kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.679.000   50.000   1,90%
  • USD/IDR 17.935   -4,00   -0,02%
  • IDX 6.388   44,77   0,71%
  • KOMPAS100 841   8,62   1,04%
  • LQ45 638   7,02   1,11%
  • ISSI 221   2,20   1,01%
  • IDX30 358   3,78   1,07%
  • IDXHIDIV20 436   3,28   0,76%
  • IDX80 96   1,03   1,08%
  • IDXV30 120   0,85   0,71%
  • IDXQ30 114   1,02   0,91%

Serangan Siber Sasar Wall Street, Blackstone hingga KKR Masuk Daftar Target


Jumat, 07 Agustus 2026 / 10:40 WIB
Serangan Siber Sasar Wall Street, Blackstone hingga KKR Masuk Daftar Target
ILUSTRASI. Ilustrasi hacker atau kejahatan internet (KONTAN/Muradi)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Kelompok peretas yang mencari keuntungan melalui serangan ransomware membidik puluhan institusi keuangan dan perusahaan besar di Amerika Serikat dalam sebulan terakhir.

Modus yang digunakan tergolong sederhana, yakni menghubungi korban melalui telepon untuk mencuri kredensial login karyawan.

Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Filipina Melambat, PDB Kuartal II Hanya Naik 2,3%

Mengutip Reuters, Jumat (7/8/2026), data yang ditinjau Reuters bersama Google menunjukkan para peretas membuat situs web palsu untuk mencuri kata sandi karyawan di sejumlah perusahaan, termasuk perusahaan ekuitas swasta dan lembaga keuangan besar seperti Blackstone, Bridgewater Associates, Apollo Global Management, Bain Capital, KKR, TPG, CME Group, Clearlake Capital, dan Moody's.

Dalam unggahan blognya pada Kamis (6/8), Google menyebut kelompok peretas tersebut beroperasi menggunakan beberapa nama, antara lain Redact, Pink, Falcon, dan Helix.

Google tidak mengomentari secara spesifik temuan Reuters, namun menyatakan beberapa perusahaan yang menjadi sasaran memilih membayar uang tebusan kepada para peretas.

Reuters belum dapat memastikan perusahaan mana saja yang berhasil ditembus.

Pakar keamanan siber menilai penggunaan metode sederhana seperti panggilan telepon membuktikan bahwa rekayasa sosial (social engineering) masih menjadi salah satu teknik serangan paling efektif, meski perusahaan telah mengadopsi sistem keamanan yang canggih dan berbasis kecerdasan buatan (AI).

Baca Juga: Meta Diperintahkan Bayar US$ 567 Juta di Meksiko untuk Dana Kesehatan Mental Remaja

"Karena pagar sekarang sudah sangat canggih, mereka hanya perlu mengelabui penjaga agar membuka pintu," kata Lee Clark, Cyber Threat Intelligence Production Manager di Retail and Hospitality ISAC.

Menurut Clark, faktor manusia masih menjadi titik terlemah dalam sistem keamanan siber.

Sejumlah perusahaan yang disebut Reuters, seperti KKR, Bain Capital, Clearlake Capital, CME Group, TPG, dan Apollo Global Management, menolak memberikan komentar.

Sementara Blackstone, Bridgewater Associates, dan Moody's belum menanggapi permintaan konfirmasi.

Bidik perusahaan keuangan

Google menyebut para peretas belakangan mengalihkan fokus serangan ke perusahaan ekuitas swasta, firma hukum, dan lembaga pemeringkat kredit.

Principal Threat Analyst Google Threat Intelligence Group Austin Larsen mengatakan, para pelaku memilih target berdasarkan potensi keuntungan finansial.

Baca Juga: Won Korea Selatan Pimpin Penguatan Mata Uang Asia, Rupiah Melemah ke Rp 17.930

"Mereka melihat perusahaan-perusahaan ini memiliki data yang cukup sensitif sehingga kemungkinan bersedia membayar agar data tersebut tidak disalahgunakan," ujarnya.

Reuters menemukan puluhan situs palsu yang dibuat khusus menyerupai portal internal perusahaan dengan memanfaatkan 72 domain berbahaya yang diidentifikasi Google.

Larsen mengatakan seluruh domain tersebut kemungkinan digunakan dalam upaya penyusupan, meski tidak semuanya berhasil.

Dalam aksinya, peretas menghubungi karyawan melalui nomor ponsel pribadi dengan menyamar sebagai petugas help desk perusahaan.

Bahkan, dalam beberapa kasus, nomor telepon yang muncul di layar korban menyerupai nomor resmi bagian teknologi informasi (TI).

Korban kemudian diminta memperbarui passkey atau autentikasi multifaktor (multi-factor authentication/MFA) melalui situs palsu dengan nama domain seperti passkeyhelpdesk atau secure-passkey.

Jika korban memasukkan kata sandi dan kode verifikasi, pelaku langsung mengambil alih akun sebelum percakapan telepon berakhir.

Larsen menegaskan metode tersebut bukanlah teknik yang rumit.

"Ini bukan serangan yang sangat canggih, tetapi sangat efektif," katanya.

Baca Juga: Bursa Asia Bergerak Hati-hati Jelang Data Tenaga Kerja AS, Harga Minyak Lanjut Naik

Lebih dari 200 perusahaan menjadi sasaran

Reuters tidak berhasil menghubungi kelompok peretas tersebut. Salah satu kelompok, Redact, yang sebelumnya dikenal sebagai Blackfile, menyatakan di situs darknet mereka bahwa aksi peretasan tidak didorong motif politik maupun ideologi.

Menurut Google, hubungan antarkelompok peretas tersebut masih belum sepenuhnya dipahami, meski mereka diduga menggunakan infrastruktur yang sama.

Serangan siber ini telah memicu kekhawatiran di Wall Street. Point72 Asset Management mengonfirmasi kepada investornya bahwa perusahaan menjadi sasaran peretasan. Sumber Reuters juga menyebut Two Sigma Investments dan Citadel turut menjadi target.

Selain sektor keuangan, data Google menunjukkan para pelaku telah membuat jebakan digital untuk lebih dari 200 perusahaan dalam lima pekan terakhir.

Baca Juga: Bursa Australia Berpotensi Akhiri Reli Lima Hari, Sentimen Konflik Iran Tekan Pasar

Target lainnya mencakup perusahaan transportasi Uber, platform properti Zillow, produsen pakaian Levi Strauss, serta firma hukum Paul Hastings dan Greenberg Traurig.

Greenberg Traurig menyatakan tidak mengalami kebocoran data berkat lapisan sistem keamanan yang dimilikinya, sementara perusahaan lain belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×