kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.679.000   50.000   1,90%
  • USD/IDR 17.955   16,00   0,09%
  • IDX 6.401   57,27   0,90%
  • KOMPAS100 843   10,52   1,26%
  • LQ45 640   9,42   1,49%
  • ISSI 221   2,30   1,05%
  • IDX30 359   4,71   1,33%
  • IDXHIDIV20 438   4,61   1,06%
  • IDX80 96   1,24   1,30%
  • IDXV30 120   0,83   0,70%
  • IDXQ30 114   1,38   1,23%

Bursa Asia Bergerak Hati-hati Jelang Data Tenaga Kerja AS, Harga Minyak Lanjut Naik


Jumat, 07 Agustus 2026 / 09:33 WIB
Bursa Asia Bergerak Hati-hati Jelang Data Tenaga Kerja AS, Harga Minyak Lanjut Naik
ILUSTRASI. JAPAN-ECONOMY-STOCKS (AFP/KAZUHIRO NOGI)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia bergerak cenderung datar pada perdagangan Jumat (7/8) karena investor menunggu rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang dinilai akan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) bulan depan.

Sementara itu, harga minyak kembali menguat di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Baca Juga: Presiden FIFA Infantino Dapat Dukungan Afrika, UEFA Tetap Ancam Boikot Piala Dunia

Mengutip Reuters, Jumat (7/8), indeks MSCI Asia-Pacific di luar Jepang bergerak mendatar dan masih mencatat pelemahan 0,4% sepanjang pekan.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 turun 0,9%, tetapi masih berada di jalur kenaikan mingguan sekitar 1,2%.

Sementara itu, indeks KOSPI Korea Selatan melemah 0,5% dan telah terkoreksi 5% sepanjang pekan, menandai penurunan selama tujuh pekan berturut-turut.

Sebelumnya, indeks tersebut sempat melonjak tajam pada paruh pertama tahun ini berkat reli saham-saham semikonduktor yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI).

Di China, indeks CSI 300 justru naik 0,2%.

Fokus utama investor kini tertuju pada laporan nonfarm payrolls (NFP) Amerika Serikat yang dijadwalkan dirilis pada Jumat.

Data tersebut diperkirakan akan memberikan petunjuk penting mengenai langkah The Fed pada pertemuan September.

Baca Juga: Bursa Australia Berpotensi Akhiri Reli Lima Hari, Sentimen Konflik Iran Tekan Pasar

Konsensus pasar memperkirakan penambahan 80.000 lapangan kerja pada Juli, meningkat dibandingkan 57.000 pada Juni. Sementara itu, tingkat pengangguran diperkirakan tetap berada di 4,2%.

Chief US Economist JPMorgan Michael Feroli mengatakan, data ketenagakerjaan yang kuat justru berpotensi menjadi sentimen negatif bagi pasar saham.

"Dengan imbal hasil obligasi dan inflasi masih menjadi risiko utama bagi saham, kami memperkirakan laporan NFP akan memunculkan kondisi di mana kabar baik justru menjadi kabar buruk. Data tenaga kerja yang kuat akan memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama dan mendorong kenaikan imbal hasil obligasi," ujarnya.

Sebaliknya, menurut Feroli, apabila data ketenagakerjaan lebih lemah dari perkiraan, pasar saham berpotensi merespons positif karena imbal hasil obligasi dapat turun dan ekspektasi kebijakan moneter bergeser ke arah yang lebih dovish.

Kontrak berjangka Nasdaq bergerak mendatar, sedangkan futures S&P 500 turun 0,1%. Bursa Eropa juga diperkirakan dibuka melemah dengan kontrak futures indeks kawasan turun 0,2%.

Baca Juga: Emas Spot Stabil Jumat (7/8), Bersiap Catat Kenaikan Mingguan Terbesar Sejak 2026

Harga minyak menguat

Di pasar komoditas, harga minyak kembali naik setelah ketegangan di Timur Tengah meningkat menyusul serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi.

Pemerintah Arab Saudi sebelumnya memperingatkan adanya potensi serangan terkoordinasi dari Houthi dan milisi Irak yang didukung Iran.

Harga minyak mentah Brent naik 1% menjadi US$ 83,38 per barel, setelah melonjak 3,8% pada perdagangan sebelumnya.

Baca Juga: Taiwan Latihan Pertahankan Jembatan Strategis, Antisipasi Potensi Serangan China

Meski demikian, Brent masih berada di jalur penurunan sekitar 7,5% sepanjang pekan dan masih jauh di bawah puncaknya sekitar US$ 102 per barel yang sempat tercapai dua pekan lalu.

Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh pembahasan rancangan undang-undang di Iran yang akan melarang kapal Amerika Serikat, Israel, dan kapal lain yang dianggap bermusuhan melintasi Selat Hormuz.

Rancangan aturan tersebut juga mengusulkan denda hingga 20% dari nilai muatan kapal bagi pelanggar.

Kenaikan harga minyak turut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Imbal hasil obligasi tenor dua tahun bertahan di 4,2496%, sedangkan tenor 10 tahun berada di 4,6757%, setelah masing-masing naik pada perdagangan sebelumnya.

Baca Juga: Kontroversi Coach Hong Myung-bo Berlanjut, Polisi Geledah Federasi Sepak Bola Korsel

Di pasar valuta asing, dolar AS bergerak stabil terhadap yen Jepang di level 158,51 yen per dolar AS. Laporan ketenagakerjaan AS diperkirakan akan menjadi penentu arah pergerakan yen setelah intervensi pasar valuta asing yang dilakukan Jepang bersama Amerika Serikat pekan lalu.

Sementara itu, harga emas spot naik tipis 0,1% menjadi US$ 4.243 per ons troi, sedangkan perak spot menguat 0,5% ke level US$ 61,78 per ons troi.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×