kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.713.000   -20.000   -0,73%
  • USD/IDR 17.979   -51,00   -0,28%
  • IDX 5.807   60,82   1,06%
  • KOMPAS100 765   5,37   0,71%
  • LQ45 573   3,49   0,61%
  • ISSI 199   1,75   0,89%
  • IDX30 324   1,68   0,52%
  • IDXHIDIV20 399   0,56   0,14%
  • IDX80 86   0,33   0,38%
  • IDXV30 109   0,36   0,33%
  • IDXQ30 104   -0,22   -0,21%

Harga Minyak Naik Hampir 1% Rabu (10/6), Dipicu Serangan Baru AS ke Iran


Rabu, 10 Juni 2026 / 07:51 WIB
Harga Minyak Naik Hampir 1% Rabu (10/6), Dipicu Serangan Baru AS ke Iran
ILUSTRASI. Minyak Dunia (REUTERS/Eli Hartman)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia kembali menguat hampir 1% pada perdagangan Rabu (10/6/2026), menjauhi posisi terendah dalam tujuh pekan terakhir setelah Amerika Serikat melancarkan serangan baru ke Iran dan data persediaan minyak mentah AS menunjukkan penurunan yang lebih besar dari perkiraan.

Melansir Reuters, kontrak Brent naik 83 sen atau 0,9% menjadi US$ 92,29 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 68 sen atau 0,8% ke level US$ 88,97 per barel.

Baca Juga: NASA Tunjuk Astronaut Artemis III, SpaceX dan Blue Origin Siap Uji Wahana Bulan

Kenaikan harga minyak terjadi setelah militer AS melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran. Aksi tersebut dilakukan setelah Presiden AS Donald Trump berjanji akan merespons insiden jatuhnya helikopter serang Apache milik AS yang ditembak jatuh di kawasan Selat Hormuz.

Eskalasi terbaru ini memunculkan kembali kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global dan mengancam keberlangsungan gencatan senjata rapuh antara Washington dan Teheran.

Sebelumnya, harga minyak sempat merosot ke level terendah dalam tujuh pekan pada Selasa (9/6). Penurunan terjadi setelah Iran dan Israel menghentikan serangan langsung satu sama lain menyusul seruan Trump agar kedua pihak menahan diri.

Meski demikian, ketegangan di kawasan Timur Tengah masih membayangi pasar. Iran menyatakan akan kembali melakukan serangan apabila Israel terus menggempur kelompok Hizbullah di Lebanon.

Baca Juga: SpaceX Catat Permintaan IPO Rp4.485 Triliun, Terbesar dalam Sejarah

Di sisi lain, Iran masih membatasi sebagian besar lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur strategis yang selama ini menjadi jalur sekitar seperlima perdagangan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia.

Sementara itu, Amerika Serikat juga tetap memberlakukan blokade terhadap sejumlah pelabuhan Iran.

Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan lalu lintas kapal dan ekspor minyak melalui Selat Hormuz mulai meningkat.

Namun, upaya mencapai kesepakatan damai antara AS dan Iran untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung lebih dari tiga bulan masih menemui jalan terjal.

Selain faktor geopolitik, pasar juga mendapat dukungan dari data persediaan minyak AS. Berdasarkan data American Petroleum Institute (API), stok minyak mentah AS turun selama delapan pekan berturut-turut hingga pekan yang berakhir 5 Juni 2026.

Baca Juga: GSK Akuisisi Nuvalent, Mengapa Sektor Kesehatan Jadi Incaran Investor?

Sumber pasar yang mengutip data API menyebutkan persediaan minyak mentah turun sebesar 9,12 juta barel. Sementara itu, stok bensin juga berkurang sekitar 1,19 juta barel.

Penurunan persediaan tersebut berpotensi membatasi kemampuan ekspor AS yang selama ini menjadi salah satu pemasok tambahan minyak dan produk energi ke pasar Asia dan Eropa selama konflik berlangsung.

Kondisi itu dinilai dapat memperketat pasokan global dan menopang kenaikan harga minyak dalam jangka pendek.




TERBARU

[X]
×