Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Krisis yang melanda FIFA semakin dalam setelah proposal Presiden FIFA Gianni Infantino untuk menjual sebagian kepemilikan komersial Piala Dunia resmi dibatalkan.
Penolakan terhadap rencana tersebut memicu gelombang kritik dari sejumlah petinggi sepak bola dunia, memudarnya dukungan dari berbagai federasi nasional, hingga munculnya tuntutan reformasi di tubuh organisasi sepak bola terbesar dunia itu.
Proposal kontroversial tersebut sebelumnya bertujuan mengumpulkan dana sebesar US$ 4,2 miliar melalui pembentukan badan baru yang mengelola hak-hak komersial Piala Dunia. Jika terealisasi, langkah itu akan menjadi kali pertama investor swasta masuk ke bisnis komersial turnamen sepak bola paling bergengsi di dunia.
Namun, setelah tiga hari gejolak internal yang belum pernah terjadi sebelumnya, Infantino pada Jumat (31/7/2026) malam memutuskan menarik proposal tersebut sekaligus meminta maaf karena rencana itu telah memecah belah komunitas sepak bola global.
Baca Juga: Qantas Lepas Saham di Jetstar Japan, Maskapai LCC Ini Bersiap Ganti Nama
Meski demikian, keputusan tersebut belum mampu meredakan krisis. Posisi politik Infantino yang selama ini dianggap sangat kuat di FIFA kini dinilai mulai terguncang.
Sekjen FIFA Sebut Situasi Memprihatinkan
Menurut dua sumber yang mengetahui isi komunikasi internal FIFA, Sekretaris Jenderal FIFA Mattias Grafstrom mengirimkan surat kepada seluruh staf yang menyesalkan kegagalan proyek tersebut.
Dalam surat itu, Grafstrom menyebut peristiwa tersebut sebagai "rangkaian kejadian yang menyedihkan dan patut disesalkan" yang berujung pada "penghentian permanen" proyek tersebut.
"Kita semua telah terseret ke dalam situasi yang penuh gejolak, yang sulit dipahami dan diterima," tulis Grafstrom tanpa menyebut nama Gianni Infantino.
Ia kemudian mengajak seluruh pegawai FIFA tetap fokus pada misi organisasi.
"Namun, sebagai Sekretaris Jenderal, saya mengajak Anda semua untuk tetap fokus pada apa yang selalu menyatukan kita, yaitu melayani sepak bola dan melayani 211 asosiasi anggota FIFA, bekerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan yang relevan serta sepenuhnya mematuhi Statuta dan Regulasi FIFA," ujarnya.
"Individu, masa-masa yang tidak stabil, dan berbagai peristiwa yang tidak menguntungkan akan datang dan pergi. Namun institusi, misi, dan tanggung jawab terhadap sepak bola dunia akan terus berlanjut. Karena itu, kita harus selalu menjaga profesionalisme, perspektif yang jernih, dan ketenangan," tambahnya.
Arsene Wenger Tegaskan Tidak Terlibat
Kepala Pengembangan Sepak Bola Global FIFA sekaligus penasihat teknis badan pembuat aturan sepak bola IFAB, Arsene Wenger, menegaskan dirinya sama sekali tidak terlibat dalam penyusunan proposal tersebut.
Ia bahkan mengaku baru mengetahui rencana itu melalui pemberitaan media. "Keputusan untuk menarik proyek tersebut mutlak diperlukan dan tidak dapat diperdebatkan, karena saya sangat meyakini FIFA yang independen harus melayani sepak bola dengan komitmen, transparansi, dan integritas," ujar Wenger.
Baca Juga: SpaceX Bidik Uji Terbang Starship Akhir Agustus, Siap Uji Pendaratan Perdana di Darat
Sementara itu, penasihat senior Infantino, Carlos Cordeiro, juga mengundurkan diri pekan lalu setelah secara tegas menolak proposal tersebut.
Di tengah krisis yang terus berkembang, Infantino dikabarkan memanggil jajaran pejabat senior FIFA untuk menghadiri pertemuan di Rabat, Maroko, guna membahas langkah penyelamatan organisasi.
Presiden Federasi Yordania Tuding FIFA Lakukan Pemerasan
Situasi semakin memanas setelah Presiden Federasi Sepak Bola Yordania (Jordan FA), Ali bin Hussein, menuduh FIFA melakukan pemerasan.
Melalui akun X miliknya, Ali bin Hussein mengklaim FIFA menawarkan bantuan untuk menyelesaikan berbagai persoalan di Yordania sebagai imbalan atas dukungan terhadap pencalonan kembali Infantino.
"Kami di Yordania bangga menjunjung tinggi nilai-nilai etika. Kami tidak mendukung dia (Infantino) sebelumnya dan tentu tidak akan mendukungnya sekarang."
"Seluruh situasi ini merupakan bentuk pemerasan dan kami menolak untuk tunduk," tambahnya.
Reuters telah menghubungi FIFA untuk meminta tanggapan atas tuduhan tersebut, namun belum memperoleh respons.
Dukungan dari Berbagai Federasi Terus Berkurang
Sejumlah federasi sepak bola nasional mulai menarik dukungan terhadap Infantino.
Federasi Sepak Bola Jerman menyatakan tidak mendukung pencalonan kembali Infantino. Federasi Belanda juga memastikan tidak akan memilihnya pada pemilihan presiden FIFA berikutnya.
Lima asosiasi nasional Eropa, termasuk Federasi Sepak Bola Inggris (FA), secara resmi telah mencabut dukungan mereka terhadap pencalonan kembali Infantino dalam Kongres FIFA yang dijadwalkan berlangsung di Maroko pada Maret mendatang.
Sementara itu, Federasi Denmark menyatakan sejak awal memang tidak berniat memberikan suara kepada Infantino.
Di sisi lain, beberapa negara tetap memberikan dukungan, antara lain Qatar, Kuwait, Lebanon, Sri Lanka, dan Maroko yang menjadi salah satu tuan rumah Piala Dunia 2030.
Asosiasi Sepak Bola Indonesia (PSSI) pada Selasa (4/8) juga menyatakan dukungan kepada Infantino melalui pernyataan resmi yang memuji "komitmen berkelanjutan Infantino dalam memperkuat persatuan komunitas sepak bola global."
Baca Juga: Pendapatan SpaceX Melonjak Hampir Dua Kali Lipat, Starlink dan AI Jadi Andalan
Infantino bahkan turut membagikan berbagai pernyataan dukungan tersebut melalui akun Instagram pribadinya.
FIFA juga membantah laporan media yang menyebut Infantino meminta dukungan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mempertahankan jabatannya. Organisasi itu menyebut laporan tersebut sebagai "sepenuhnya fiksi."
UEFA, CONCACAF, dan AFC Kehilangan Kepercayaan
Meski jumlah federasi yang secara terbuka menyatakan sikap masih relatif kecil dibanding total 211 anggota FIFA, proposal kontroversial tersebut dinilai telah merusak hubungan Infantino dengan banyak pemangku kepentingan penting.
Konfederasi Sepak Bola Eropa (UEFA) dan Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (CONCACAF) pada Sabtu lalu mengeluarkan pernyataan keras yang menyatakan mereka telah kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan Infantino.
Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), yang selama ini dikenal sebagai salah satu pendukung utama FIFA, memang tidak sampai meminta Infantino mundur. Namun AFC menyebut minimnya konsultasi terkait proposal tersebut sebagai tindakan yang "sama sekali tidak dapat diterima."
AFC juga menyerukan reformasi kelembagaan di FIFA.
Laporan media Inggris bahkan menyebut UEFA, CONCACAF, dan AFC tengah mempertimbangkan langkah bersama untuk melumpuhkan FIFA, termasuk kemungkinan membentuk kompetisi alternatif apabila Infantino menolak mundur.
Namun hingga kini FIFA, AFC, maupun CONCACAF belum memberikan komentar atas laporan tersebut. UEFA juga memilih tidak memberikan tanggapan.
UEFA telah mengonfirmasi telah mengirim "surat pelestarian dokumen" kepada FIFA agar seluruh dokumen terkait proposal tersebut tidak dimusnahkan, sembari mempertimbangkan kemungkinan menempuh jalur hukum.
Baca Juga: Korea Utara Diduga Kirim Unit Rudal ke Rusia, Ukraina Waspadai Serangan Balistik Baru
Masa Depan Infantino Dipertaruhkan
Dalam jangka pendek, tantangan terbesar Infantino adalah mencegah digelarnya Kongres Luar Biasa FIFA.
Sesuai aturan organisasi, kongres tersebut dapat digelar apabila sedikitnya 43 asosiasi anggota FIFA mengajukan permintaan resmi secara tertulis.
Setelah itu, Infantino memiliki waktu sekitar tujuh bulan untuk memperbaiki hubungan dengan para pendukungnya sekaligus memperkuat posisinya menjelang pemilihan presiden FIFA berikutnya.
Sejak memimpin FIFA pada 2016, Infantino membangun basis dukungan terutama dari asosiasi sepak bola di luar Eropa yang relatif lebih bergantung pada bantuan pendanaan FIFA.
Dalam proposal yang kini dibatalkan tersebut, FIFA bahkan menjanjikan dividen sekitar US$ 20 juta hingga US$ 40 juta kepada setiap asosiasi nasional yang mendukung skema tersebut pada awal tahun depan.
Kini, para penentang Infantino harus mencari kandidat alternatif sebelum batas akhir pencalonan pada 18 November yang mampu menarik dukungan baik dari negara-negara berkembang maupun federasi besar di pusat kekuatan sepak bola dunia.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
