Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) bergerak stabil pada perdagangan Kamis (2/7/2026) menjelang rilis data ketenagakerjaan AS yang menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Di saat yang sama, pasar juga mewaspadai potensi intervensi pemerintah Jepang setelah yen sempat menyentuh level terlemah dalam 40 tahun terhadap dolar AS.
Baca Juga: Bursa Korea Selatan Ambles Hampir 8% Kamis (2/7), Saham Samsung dan SK Hynix Rontok
Melansir Reuters, Indeks dolar, yang mengukur pergerakan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama termasuk yen dan euro, turun tipis 0,1% ke level 101,32.
Pelaku pasar kini menantikan data non-farm payrolls (NFP) AS yang dijadwalkan dirilis pada Kamis waktu setempat.
Ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan ekonomi AS menambah sekitar 110.000 lapangan kerja pada Juni, sementara tingkat pengangguran diperkirakan tetap di 4,3%.
Ketua The Fed Kevin Warsh mengatakan, ekspektasi inflasi dan risiko kenaikan harga telah mereda dalam beberapa pekan terakhir.
Baca Juga: Microsoft Gandeng Lightstorm Bangun Kabel Bawah Laut India-Asia Tenggara
Sementara itu, laporan ADP National Employment menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja sektor swasta pada Juni lebih rendah dari perkiraan.
Analis senior Mitsubishi UFJ Bank Akihiko Yokoo mengatakan, dolar berpotensi kembali menguat apabila data ketenagakerjaan AS lebih baik dari ekspektasi pasar.
"Jika data payrolls melampaui perkiraan pasar, dolar berpotensi melanjutkan penguatannya," tulis Yokoo dalam risetnya.
Dolar selama ini ditopang oleh meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed tahun ini. Pasar tenaga kerja yang masih solid juga memperkuat prospek pertumbuhan ekonomi AS, setelah penciptaan lapangan kerja dalam tiga bulan terakhir melampaui ekspektasi.
Selain itu, pesatnya adopsi kecerdasan buatan (AI) turut menarik aliran modal ke aset-aset AS.
Di pasar valuta asing, euro diperdagangkan di level US$ 1,135, sementara poundsterling menguat 0,13% menjadi US$ 1,3288.
Baca Juga: AS-Iran Akhiri Perundingan Doha, Belum Ada Terobosan Damai Permanen
Pasar waspadai intervensi Jepang
Yen Jepang menguat tipis 0,23% ke level 162,18 per dolar AS setelah sehari sebelumnya sempat menyentuh 162,84, level terlemah dalam 40 tahun.
Sejak awal tahun, dolar telah menguat sekitar 3,5% terhadap yen.
Meski Bank of Japan telah menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun bulan lalu, analis menilai tekanan terhadap yen kembali meningkat.
Baca Juga: Rusia Gempur Kyiv, 10 Tewas dan Puluhan Terluka dalam Serangan Balasan
Hal itu dipicu kekhawatiran bank sentral Jepang tertinggal dalam merespons kenaikan inflasi, terutama setelah survei Tankan menunjukkan ekspektasi inflasi dunia usaha terus meningkat.
Analis Matsui Securities Sho Suzuki mengatakan, apabila ekspektasi inflasi tersebut berujung pada kenaikan harga dan upah yang lebih kuat, pasar akan semakin menilai Bank of Japan tertinggal dalam pengetatan kebijakan moneternya.
Selain itu, Reuters melaporkan pejabat Jepang kini mengubah strategi intervensi di pasar valuta asing.
Pemerintah disebut tidak lagi memberi sinyal atau peringatan verbal sebelum melakukan intervensi, melainkan memilih melakukan aksi secara tiba-tiba untuk menjebak pelaku pasar yang bertaruh terhadap pelemahan yen.
Strategi tersebut juga menghindari penyebutan level kurs tertentu yang akan memicu intervensi, sehingga meningkatkan ketidakpastian bagi investor.
Para pelaku pasar menilai libur nasional AS pada Jumat (4/7), yang diperkirakan membuat likuiditas pasar lebih tipis, dapat menjadi momentum bagi Jepang untuk melakukan intervensi apabila diperlukan.
Baca Juga: Aluminium Rebound, Sektor Manufaktur China hingga AS Beri Sentimen Positif
Analis pasar IG Australia Tony Sycamore menilai, data tenaga kerja AS akan menjadi faktor penentu arah berikutnya.
Menurutnya, apabila data ketenagakerjaan jauh lebih kuat dari perkiraan, dolar berpotensi menguat hingga mendorong pasangan dolar/yen ke kisaran 165-166.
Sebaliknya, jika penciptaan lapangan kerja hanya sekitar 65.000 dan tingkat pengangguran naik ke 4,4% atau lebih tinggi, tekanan terhadap yen dapat berkurang dan membuka peluang intervensi pemerintah Jepang dalam kondisi pasar yang lebih sepi.
Di pasar mata uang lainnya, dolar Australia diperdagangkan di US$ 0,6894, sedangkan dolar Selandia Baru naik tipis 0,1% menjadi US$ 0,5677.
Sementara itu, di pasar kripto, Bitcoin menguat 1,17% ke US$ 60.769,72, sedangkan Ethereum naik hampir 1% menjadi US$ 1.632,23.














