Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) bergerak stabil pada perdagangan Kamis (2/7/2026) menjelang rilis data ketenagakerjaan AS yang menjadi perhatian utama pelaku pasar.
Di saat yang sama, pelemahan yen ke level terendah dalam 40 tahun terakhir membuat pasar kembali mewaspadai potensi intervensi pemerintah Jepang.
Baca Juga: Harga Minyak Anjlok Lagi di Pagi Ini (2/7), Ini Penyebabnya Turun 4 Bulan Terendah!
Melansir Reuters, Indeks dolar AS (US Dollar Index), yang mengukur pergerakan mata uang Negeri Paman Sam terhadap sekeranjang mata uang utama termasuk euro dan yen, turun tipis 0,02% ke level 101,38.
Fokus investor kini tertuju pada data non-farm payrolls (NFP) AS yang dijadwalkan dirilis Kamis waktu setempat.
Berdasarkan jajak pendapat Reuters, jumlah tenaga kerja nonpertanian diperkirakan bertambah 110.000 orang pada Juni, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan tetap di level 4,3%.
Ketua Federal Reserve Kevin Warsh mengatakan, ekspektasi inflasi dan risiko kenaikan harga mulai mereda dalam beberapa pekan terakhir.
Baca Juga: KPMG Australia Berbenah, Michael Ebeid Ditunjuk Jadi Ketua Independen Pertama
Sementara itu, laporan ADP National Employment Report menunjukkan penyerapan tenaga kerja sektor swasta masih meningkat, meski lebih rendah dari perkiraan pasar.
Analis Senior Mitsubishi UFJ Bank, Akihiko Yokoo, mengatakan data ketenagakerjaan yang lebih kuat dari ekspektasi berpotensi memperpanjang penguatan dolar AS.
"Jika data payroll melampaui ekspektasi pasar, penguatan dolar dapat kembali berlanjut," tulis Yokoo dalam risetnya.
Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed tahun ini masih menjadi faktor utama yang menopang dolar AS.
Selain itu, pasar tenaga kerja yang tetap solid dan derasnya investasi pada sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) turut memperkuat arus modal ke aset-aset AS.
Di pasar mata uang utama, euro diperdagangkan di kisaran US$1,138, sedangkan pound sterling menguat tipis 0,06% menjadi US$1,3279.
Baca Juga: Inflasi Korsel Naik ke Level Tertinggi 2,5 Tahun, Peluang Kenaikan Suku Bunga Menguat
Yen Jadi Sorotan
Di sisi lain, yen Jepang masih berada di bawah tekanan akibat menguatnya dolar AS.
Mata uang Jepang itu sempat melemah hingga 162,84 yen per dolar AS, level terendah dalam empat dekade dan melampaui level yang sebelumnya memicu intervensi pemerintah Jepang beberapa pekan lalu.
Baca Juga: Rekor Inggris di Piala Dunia: Baru Juara Sekali dan Kini Bidik Gelar Kedua
Pada perdagangan pagi, yen bergerak di kisaran 162,50 per dolar AS.
Pelaku pasar menilai libur nasional AS pada Jumat (3/7) berpotensi menjadi momentum bagi pemerintah Jepang melakukan intervensi di pasar valuta asing.
Volume perdagangan yang lebih tipis diperkirakan dapat memperbesar dampak intervensi tersebut.
Analis Pasar IG Australia Tony Sycamore menilai, hasil data ketenagakerjaan AS akan menjadi faktor penentu arah pergerakan yen dalam jangka pendek.
Menurutnya, apabila data payroll lebih kuat dari perkiraan, dolar berpotensi semakin menguat dan mendorong kurs dolar AS terhadap yen menuju kisaran 165–166 yen.
Sebaliknya, apabila data tenaga kerja lebih lemah, misalnya penambahan lapangan kerja hanya sekitar 65.000 dengan tingkat pengangguran naik menjadi 4,4% atau lebih tinggi, tekanan terhadap yen diperkirakan akan mereda.
Baca Juga: Ekonomi Korea Memanas: Inflasi Juni Tertinggi Sejak 2023!
Dalam kondisi tersebut, menurut Sycamore, Kementerian Keuangan Jepang berpeluang melakukan intervensi menjelang libur panjang Hari Kemerdekaan AS agar memperoleh dampak yang lebih besar terhadap pergerakan pasar.
Sementara itu, dolar Australia melemah 0,09% ke US$0,6885, sedangkan dolar Selandia Baru (kiwi) diperdagangkan di US$0,5672.
Di pasar aset kripto, Bitcoin turun 0,2% ke US$59.934,94, sedangkan Ether melemah 0,7% menjadi US$1.605,88.














