level tertinggi dalam empat tahun.
Baca Juga: Impor Server AI dan BBM Melonjak, Defisit Perdagangan Seret Ekonomi Australia
Kenaikan tersebut diduga dipicu oleh perusahaan-perusahaan yang mempercepat pemesanan barang untuk mengantisipasi kenaikan harga dan gangguan pasokan akibat perang Iran.
Pendiri dan Presiden Rosenberg Research David Rosenberg menilai, pasar saham AS masih berada dalam tren yang sangat kuat.
"Pasar ekuitas sedang berada dalam mode booming. S&P 500 telah mencatat kenaikan selama sembilan minggu berturut-turut, sesuatu yang terakhir terjadi pada akhir 2023," tulisnya dalam catatan kepada klien.
Saham AI Tetap Menarik
Di tengah tekanan pasar, saham-saham pemasok teknologi AI di Asia masih memperoleh dukungan sentimen positif setelah perusahaan AI Anthropic mengajukan dokumen penawaran umum perdana saham (IPO) secara rahasia di AS. Valuasi perusahaan tersebut diperkirakan dapat menembus US$ 1 triliun.
Namun, saham Alphabet turun 0,7% dalam perdagangan setelah penutupan pasar. Raksasa teknologi tersebut berencana menghimpun dana sekitar US$ 80 miliar melalui penerbitan saham baru, termasuk investasi dari Berkshire Hathaway, guna memperluas infrastruktur AI.
Baca Juga: Belanja Pemerintah Australia Stagnan, Tak Beri Tambahan Tenaga bagi Ekonomi
Korea Selatan Jadi Sorotan
Pergerakan saham Korea Selatan menjadi salah satu yang paling volatil di kawasan. Indeks KOSPI berayun tajam seiring saham-saham unggulan seperti Samsung Electronics dan SK Hynix berganti arah antara penguatan dan pelemahan.
Selain faktor pasar global, investor juga mencermati data inflasi Korea Selatan yang meningkat ke level tertinggi dalam lebih dari dua tahun pada Mei.
Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa Bank of Korea akan menaikkan suku bunga pada pertemuan berikutnya.
Pekan lalu, bank sentral Korea Selatan telah memberikan sinyal akan beralih ke kebijakan moneter yang lebih ketat guna menekan inflasi dan menopang nilai tukar won yang melemah.
Baca Juga: Harga Emas Stabil ke US$ 4.481 di Tengah Ketidakpastian Negosiasi Damai AS-Iran
Dolar Stabil, Kripto Tertekan
Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia relatif stabil di level 99,21 dan masih bergerak dalam kisaran sempit selama tiga pekan terakhir.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun 2,8 basis poin menjadi 4,447%.
Sementara itu, harga emas spot naik tipis 0,1% menjadi US$ 4.487,53 per ons di tengah perdagangan yang bergejolak.
Di pasar aset digital, harga kripto turun ke level terendah dalam dua bulan. Bitcoin melemah 1,7% ke US$ 70.174,13, sedangkan Ethereum (ether) turun 1,9% menjadi US$ 1.964,90.













