Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga emas dunia merosot lebih dari 2% pada perdagangan hari Jumat (5/6/2026.
Penurunan tajam ini terjadi setelah rilis laporan lapangan kerja AS yang jauh lebih kuat dari perkiraan, sehingga memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama di tengah kekhawatiran inflasi yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah.
Baca Juga: Reid Hoffman, Co-Founder LinkedIn, Mundur dari Dewan Direksi Microsoft
Melansir Reuters di pasar spot, harga emas ambles 2,4% ke level US$4.365,93 per ons troi pada pukul 10.15 waktu setempat (EDT), mencatatkan akumulasi penurunan sekitar 3,8% sepanjang pekan ini. Logam mulia ini bahkan sempat menyentuh level terendahnya sejak 26 Maret pada awal sesi perdagangan.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus ditutup melemah 2,5% di level $4.390,70.
Berdasarkan laporan Biro Statistik Tenaga Kerja Departemen Tenaga Kerja AS, nonfarm payrolls (lapangan kerja di luar sektor pertanian) melonjak sebanyak 172.000 pekerjaan pada bulan Mei.
Angka ini menyusul pertumbuhan bulan April yang direvisi naik menjadi 179.000 pekerjaan.
Baca Juga: Gebrakan Energi India: Rilis Bahan Bakar E85, Diklaim Lebih Hemat 20 Rupee Per Liter
Hasil ini jauh melampaui jajak pendapat Reuters yang memproyeksikan pertumbuhan hanya sebesar 85.000 pekerjaan.
"Kita melihat data ketenagakerjaan yang masuk tumbuh sangat signifikan di atas perkiraan," kata Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas Global di TD Securities.
"Mengingat fakta bahwa perang di Iran masih berlanjut, ditambah tingginya harga energi dan tekanan inflasi, sangat kecil kemungkinan The Fed berniat menurunkan suku bunga.
Implikasinya bagi emas adalah biaya oportunitas (cost of carry) menjadi sangat tinggi," tambahnya.
Baca Juga: Data Pekerjaan AS Memanas: Ujian Berat Menanti Kevin Warsh di Rapat Perdana The Fed
Imbas Kenaikan Yield Obligasi dan Tekanan Geopolitik
Menyusul rilis data ketenagakerjaan tersebut, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) langsung melonjak tajam.
Kondisi ini meningkatkan biaya oportunitas bagi investor dalam memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas.
Di sisi lain, harga minyak mentah jenis Brent berada di jalur penguatan mingguan. Secara akumulatif, harga emas telah rontok lebih dari 17% sejak perang yang melibatkan AS dan Iran meletus pada akhir Februari lalu.
Konflik geopolitik ini memicu lonjakan harga minyak bumi, yang pada gilirannya mengembuskan kekhawatiran inflasi dan memaksa suku bunga tetap tinggi.
Baca Juga: WTO: Pertumbuhan Perdagangan Barang Global Mulai Melambat pada 2026
Meskipun emas secara tradisional dianggap sebagai aset lindung nilai (inflation hedge) terhadap inflasi, sifat suku bunga yang tinggi cenderung menjadi beban berat bagi pergerakan harganya.
Berdasarkan perangkat CME FedWatch, pelaku pasar kini bertaruh adanya peluang sebesar 68% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada bulan Desember, melonjak dari perkiraan sebelumnya yang hanya berada di kisaran 50%.
Dari pasar fisik, permintaan emas di India dilaporkan masih lesu sepanjang pekan ini, sementara nilai premi emas di pasar China juga mulai melandai.
Baca Juga: Iran Peringatkan Israel Keluar dari Lebanon, Negosiasi Damai Terancam Mandek
Logam Mulia Lainnya Ikut Bertumbangan
Merosotnya harga emas turut menyeret turun performa logam mulia lainnya di pasar spot:
- Perak anjlok paling dalam sebesar 6,1% ke level US$69,34 per ons troi.
- Platinum merosot 3,2% ke level US$1.839,40.
- Paladium tergelincir 1,9% ke level US$1.295,75.
Ketiga komoditas logam tersebut kompak menutup pekan ini dengan akumulasi kerugian yang cukup besar.













