Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga emas dunia merosot lebih dari 1% ke level terendah dalam lebih dari dua bulan pada perdagangan Selasa (9/6/2026), tertekan oleh meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) tahun ini serta aksi jual yang meluas di pasar keuangan global.
Mengutip Reuters, harga emas spot turun 1,5% menjadi US$ 4.264,70 per ons troi pada pukul 13.45 ET (17.45 GMT), setelah sempat anjlok lebih dari 2% pada sesi perdagangan. Posisi tersebut merupakan level terendah sejak 23 Maret 2026.
Baca Juga: Harga Minyak Ditutup Anjlok 3% Selasa (9/6), Dipicu Gencatan Senjata Iran-Israel
Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus ditutup melemah 1,8% ke level US$ 4.286,40 per ons.
Analis Senior RJO Futures Bob Haberkorn mengatakan, investor saat ini cenderung mengambil sikap hati-hati di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar.
"Pelaku pasar terlihat cukup gugup saat ini. Hampir seluruh pasar bergerak dalam mode risk-off, dan kondisi itu menjadi salah satu faktor yang menekan harga emas," ujar Haberkorn.
Sentimen risk-off juga terlihat dari pelemahan indeks saham utama AS. Indeks S&P 500 dan Nasdaq pada Selasa turun ke level terendah dalam lebih dari satu bulan.
Menurut Haberkorn, pasar logam mulia masih akan berada di bawah tekanan hingga muncul kejelasan arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).
"Emas dan perak masih berada dalam tekanan hingga pasar mendapatkan panduan yang lebih jelas dari The Fed," tambahnya.
Baca Juga: Helikopter Apache Ditembak Jatuh, Amerika Serikat Lancarkan Serangan Balasan ke Iran
Fokus ke Data Inflasi AS
Setelah data ketenagakerjaan AS pekan lalu menunjukkan hasil yang lebih kuat dari perkiraan, perhatian investor kini tertuju pada data inflasi AS yang akan dirilis pekan ini.
Pemerintah AS dijadwalkan mengumumkan data Indeks Harga Konsumen (CPI) Mei pada Rabu (10/6), disusul data Indeks Harga Produsen (PPI) pada Kamis (11/6).
Kedua data tersebut akan menjadi petunjuk penting mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed.
Analis Commerzbank menilai harga emas masih berpotensi melemah apabila inflasi AS kembali menunjukkan kenaikan yang lebih tinggi dari ekspektasi pasar.
"Jika data inflasi AS bulan Mei kembali memberikan kejutan ke atas, harga emas kemungkinan akan turun lebih lanjut. Namun kondisi tersebut juga bisa membuka peluang pemulihan harga pada akhir tahun apabila The Fed pada akhirnya tidak menaikkan suku bunga," tulis Commerzbank dalam risetnya.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar 68% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember 2026.
Baca Juga: CEO Airbus: Belum Ada Pembatalan Pesanan Pesawat di Tengah Gejolak Global
Harga Minyak Turun, Risiko Inflasi Tetap Dicermati
Di pasar energi, harga minyak dunia justru melemah setelah Iran dan Israel menyatakan menghentikan serangan satu sama lain menyusul seruan Presiden AS Donald Trump.
Meski demikian, harga energi yang masih relatif tinggi tetap menjadi perhatian pasar karena berpotensi mendorong inflasi bertahan lebih lama dan membuat suku bunga tetap tinggi dalam jangka waktu lebih panjang.
Sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, emas biasanya mendapat manfaat ketika harga-harga meningkat.
Namun, kenaikan suku bunga cenderung menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil (yield).
Baca Juga: Survei Reuters: Mayoritas Ekonom Prediksi The Fed Pertahankan Bunga di Sisa 2026
Di sisi lain, pasar emas fisik juga menghadapi tantangan dari India. Kenaikan tajam tarif impor emas di negara tersebut memicu kembali maraknya penyelundupan emas.
Volume emas ilegal yang masuk ke India diperkirakan dapat melampaui 100 metrik ton tahun ini karena tingginya keuntungan di pasar gelap.
Selain emas, logam mulia lainnya juga mengalami tekanan. Harga perak spot turun 4,3% menjadi US$ 65,23 per ons troi, platinum melemah 2,1% ke US$ 1.717,30 per ons troi, sementara paladium turun 1,3% menjadi US$ 1.220,92 per ons troi.













