Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia melonjak sekitar 3% pada perdagangan Kamis (21/5/2026) setelah laporan Reuters mengungkap Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei memerintahkan agar stok uranium Iran dengan tingkat pengayaan mendekati senjata tidak dikirim ke luar negeri.
Langkah tersebut meredupkan harapan tercapainya kesepakatan damai cepat antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran, sekaligus meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.
Baca Juga: UPDATE - Harga Emas Dunia Turun Kamis (21/5), Tertekan Lonjakan Harga Minyak
Melansir Reuters, harga minyak mentah Brent naik US$ 3,07 atau 2,9% menjadi US$ 108,09 per barel pada pukul 11.12 EDT.
Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melonjak US$ 3,52 atau 3,6% ke level US$ 101,78 per barel. Sebelumnya, kedua kontrak sempat bergerak melemah sebelum laporan Reuters dirilis.
Laporan tersebut menyebut Iran memperkeras sikap terhadap salah satu tuntutan utama AS dalam negosiasi damai.
Instruksi Khamenei dinilai dapat mempersulit perundingan sekaligus menghambat upaya Presiden AS Donald Trump mengakhiri perang AS-Israel melawan Iran.
Perkembangan ini terjadi sehari setelah Iran mengumumkan pembentukan “Persian Gulf Strait Authority” yang akan mengawasi “zona maritim terkendali” di Selat Hormuz.
Baca Juga: The Fed Bahas Perpanjangan Jalur Swap Dolar
Pergerakan harga minyak juga berlangsung volatil. Kenaikan harga sempat semakin tajam setelah Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan rencana sistem tarif di Selat Hormuz akan membuat kesepakatan diplomatik semakin sulit tercapai.
Namun, harga kemudian memangkas sebagian kenaikan setelah Rubio mengatakan pejabat Pakistan akan berkunjung ke Iran untuk membantu proses mediasi.
Pakistan sendiri meningkatkan upaya diplomatik guna mempercepat pembicaraan damai AS-Iran, sementara Teheran mengaku masih meninjau respons terbaru dari Washington.
Trump menyatakan AS masih bersedia menunggu beberapa hari untuk mendapatkan “jawaban yang tepat” dari Iran, tetapi juga membuka kemungkinan melanjutkan serangan militer.
Baca Juga: OPEC+ Bersiap Tambah Produksi 188.000 Barel per Hari pada Juli 2026
Analis ING menilai, situasi ini berulang kali terjadi dan kerap berujung pada kegagalan negosiasi. Mereka tetap mempertahankan proyeksi rata-rata harga Brent di level US$ 104 per barel pada kuartal berjalan.
Secara terpisah, UBS menaikkan proyeksi harga minyak sebesar US$ 10 per barel. Bank tersebut kini memperkirakan Brent mencapai US$ 105 per barel dan WTI sebesar US$ 97 per barel pada September mendatang.
Iran juga memperingatkan akan membalas setiap serangan lanjutan dan memperkuat kontrol atas Selat Hormuz yang hingga kini masih sebagian besar tertutup. Sebelum perang pecah, jalur tersebut mengalirkan sekitar 20% konsumsi minyak dan gas alam cair global.
Di sisi lain, aktivitas ekonomi zona euro tercatat mengalami kontraksi terdalam dalam lebih dari dua setengah tahun pada Mei akibat lonjakan biaya hidup terkait perang yang menekan permintaan jasa dan memicu pemutusan hubungan kerja.
Baca Juga: Google, Meta, dan TikTok Digugat Uni Eropa terkait Iklan Penipuan Finansial
Reuters juga melaporkan tujuh negara produsen utama OPEC+ kemungkinan akan menyetujui kenaikan moderat produksi minyak pada Juli saat pertemuan 7 Juni mendatang.
Namun, keputusan itu belum banyak memengaruhi pasar karena gangguan pasokan akibat perang Iran masih membayangi.
Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA) Fatih Birol memperingatkan, kombinasi musim puncak permintaan bahan bakar, minimnya ekspor baru dari Timur Tengah, dan terus menipisnya stok minyak global dapat mendorong pasar minyak masuk ke “zona merah” pada Juli hingga Agustus.
Sementara itu, CEO Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) Sultan Al Jaber mengatakan, arus penuh minyak melalui Selat Hormuz kemungkinan baru pulih pada kuartal pertama atau kedua 2027 meskipun konflik Timur Tengah berakhir saat ini.
Baca Juga: Broker Kripto Blockchain.com Bersiap Melantai di Bursa Amerika Serikat
Iran diketahui secara efektif menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan AS dan Israel sejak 28 Februari lalu.
Meski sebagian besar pertempuran berhenti sejak gencatan senjata April, Iran masih membatasi lalu lintas di Hormuz sementara AS memblokade garis pantai Iran.
Gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah juga memaksa banyak negara menguras cadangan minyak komersial maupun strategis mereka.
Administrasi Informasi Energi AS (EIA) melaporkan AS menarik hampir 10 juta barel minyak dari cadangan strategisnya pekan lalu, menjadi penurunan terbesar dalam sejarah. Stok minyak mentah AS juga turun lebih besar dari perkiraan pasar.













