Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bank sentral India atau Reserve Bank of India (RBI) mempertahankan suku bunga acuan (repo rate) di level 5,25% dalam rapat kebijakan moneter pada Rabu (5/8/2026).
Keputusan tersebut diambil sambil menunggu kepastian apakah kenaikan harga minyak mulai mendorong tekanan inflasi di negara dengan ekonomi terbesar ketiga di Asia itu.
Baca Juga: Minat Risiko Meningkat, Bursa Asia Menguat dan Rupiah Terapresiasi
Mengutip Reuters, keputusan RBI menjadikan India berbeda dari sejumlah bank sentral di kawasan Asia, seperti Indonesia dan Filipina, yang telah memperketat kebijakan moneter sebagai respons terhadap tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi dan volatilitas nilai tukar yang dipicu konflik geopolitik.
Pada pertemuan sebelumnya, RBI memilih mengambil langkah untuk mendorong arus masuk modal asing dan menopang nilai tukar rupee, alih-alih menaikkan suku bunga.
Keputusan mempertahankan suku bunga diambil secara bulat oleh enam anggota Komite Kebijakan Moneter (Monetary Policy Committee/MPC). Komite juga mempertahankan sikap kebijakan moneter pada posisi netral (neutral).
Hasil tersebut sejalan dengan ekspektasi pasar. Sebanyak 68 dari 72 ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan RBI akan mempertahankan suku bunga acuannya.
Baca Juga: EPL Jadi Mesin Ekonomi Inggris, Diproyeksikan Sumbang Rp796 Triliun hingga 2028
Gubernur RBI Sanjay Malhotra mengatakan, inflasi utama memang telah bergerak di atas target bank sentral, terutama akibat kenaikan harga bahan bakar. Namun, tekanan inflasi yang lebih luas masih relatif terkendali.
Malhotra menegaskan, RBI tidak akan terburu-buru mengubah arah kebijakan hingga terdapat gambaran yang lebih jelas mengenai prospek inflasi. Menurutnya, bank sentral tetap berkomitmen menjaga inflasi sesuai target.
Setelah pengumuman kebijakan, imbal hasil obligasi pemerintah India tenor 10 tahun relatif stabil di level 6,7765%, sementara nilai tukar rupee melemah tipis ke 95,03 per dolar AS. Indeks Nifty 50 bergerak mendatar, sedangkan BSE Sensex menguat 0,5%.
RBI juga merevisi turun proyeksi rata-rata inflasi pada tahun fiskal berjalan menjadi 5%, dari sebelumnya 5,1%. Sementara itu, proyeksi inflasi inti (core inflation), yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi, dipangkas menjadi 4,3% dari 4,7%.
Baca Juga: Telegram Sempat Hilang dari App Store, Ini Penjelasan Apple dan Durov
Inflasi ritel India pada Juni memang kembali melampaui target jangka menengah RBI sebesar 4% untuk pertama kalinya dalam 17 bulan.
Meski demikian, inflasi diperkirakan masih berada dalam kisaran toleransi bank sentral sebesar 2%–6% sepanjang tahun fiskal ini.
Di sisi lain, RBI menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi India menjadi 6,7% pada tahun fiskal berjalan, sedikit lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 6,6%.
Malhotra menilai permintaan domestik masih cukup kuat. Namun, ia mengingatkan bahwa lemahnya musim hujan, ketidakpastian perdagangan global, serta risiko geopolitik tetap menjadi tantangan bagi prospek pertumbuhan ekonomi India.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
