Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. SpaceX membukukan lonjakan pendapatan hampir dua kali lipat pada kuartal II 2026, ditopang pertumbuhan pesat bisnis internet satelit Starlink dan kecerdasan buatan (AI).
Namun, perusahaan antariksa milik Elon Musk itu menegaskan bahwa belanja investasi dalam jumlah besar masih akan berlanjut untuk mendukung ekspansi bisnisnya.
Laporan keuangan yang dirilis pada Selasa (4/8/2026) waktu setempat merupakan laporan laba pertama SpaceX sejak resmi melantai di bursa. Hasil tersebut menjadi ujian awal bagi valuasi perusahaan yang mencapai US$ 1,75 triliun.
SpaceX menargetkan laju pendapatan (revenue run-rate) mencapai US$ 100 miliar pada Desember 2026. Perusahaan juga menjanjikan pengembalian investasi (payback period) kurang dari satu tahun untuk investasi baru di infrastruktur komputasi AI.
Baca Juga: Korea Utara Diduga Kirim Unit Rudal ke Rusia, Ukraina Waspadai Serangan Balistik Baru
Selain itu, SpaceX menargetkan peluncuran sedikitnya 1.000 satelit Starlink generasi terbaru V3 dalam satu tahun ke depan serta mengungkapkan rencana untuk masuk ke bisnis layanan seluler yang selama ini didominasi operator telekomunikasi.
Strategi tersebut memperlihatkan keyakinan perusahaan bahwa keuntungan dari bisnis internet satelit Starlink yang berkembang pesat dapat membiayai ekspansi besar-besaran ke AI, pusat data (data center), dan roket generasi berikutnya hingga lini bisnis tersebut mampu menghasilkan keuntungan secara mandiri.
Meski demikian, manajemen mengakui pembangunan bisnis AI masih membutuhkan investasi yang sangat besar.
"Kami membangun kapasitas komputasi AI dalam skala besar lebih cepat daripada siapa pun, menurut keyakinan kami, dan kami terus meningkatkan kemampuan model AI kami secara signifikan," kata Chief Executive Officer (CEO) SpaceX Elon Musk dalam konferensi setelah pengumuman kinerja keuangan.
Pendapatan Lampaui Ekspektasi
Pada periode April–Juni 2026, SpaceX membukukan pendapatan sebesar US$ 7,8 miliar, melonjak dibandingkan US$ 4,1 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Capaian tersebut melampaui ekspektasi analis Wall Street berdasarkan data LSEG.
Starlink menjadi kontributor terbesar dengan menyumbang lebih dari separuh total pendapatan perusahaan. Pendapatan unit bisnis ini naik 66% secara tahunan.
Sementara itu, pendapatan bisnis AI SpaceX—yang diposisikan Musk sebagai mesin pertumbuhan masa depan perusahaan—melonjak sekitar 250% dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun di sisi lain, belanja modal (capital expenditure/capex) melonjak drastis menjadi lebih dari US$ 18 miliar, dibandingkan US$ 2,83 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Baca Juga: Korea Selatan Hidupkan Lagi Proyek Jalur Kereta ke Arah Korea Utara, Ini Tujuannya
Chief Financial Officer (CFO) SpaceX Bret Johnsen mengatakan belanja modal kemungkinan tetap berada pada level yang sama dalam beberapa kuartal mendatang.
Investasi terbesar diarahkan ke pengembangan AI. Belanja untuk sektor tersebut melonjak menjadi US$ 15,83 miliar pada kuartal II 2026, dari hanya US$ 749 juta setahun sebelumnya.
"Pertanyaan utama pada kuartal pertama SpaceX sebagai perusahaan publik adalah apakah mesin bisnis di balik cerita besar perusahaan ini benar-benar bekerja. Dalam hal itu, Elon Musk dan timnya berhasil menunjukkan sejumlah hasil yang positif," ujar analis Investing.com, Thomas Monteiro.
Meski membukukan kinerja yang kuat, saham SpaceX turun 7,5% pada perdagangan setelah penutupan bursa (after-hours), setelah sebelumnya sempat menguat 9,4% pada perdagangan reguler.
Sejak penawaran umum perdana saham (IPO) pada Juni lalu, saham SpaceX telah melemah sekitar 8%. Tekanan tambahan diperkirakan muncul mulai Kamis ketika periode penguncian saham (lock-up) pasca-IPO berakhir, sehingga memungkinkan investor awal dan orang dalam perusahaan mulai melepas kepemilikan saham mereka.
Starlink Masih Jadi Mesin Keuangan
Bisnis Starlink dan layanan konektivitas SpaceX lainnya tetap menjadi sumber utama pendapatan yang menopang ekspansi AI perusahaan.
Namun sejumlah pengamat menilai strategi menggunakan keuntungan Starlink untuk membiayai pengembangan AI dan program roket Starship belum tentu berkelanjutan dalam jangka panjang.
Meski begitu, kerugian operasional perusahaan menyusut signifikan menjadi US$ 143 juta pada kuartal II 2026 dari US$ 970 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Kerugian operasional unit AI juga mengecil, sedangkan laba operasional Starlink melonjak 79%.
Baca Juga: Trump Klaim Negosiasi AS-Iran Berjalan Baik, Harapan Pembukaan Selat Hormuz Menguat
"Ini merupakan kejutan positif yang luar biasa. Fakta bahwa bisnis AI sudah mulai menghasilkan pendapatan sendiri menunjukkan mereka tidak lagi sepenuhnya bergantung pada keuntungan Starlink untuk membiayai operasinya. Ini menjadi bagian penting dari cerita pertumbuhan perusahaan," kata Chief Market Strategist Zacks Investment Management, Brian Mulberry.
SpaceX Siap Tantang Operator Seluler
Presiden SpaceX Gwynne Shotwell mengatakan Starlink menargetkan merebut "cukup banyak" pelanggan dari operator telekomunikasi besar Amerika Serikat seperti T-Mobile, AT&T, dan Verizon.
Selain mengandalkan jaringan satelit, SpaceX juga akan membangun infrastruktur telekomunikasi berbasis darat untuk menghadirkan layanan seluler yang lebih lengkap.
Pernyataan tersebut membuat saham perusahaan telekomunikasi tersebut melemah pada perdagangan setelah jam bursa.
Jumlah pelanggan Starlink meningkat dua kali lipat menjadi 12 juta pelanggan pada akhir kuartal II 2026.
Namun, rata-rata pendapatan per pelanggan (average revenue per subscriber/ARPU) turun 22% dibandingkan tahun sebelumnya karena ekspansi ke lebih banyak negara serta peluncuran paket layanan dengan harga lebih terjangkau.
AI Jadi Fokus Investasi Terbesar
Bisnis AI SpaceX yang mencakup xAI, chatbot Grok, platform media sosial X, serta jaringan pusat data berskala besar menjadi fokus investasi utama perusahaan.
Unit bisnis tersebut telah memperoleh pendapatan dari kontrak penyediaan komputasi AI kepada Anthropic, Google milik Alphabet, dan Reflection AI. Namun, sebagian pendapatan berulang (recurring revenue) masih belum diakui dalam laporan keuangan.
"SpaceX memperkirakan telah membangun kapasitas komputasi lebih dari dua gigawatt pada tahun ini dan pada akhir tahun depan kapasitas tersebut akan mendekati 10 gigawatt," ujar Musk.
Baca Juga: Bank Sentral India (RBI) Tahan Suku Bunga di 5,25%, Tunggu Kejelasan Arah Inflasi
Perusahaan juga menegaskan seluruh pusat datanya akan dibangun menggunakan perangkat keras Nvidia.
CEO Nvidia Jensen Huang sebelumnya mengatakan setiap satu gigawatt kapasitas komputasi berpotensi menghasilkan pendapatan sekitar US$ 40 miliar hingga US$ 50 miliar.
Pendapatan Bisnis Antariksa Ikut Meningkat
Selain Starlink dan AI, pendapatan bisnis antariksa SpaceX juga meningkat 29% secara tahunan.
Segmen tersebut mencakup peluncuran komersial, misi pemerintah, serta pengembangan roket Starship. Meski demikian, lini bisnis ini masih menjadi sumber biaya yang besar dan menghadapi tingkat ketidakpastian tinggi.
Dalam beberapa tahun terakhir, SpaceX semakin memprioritaskan peluncuran satelit miliknya sendiri dibandingkan muatan dari pelanggan pihak ketiga, sembari terus menanggung biaya besar untuk pengembangan program Starship.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
