kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.943.000   -53.000   -1,77%
  • USD/IDR 17.020   45,00   0,27%
  • IDX 7.107   84,55   1,20%
  • KOMPAS100 978   11,34   1,17%
  • LQ45 722   8,69   1,22%
  • ISSI 249   4,23   1,73%
  • IDX30 393   5,52   1,42%
  • IDXHIDIV20 489   3,83   0,79%
  • IDX80 110   1,42   1,31%
  • IDXV30 134   2,21   1,67%
  • IDXQ30 127   1,16   0,92%

BOE Pertahankan Suku Bunga 3,75%, Waspadai Inflasi Akibat Konflik Timteng


Kamis, 19 Maret 2026 / 19:49 WIB
BOE Pertahankan Suku Bunga 3,75%, Waspadai Inflasi Akibat Konflik Timteng
ILUSTRASI. Gubernur Bank of England (BoE) Andrew Bailey (via REUTERS/Carl Court)


Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - LONDON. Bank of England (BoE) memutuskan secara bulat untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 3,75% pada Kamis, di tengah kekhawatiran inflasi yang muncul akibat konflik di Timur Tengah, sambil menyinggung kemungkinan kenaikan suku bunga di masa mendatang.

Keputusan ini diambil oleh seluruh sembilan anggota Komite Kebijakan Moneter (MPC) yang memberikan suara 9-0 untuk mempertahankan suku bunga. Sebelumnya, ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan mayoritas keputusan akan berupa 7-2 mendukung hold.

MPC memperingatkan inflasi berpotensi meningkat hingga 3,5% dalam dua kuartal kalender mendatang, berdasarkan perkiraan staf BoE, dan menyoroti risiko ekspektasi inflasi yang lebih tinggi bisa mengakar di ekonomi. MPC juga mengakui kemungkinan perlambatan ekonomi yang dapat menekan inflasi, tetapi menilai risiko terbesar tetap pada kenaikan inflasi.

Baca Juga: Harga Emas Anjlok ke Level Terendah Sejak Februari Akibat Penguatan Dollar AS

Gubernur BoE, Andrew Bailey, menyatakan bahwa harga bensin sudah meningkat dan tagihan energi rumah tangga berpotensi naik lebih lanjut jika konflik berlangsung lama. “Kami mempertahankan suku bunga 3,75% sambil memantau perkembangan. Tugas kami adalah memastikan inflasi kembali ke target 2%,” katanya.

Beberapa anggota MPC lebih terbuka mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga. Catherine Mann menyebut BoE perlu mempertimbangkan jeda lebih panjang atau bahkan kenaikan di masa depan untuk mencegah inflasi tetap tinggi.

Huw Pill, Kepala Ekonom BoE, yang sebelumnya menentang pemotongan suku bunga, menyatakan siap bertindak jika lonjakan harga energi meningkatkan risiko inflasi jangka panjang. Sebaliknya, Alan Taylor, pendukung pemotongan suku bunga, menilai keputusan “hold” bukan pertanda perubahan arah kebijakan.

MPC menambahkan, mereka kemungkinan akan memiliki lebih banyak informasi pada pertemuan berikutnya akhir April untuk menilai kondisi lebih akurat. “Ada berbagai kemungkinan bagaimana kebijakan moneter perlu menanggapi risiko dan perkembangan,” tulis BoE.

BoE memang lebih lambat menurunkan suku bunga dibanding Bank Sentral Eropa sejak 2024 karena tekanan harga yang relatif tinggi di Inggris. Kenaikan harga minyak dan gas akibat konflik Timur Tengah kini mengancam target inflasi 2%, yang sebelumnya diperkirakan akan tercapai. Beberapa analis memperkirakan inflasi bisa naik kembali ke 4%–5%, meski masih jauh di bawah puncak 11,1% pada 2022 pasca invasi Rusia ke Ukraina.

Data terbaru menunjukkan kenaikan upah Inggris melambat ke laju terendah sejak akhir 2020, yang sedikit meredakan kekhawatiran inflasi BoE. Namun, survei regional menunjukkan penyelesaian upah di 2026 kemungkinan 0,2 poin lebih tinggi dari perkiraan 3,6%, sehingga bank sentral tetap waspada.

Baca Juga: Freeport Ajukan Izin Lingkungan Ekspansi Tambang El Abra Senilai US$ 7,5 Miliar

Investor sebelumnya memperkirakan BoE akan menurunkan suku bunga dua kali tahun ini. Namun, setelah laporan kerusakan tambahan infrastruktur energi di Qatar, pasar kini sepenuhnya memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga menjelang akhir tahun.

Kebijakan berhati-hati BoE ini sejalan dengan langkah bank sentral utama lainnya, termasuk The Fed yang mempertahankan suku bunga pekan lalu, dan Bank Sentral Eropa yang juga diperkirakan akan berhati-hati karena dampak perang.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×