Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) pada hari Jumat (5/6/2026) mengumumkan bahwa mereka telah menjatuhkan sanksi baru terhadap jaringan individu, entitas, dan kapal tanker yang kedapatan menyelundupkan gas minyak cair (Liquefied Petroleum Gas/LPG) asal Iran.
Melansir Reuters, jaringan tersebut menyamarkan muatan mereka sebagai LPG dari Oman untuk dikirim ke kawasan Asia Selatan dan Asia Timur.
Baca Juga: UPDATE-Harga Emas Dunia Ambles Lebih dari 2% Akibat Lonjakan Data Lapangan Kerja AS
Pemerintahan Presiden Donald Trump memang gencar menambah daftar sanksi baru yang berkaitan dengan Iran.
Langkah ini diambil guna meningkatkan tekanan terhadap Teheran, bahkan di saat kedua belah pihak sebenarnya tengah terlibat dalam proses negosiasi untuk menyelesaikan konflik mereka.
Berdasarkan rincian yang dirilis di situs resmi Departemen Keuangan AS, target sanksi terbaru ini mencakup 12 entitas bisnis.
Dari jumlah tersebut, lima entitas berbasis di Kepulauan Marshall, empat di Uni Emirat Arab (UEA), dan satu di China.
Selain itu, enam kapal tanker pembawa LPG juga masuk dalam daftar hitam, termasuk empat kapal yang mengibarkan bendera Panama.
Baca Juga: Reid Hoffman, Co-Founder LinkedIn, Mundur dari Dewan Direksi Microsoft
Dalam sebuah pernyataan resmi, Departemen Keuangan AS menuduh jaringan ini memanfaatkan perusahaan-perusahaan cangkang (front companies) di UEA dan China, serta rekening bank luar negeri untuk memindahkan jutaan barel LPG asal Iran.
Taktik menyembunyikan asal-usul komoditas ini sengaja dilakukan demi menghindari sanksi ekonomi berlapis yang dijatuhkan oleh AS.
"Departemen Keuangan akan terus memutus dan melumpuhkan armada bayangan (shadow fleet) Iran, jaringan perbankan bayangan, serta akses mereka ke perdagangan global," tegas Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, dalam pernyataan tersebut.
Selain menyasar komoditas energi, pemerintah AS juga menjatuhkan sanksi tegas terhadap perusahaan penukaran uang (exchange house) asal Iran, Mehrdad Geramian Nik and Partners Co, beserta jajaran pimpinannya.
Baca Juga: Data Pekerjaan AS Memanas: Ujian Berat Menanti Kevin Warsh di Rapat Perdana The Fed
Mereka dituduh telah memindahkan mata uang asing senilai ratusan juta dolar AS atas nama bank-bank Iran yang sebelumnya sudah masuk dalam daftar sanksi.













