Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - TEHERAN. Serangan udara Iran sejak Rabu telah menyebabkan kerusakan luas pada fasilitas energi di kawasan Teluk, termasuk pabrik gas terbesar di dunia di Qatar, kilang minyak di Arab Saudi, serta fasilitas gas di Uni Emirat Arab (UEA) dan Kuwait. Aksi ini merupakan balasan Teheran atas serangan Israel terhadap fasilitas gasnya sendiri, sekaligus menandai eskalasi lebih lanjut dari perang yang telah berlangsung hampir tiga pekan.
Kementerian Pertahanan Arab Saudi pada Kamis menyatakan bahwa sebuah drone jatuh di kilang Aramco-Exxon, SAMREF, dengan tingkat kerusakan yang masih dalam penilaian. Selain itu, pihak Saudi juga berhasil mencegat rudal balistik yang diluncurkan ke arah Yanbu, kota pelabuhan yang menjadi satu-satunya jalur ekspor minyak mentah negara tersebut saat ini dan lokasi kilang tersebut berada.
Di Kuwait, kantor berita negara melaporkan bahwa satu unit operasional di kilang Mina al-Ahmadi dan Mina Abdullah milik Kuwait Petroleum Corporation menjadi sasaran serangan drone, yang memicu kebakaran di kedua lokasi.
Baca Juga: Harga Emas Naik dari Level Terendah Satu Bulan, Kebijakan The Fed Membatasi Kenaikan
Sementara itu, perusahaan energi milik negara Qatar, QatarEnergy, pada Rabu mengungkapkan bahwa serangan rudal Iran ke Ras Laffan—pusat utama pengolahan LNG negara tersebut—menyebabkan “kerusakan besar”. UEA juga menutup fasilitas gasnya setelah mencegat rudal pada Kamis dini hari.
Serangan Iran terjadi hanya beberapa jam setelah Teheran mengeluarkan peringatan evakuasi untuk sejumlah fasilitas minyak di Arab Saudi, UEA, dan Qatar, menyusul serangan terhadap infrastruktur energinya di South Pars dan Asaluyeh.
QatarEnergy, eksportir LNG terbesar kedua di dunia, menyatakan tim tanggap darurat segera dikerahkan untuk mengendalikan kebakaran akibat serangan. Kementerian Dalam Negeri Qatar melaporkan bahwa seluruh kebakaran di Ras Laffan berhasil dipadamkan pada Kamis pagi tanpa adanya korban jiwa.
Ras Laffan, yang terletak sekitar 80 km di utara Doha, merupakan pusat industri energi yang menampung sejumlah perusahaan internasional, termasuk Shell, pedagang LNG terbesar dunia.
Shell menyatakan sedang menilai dampak terhadap aset yang dioperasikan atau digunakan di kawasan tersebut. Perusahaan itu memiliki 30% saham dalam fasilitas LNG berkapasitas 7,8 juta ton per tahun, serta investasi di proyek LNG yang belum berproduksi di Ras Laffan. Shell juga memiliki sepenuhnya pabrik gas-to-liquids Pearl di kawasan tersebut dengan kapasitas hingga 1,6 miliar kaki kubik gas per hari.
QatarEnergy menyebut fasilitas Pearl mengalami kerusakan signifikan. Beberapa fasilitas LNG lainnya juga terdampak serangan rudal pada Kamis dini hari, memicu kebakaran besar dan kerusakan tambahan.
Shell kemudian mengonfirmasi bahwa fasilitas Pearl GTL mengalami kerusakan, namun kebakaran berhasil dipadamkan dengan cepat dan kondisi kini dinyatakan aman. Penilaian kerusakan masih berlangsung bersama otoritas setempat dan QatarEnergy.
Qatar memproduksi sekitar 77 juta ton LNG per tahun yang digunakan untuk pembangkit listrik dan industri. Kilang Laffan sendiri terutama mengolah kondensat menjadi produk olahan seperti bahan bakar penerbangan.
Baca Juga: Bertemu Takaichi, Trump Mungkin Akan Mendesak Jepang untuk Bantu Perang Melawan Iran
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melalui media sosial memperingatkan Iran agar tidak kembali menyerang fasilitas LNG Qatar. Ia mengancam akan “menghancurkan sepenuhnya ladang gas South Pars” jika serangan kembali terjadi. Trump juga menyebut Israel menyerang South Pars tanpa pemberitahuan kepada Qatar maupun AS.
Kementerian Luar Negeri Qatar memerintahkan atase keamanan dan militer Iran untuk meninggalkan negara itu dalam waktu 24 jam serta menetapkan mereka sebagai persona non grata. Dalam pernyataannya, Qatar mengecam serangan ke Ras Laffan sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasional dan menuduh Iran bertindak tidak bertanggung jawab.
Analis energi Saul Kavonic dari MST Marquee Australia mengatakan bahwa serangan terhadap Ras Laffan berpotensi menyebabkan kekurangan gas global dalam jangka panjang, meskipun hal itu tidak akan menekan pemerintahan Trump karena AS diuntungkan oleh tingginya harga gas dunia.
Di UEA, otoritas menyatakan tengah menangani insiden di fasilitas gas Habshan dan ladang minyak Bab akibat puing-puing rudal yang berhasil dicegat. Fasilitas gas tersebut ditutup sementara dan tidak ada laporan korban jiwa, menurut Kantor Media Abu Dhabi.
Kompleks Habshan yang dioperasikan oleh perusahaan minyak negara ADNOC merupakan salah satu fasilitas pemrosesan gas terbesar di dunia, terdiri dari lima pabrik dengan kapasitas total sekitar 6,1 miliar kaki kubik standar per hari.













