Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - LONDON. Harga minyak mentah jenis Brent melonjak 10% dan berada di kisaran level US$ 80 per barel di pasar over-the-counter pada Minggu (1/3/2026), kata para pedagang minyak.
Para analis pun memperkirakan harga minyak bisa naik hingga US$ 100 setelah serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran yang membuat Timur Tengah terjerumus ke dalam perang baru.
"Meskipun serangan militer itu sendiri mendukung harga minyak, faktor kuncinya adalah penutupan Selat Hormuz," kata Ajay Parmar, direktur energi dan penyulingan di ICIS.
Sebagian besar pemilik kapal tanker, perusahaan minyak besar, dan perusahaan perdagangan telah menangguhkan pengiriman minyak mentah, bahan bakar, dan gas alam cair melalui Selat Hormuz, kata sumber perdagangan.
Baca Juga: OPEC+ Naikkan Produksi 206.000 Bph di Tengah Gangguan Pasokan Akibat Konflik Iran
Hal tersebut terjadi setelah Teheran memperingatkan kapal-kapal untuk tidak melewati jalur air tersebut. Padahal, lebih dari 20% minyak global diangkut melalui Selat Hormuz.
"Kami memperkirakan harga akan dibuka (setelah akhir pekan) jauh lebih dekat ke US$ 100 per barel dan mungkin melebihi level itu jika kita melihat penutupan Selat yang berkepanjangan," kata Parmar.
Para pemimpin Timur Tengah juga memperingatkan Washington bahwa perang melawan Iran dapat menyebabkan harga minyak melonjak hingga lebih dari US$ 100 per barel, kata analis RBC, Helima Croft. Analis Barclays juga mengatakan, harga minyak bisa mencapai US$ 100.
Sementara itu, kelompok produsen minyak OPEC+ sepakat pada hari Minggu untuk meningkatkan produksi sebesar 206.000 barel per hari (bpd) mulai April 2026, peningkatan kecil yang mewakili kurang dari 0,2% dari permintaan global.
Meskipun beberapa infrastruktur alternatif dapat digunakan untuk menghindari Selat Hormuz, dampak bersih dari penutupannya akan mengakibatkan hilangnya pasokan minyak mentah sebesar 8 juta hingga 10 juta bpd bahkan setelah mengalihkan sebagian aliran melalui pipa Timur-Barat Arab Saudi dan pipa Abu Dhabi, kata ekonom energi Rystad, Jorge Leon.
Baca Juga: Pasokan Energi Dunia Terancam: Selat Hormuz Ditutup Iran, Harga Gas Melonjak
Rystad memperkirakan, harga minyak akan naik sebesar US$ 20 menjadi sekitar US$ 92 per barel saat perdagangan dibuka di awal pekan.
Krisis Iran juga mendorong pemerintah Asia dan perusahaan penyulingan untuk mengevaluasi persediaan minyak dan rute serta pasokan pengiriman alternatif.













