kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.598.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 17.784   91,00   0,51%
  • IDX 6.480   43,61   0,68%
  • KOMPAS100 856   6,07   0,71%
  • LQ45 651   4,07   0,63%
  • ISSI 224   1,36   0,61%
  • IDX30 361   2,18   0,61%
  • IDXHIDIV20 450   2,59   0,58%
  • IDX80 98   0,66   0,67%
  • IDXV30 124   0,85   0,69%
  • IDXQ30 116   0,55   0,48%

IMF: RBA Perlu Siap Naikkan Suku Bunga Jika Inflasi Tetap Tinggi


Kamis, 17 September 2026 / 08:29 WIB
IMF: RBA Perlu Siap Naikkan Suku Bunga Jika Inflasi Tetap Tinggi
ILUSTRASI. Uang dollar Australia (REUTERS/DANIEL MUNOZ)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Dana Moneter Internasional (IMF) menilai bank sentral Australia atau Reserve Bank of Australia (RBA) masih perlu membuka peluang kenaikan suku bunga untuk meredam tekanan inflasi yang dinilai masih tinggi.

Dalam pernyataannya pada Kamis (17/9/2026), IMF menyebut tekanan inflasi yang persisten serta ketidakpastian mengenai seberapa ketat kondisi keuangan Australia menjadi alasan bagi RBA untuk bersiap menaikkan suku bunga jika diperlukan.

Baca Juga: Harga Emas Naik dari Level Terendah 6 Pekan Kamis (17/9), Pasar Cerna Sinyal The Fed

"Mengingat tekanan inflasi yang mendasari masih persisten dan tingginya ketidakpastian mengenai apakah kondisi keuangan sudah cukup ketat, RBA harus siap menaikkan suku bunga sesuai kebutuhan," kata IMF.

RBA menargetkan inflasi berada dalam kisaran 2%-3%. IMF memperingatkan, lonjakan harga energi global kembali berpotensi meningkatkan ekspektasi inflasi dan mendorong RBA melakukan pengetatan kebijakan moneter tambahan.

Pasar saat ini memperkirakan peluang sebesar 87% bagi RBA untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin dari level 4,35% dalam pertemuan pada akhir September.

Suku bunga Australia bahkan diperkirakan dapat mencapai 4,85% pada awal 2027.

Baca Juga: Harga Minyak Turun Lagi Kamis (17/9) Pagi, Brent ke US$104,59 & WTI ke US$101,29

Inflasi Australia Masih Jadi Perhatian

IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi Australia akan melambat dalam dua tahun mendatang. Namun, konsumsi rumah tangga dan investasi bisnis berpotensi lebih kuat dari perkiraan.

Jika kedua komponen tersebut tetap tangguh, tekanan inflasi dapat bertahan lebih lama sehingga meningkatkan kebutuhan untuk mempertahankan kebijakan moneter yang lebih ketat.

Kondisi tersebut membuat RBA menghadapi tantangan untuk menekan inflasi tanpa mendorong ekonomi Australia masuk ke perlambatan yang tajam. Tantangan serupa juga dihadapi sejumlah negara setelah pandemi.

Baca Juga: Lionel Messi Selangkah Lagi Jadi Pemilik Tunggal Klub Spanyol CD Eldense

Data terbaru menunjukkan indeks harga konsumen (CPI) Australia pada Juli meningkat lebih tinggi dari perkiraan. Kenaikan tersebut antara lain didorong oleh lonjakan biaya bahan bakar.

Inflasi inti juga berada di atas perkiraan pasar. Kondisi tersebut meningkatkan risiko RBA kembali menaikkan suku bunga untuk menjaga inflasi tetap berada dalam target 2%-3%.

IMF menilai perkembangan harga energi global menjadi salah satu risiko utama. Kenaikan harga energi yang lebih tinggi dapat kembali meningkatkan tekanan harga dan ekspektasi inflasi, sehingga mempengaruhi arah kebijakan moneter RBA.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×