Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - YUMA. Militer Amerika Serikat (AS) tengah menguji teknologi penangkal drone di kawasan perbatasan AS-Meksiko. Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat pertahanan menghadapi meningkatnya penggunaan drone oleh kartel sekaligus mempelajari inovasi teknologi militer yang berkembang pesat dalam perang Rusia-Ukraina.
Pengujian teknologi tersebut dilakukan dalam latihan Falcon Peak yang digelar oleh US Northern Command di Arizona pada September lalu. Dalam latihan itu, para tentara menyaksikan demonstrasi dari sejumlah perusahaan pertahanan yang menampilkan teknologi radar, drone pencegat, sistem senjata otomatis, serta perangkat lain untuk mendeteksi, melacak, dan menghancurkan pesawat nirawak berukuran kecil.
Pejabat Angkatan Darat AS mengatakan drone yang melintasi perbatasan selatan umumnya merupakan perangkat komersial yang tersedia di pasaran. Teknologi tersebut kemudian digunakan oleh kelompok kriminal untuk melakukan pengawasan yang berkaitan dengan aktivitas penyelundupan dan perdagangan manusia.
Brigadir Jenderal Brian Filler, wakil komandan operasi di Joint Task Force Southern Border, mengatakan militer AS mendeteksi ratusan penerbangan drone di wilayah perbatasan dalam sebulan terakhir.
"Kami sebagian besar melihat drone komersial yang tersedia secara umum," kata Filler kepada wartawan.
Baca Juga: Penjualan Mobil Listrik Eropa Cetak Rekor, Naik 45% hingga Agustus 2026
Menurut dia, sebagian besar drone tersebut dilengkapi kamera pengawasan dan kerap terlihat bersamaan dengan aktivitas pergerakan orang melintasi perbatasan.
Militer AS sebelumnya mengatakan telah menembak jatuh 11 drone milik kartel menggunakan teknologi laser sejak teknologi tersebut dikerahkan di sepanjang perbatasan selatan pada Agustus.
Belajar dari perang Ukraina
Pengembangan sistem antidrone menjadi perhatian militer AS seiring meningkatnya peran drone dalam perang Ukraina. Konflik tersebut telah mengubah cara pertempuran berlangsung sekaligus mendorong inovasi secara cepat, baik dalam teknologi ofensif maupun sistem pertahanan.
Pejabat militer AS menegaskan bahwa drone yang dioperasikan kartel tidak dapat dibandingkan dengan sistem drone canggih yang digunakan dalam pertempuran di Ukraina maupun Timur Tengah.
Meski demikian, kawasan perbatasan dinilai menyediakan lingkungan operasional yang berharga bagi militer untuk menguji peralatan, melatih personel, serta mengevaluasi kinerja teknologi di luar kondisi laboratorium yang terkontrol.
Latihan Falcon Peak juga menunjukkan semakin besarnya perhatian Pentagon terhadap perusahaan teknologi pertahanan yang mendapatkan pendanaan dari investor modal ventura.
Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, investor telah menggelontorkan miliaran dolar ke sejumlah perusahaan teknologi pertahanan, termasuk Anduril, Shield AI, Saronic, serta berbagai perusahaan rintisan yang mengembangkan drone dan teknologi antidrone untuk mendapatkan kontrak militer.
Dalam demonstrasi tersebut, drone Ghost buatan Anduril turut ditampilkan. Selain itu, terdapat sistem deteksi berbasis radar dan kamera produksi Teledyne FLIR, senapan mesin otomatis antidrone "Bullfrog" buatan Allen Control Systems, serta drone pencegat yang dijual Powerus.
Baca Juga: Harga Minyak Stabil Seiring Naiknya Ekspor Timur Tengah & Rencana G7 Melepas Cadangan
Powerus melantai di bursa pada Kamis setelah melakukan merger dengan sebuah perusahaan yang didukung oleh putra-putra Presiden AS Donald Trump.
AS ingin meniru inovasi cepat Ukraina
Salah satu tujuan latihan tersebut adalah meniru siklus pengembangan teknologi yang berlangsung cepat di Ukraina. Perkembangan teknologi perang di Ukraina membuat sistem persenjataan dan pertahanan dapat dimodifikasi serta disesuaikan dalam waktu relatif singkat berdasarkan kebutuhan di medan perang.
Brigadir Jenderal Matt Ross mengatakan militer AS mengagumi kemampuan Ukraina dalam melakukan adaptasi teknologi secara cepat.
"Kami cenderung melihat Ukraina dan mengatakan, 'Saya sangat terkesan dengan seberapa cepat mereka dapat beradaptasi dari hari ke hari atau minggu ke minggu,'" kata Ross kepada wartawan.
"Yang sebenarnya harus kami lakukan adalah meniru proses tersebut," tambahnya.
Dengan pengujian teknologi antidrone di perbatasan AS-Meksiko, militer AS tidak hanya berupaya menghadapi ancaman drone yang digunakan kelompok kriminal, tetapi juga menjadikan kawasan tersebut sebagai lokasi pengembangan dan pengujian teknologi pertahanan generasi baru.














