Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Presiden FIFA Gianni Infantino dijadwalkan menggelar rapat darurat dengan para petinggi FIFA di Maroko pada Rabu (5/8/2026) waktu setempat. Pertemuan tersebut dilakukan di tengah krisis yang mengguncang kepemimpinannya setelah gagalnya rencana penjualan sebagian hak komersial Piala Dunia.
Infantino menghadapi gelombang kritik tajam, termasuk serangan secara pribadi, sejak pekan lalu mengajukan pembentukan badan baru yang akan mengelola hak komersial FIFA kepada 211 asosiasi anggota.
Rencana tersebut mencakup penjualan 20% saham badan baru itu kepada investor swasta guna menghimpun dana sebesar US$ 4,2 miliar. Namun, proposal tersebut menuai kontroversi, termasuk karena keterlibatan sebuah perusahaan yang memiliki hubungan keluarga dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Meski Infantino menarik kembali proposal itu pada Jumat (31/7/2026), langkah tersebut belum mampu meredakan kritik, terutama dari Konfederasi Sepak Bola Eropa (UEFA).
UEFA bahkan menuduh Infantino telah "menjual jiwa sepak bola" dan menyatakan tidak lagi memiliki kepercayaan terhadap kepemimpinannya.
Baca Juga: Harga Emas Naik Lebih dari 2% ke Level Tertinggi dalam Sebulan
Situasi tersebut membayangi peluang Infantino untuk kembali terpilih sebagai Presiden FIFA untuk masa jabatan keempat dalam Kongres FIFA yang akan digelar di Maroko pada Maret tahun depan. Padahal, dua bulan lalu pencalonannya dipandang hampir pasti tanpa perlawanan berarti.
Sejumlah federasi sepak bola Eropa telah menarik dukungan terhadap pria berkewarganegaraan Swiss-Italia tersebut. Kondisi itu diperburuk oleh sinyal ketidakpuasan yang muncul dari kalangan internal FIFA sendiri.
Sekretaris Jenderal FIFA Mattias Grafstrom, menurut dua sumber Reuters, mengirimkan memo internal kepada para staf yang menyesalkan "rangkaian peristiwa yang menyedihkan dan patut disesalkan" hingga menyebabkan proyek tersebut "ditinggalkan secara permanen."
"Individu, masa-masa yang tidak stabil, dan berbagai peristiwa yang tidak menguntungkan akan datang dan pergi. Namun institusi ini, misinya, serta tanggung jawabnya terhadap sepak bola dunia akan terus berlanjut," tulis Grafstrom dalam surat tersebut tanpa menyebut nama Infantino secara langsung.
Pernyataan itu sejalan dengan komentar Chief Operating Officer FIFA Kevin Lamour pekan lalu yang mengatakan para staf telah "dikelabui" oleh rencana tersebut, yang menurutnya merupakan "proyek satu orang."
Sementara itu, penasihat senior Infantino, Carlos Cordeiro, mengundurkan diri sebagai bentuk protes terhadap proposal tersebut. Mantan pelatih Arsenal, Arsene Wenger, yang kini menjabat Kepala Pengembangan Sepak Bola Global FIFA, juga mengambil jarak dari rencana tersebut.
Pada Selasa (4/8), Wenger menegaskan dirinya tidak terlibat dalam penyusunan proposal tersebut dan menyebut keputusan untuk membatalkannya "benar-benar diperlukan."
Fokus Menjaga Posisi Hingga Pemilu FIFA
Infantino telah berada di Maroko selama sepekan terakhir. Negara tersebut akan menjadi salah satu tuan rumah Piala Dunia 2030 dan federasi sepak bolanya telah menyatakan tetap mendukung Infantino.
Baca Juga: Honda Naikkan Proyeksi Laba 30% Setelah Kinerja Kuartalan Melonjak
Agenda utama rapat yang digelar di kantor FIFA untuk Afrika di Sale, dekat ibu kota Rabat, diperkirakan akan berfokus pada upaya memastikan Infantino tetap bertahan hingga pemilihan Presiden FIFA pada Maret mendatang.
Berdasarkan aturan FIFA, Kongres Luar Biasa dapat digelar apabila sedikitnya 43 asosiasi anggota mengajukan permintaan resmi secara tertulis.
Menurut laporan The Times London pada Senin (3/8), UEFA, CONCACAF, dan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) disebut bertekad menyingkirkan Infantino dari jabatannya dengan melumpuhkan FIFA, bahkan mempertimbangkan membentuk kompetisi mereka sendiri jika Infantino menolak mundur.
Hingga kini, CONCACAF, AFC, dan FIFA belum memberikan tanggapan atas laporan tersebut. Sementara UEFA memilih tidak berkomentar.
Meski demikian, tidak semua anggota AFC mengikuti sikap konfederasinya. Qatar, Kuwait, Lebanon, Sri Lanka, dan Indonesia telah menyatakan tetap mendukung Infantino.
Selama ini Infantino memang dikenal memiliki dukungan kuat dari negara-negara di luar kekuatan tradisional sepak bola dunia, terutama asosiasi yang memiliki keterbatasan pendanaan dan bergantung pada bantuan finansial FIFA.
Kepada asosiasi-asosiasi tersebut, proposal badan hak komersial itu ditawarkan dengan janji pembagian dividen sebesar US$ 20 juta hingga US$ 40 juta bagi setiap asosiasi nasional yang mendukung rencana tersebut mulai awal tahun depan.
Dukungan Afrika Jadi Penentu
Sejumlah administrator sepak bola Afrika juga telah menyampaikan dukungan kepada Infantino. Namun, hingga kini Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) belum menentukan sikap resminya.
Sementara itu, komite eksekutif Konfederasi Sepak Bola Oseania (OFC) dijadwalkan bertemu pekan depan untuk membahas posisi mereka.
Ketua Federasi Sepak Bola Selandia Baru, Andrew Pragnell, mengatakan dinamika politik FIFA dalam beberapa pekan mendatang akan sangat menentukan.
"Saya pikir beberapa pekan ke depan akan menjadi periode yang sangat menarik bagi komunitas sepak bola internasional. Sangat penting bagi negara seperti Selandia Baru untuk terus berkoordinasi dengan konfederasinya. Akan lebih baik jika semua bertindak secara selaras," ujar Pragnell kepada Reuters.
Baca Juga: Yen Melemah, Honda Kerek Proyeksi Laba Operasional Tahunan
Dalam sistem pemungutan suara FIFA, setiap asosiasi anggota memiliki satu suara yang nilainya sama. Artinya, suara San Marino—yang tim nasional putranya berada di peringkat ke-211 atau terbawah dunia—memiliki bobot yang sama dengan negara juara dunia seperti Brasil, Jerman, Argentina, maupun Spanyol.
Meski tengah diterpa krisis, salah satu keuntungan bagi Infantino adalah belum munculnya kandidat kuat yang siap menantangnya dalam pemilihan Presiden FIFA pada Maret mendatang.
Presiden Federasi Sepak Bola Yordania, Pangeran Ali bin Hussein, yang pernah dua kali mencalonkan diri sebagai Presiden FIFA, kembali melontarkan kritik keras terhadap organisasi tersebut.
Pada Selasa, ia menuduh FIFA melakukan "pemerasan" dengan menawarkan bantuan untuk menyelesaikan berbagai persoalan sebagai imbalan atas dukungan terhadap Infantino.
"Kami tidak mendukungnya sebelumnya dan tentu saja tidak akan mendukungnya sekarang," tulis Pangeran Ali melalui media sosialnya.
Reuters telah menghubungi FIFA untuk meminta tanggapan terkait tuduhan tersebut, namun belum memperoleh respons.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
