Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga emas dunia jatuh ke level terendah dalam lebih dari satu bulan pada perdagangan Kamis, dipicu penguatan dolar Amerika Serikat serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Sikap agresif (hawkish) bank sentral AS juga semakin mengurangi daya tarik logam mulia tersebut.
Berdasarkan data pasar, harga emas spot turun 2,7% menjadi US$ 4.687,19 per troi ons pada pukul 18.25 WIB. Sebelumnya, harga sempat menyentuh US$ 4.665,69, level terendah sejak 6 Februari.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April merosot lebih dalam, yakni 4,3% ke posisi US$ 4.688,20 per troi ons.
Baca Juga: Freeport Ajukan Izin Lingkungan Ekspansi Tambang El Abra Senilai US$ 7,5 Miliar
Analis menyebut pelemahan ini terjadi setelah emas menembus level psikologis penting. Kepala strategi komoditas Saxo Bank, Ole Hansen, mengatakan bahwa penurunan tajam terjadi untuk hari kedua berturut-turut setelah harga emas jatuh di bawah level US$ 5.000 per troi ons.
“Penguatan dolar dan nada lebih hawkish dari Ketua The Fed Jerome Powell setelah pertemuan FOMC terbaru menjadi faktor utama,” ujarnya.
Penguatan dolar AS serta kenaikan imbal hasil obligasi Treasury tenor 10 tahun membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Selain itu, kondisi tersebut mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset).
Sejumlah bank sentral utama dunia, termasuk di AS, Kanada, dan Jepang, juga mengisyaratkan sikap lebih ketat terhadap kebijakan moneter pekan ini. Mereka mengkhawatirkan lonjakan harga energi dapat memicu gelombang inflasi baru.
Di sisi lain, Bank Sentral Eropa diperkirakan akan menahan suku bunga, namun tetap membuka peluang kenaikan jika konflik Iran memicu inflasi berkepanjangan di kawasan euro.
Meski emas dikenal sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian, suku bunga tinggi justru menekan daya tariknya karena meningkatkan biaya peluang memegang emas dibandingkan aset berbunga.
Dari sisi geopolitik, harga minyak melonjak di atas US$ 115 per barel setelah Iran menyerang fasilitas energi di Timur Tengah, menyusul serangan Israel terhadap ladang gas South Pars. Eskalasi konflik ini berpotensi memperparah inflasi global.
Baca Juga: Kilang Saudi hingga LNG Qatar Diserang Iran, Pasokan LNG Global Terancam
Kenaikan harga energi dapat mendorong bank sentral, termasuk The Fed, mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Meski demikian, prospek jangka panjang emas dinilai masih positif. Strategis komoditas WisdomTree, Nitesh Shah, menyatakan bahwa risiko geopolitik akan tetap menjadi katalis kuat bagi harga emas.
“Meski ada konsolidasi jangka pendek, saya melihat emas berpotensi mencapai US$6.000 pada akhir tahun,” katanya.
Selain emas, logam mulia lainnya juga mengalami penurunan. Harga perak spot turun 6,3% menjadi US$ 70,65 per troi ons setelah sempat menyentuh level terendah sejak 6 Februari di US$ 69,95. Platinum melemah 4,4% ke US$ 1.934,90, sementara paladium turun 1,9% menjadi US$1.448,05 per troi ons.













