kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   -25.000   -0,89%
  • USD/IDR 17.880   21,00   0,12%
  • IDX 6.210   82,62   1,35%
  • KOMPAS100 822   14,49   1,79%
  • LQ45 616   5,05   0,83%
  • ISSI 217   1,46   0,68%
  • IDX30 350   2,31   0,66%
  • IDXHIDIV20 428   1,81   0,43%
  • IDX80 93   0,84   0,91%
  • IDXV30 119   0,61   0,51%
  • IDXQ30 112   0,40   0,36%

Dolar AS Stabil Selasa (2/6), Menanti Perkembangan Negosiasi Perdamaian Timur Tengah


Selasa, 02 Juni 2026 / 08:03 WIB
Dolar AS Stabil Selasa (2/6), Menanti Perkembangan Negosiasi Perdamaian Timur Tengah
ILUSTRASI. Dolar AS (via REUTERS/Majid Asgaripour)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) bergerak stabil pada perdagangan Selasa (2/6/2026), seiring pelaku pasar mengambil sikap hati-hati sambil menunggu perkembangan terbaru perundingan perdamaian di Timur Tengah.

Sentimen pasar sempat membaik setelah Lebanon mengumumkan gencatan senjata terbatas antara kelompok Hizbullah dan Israel. Namun, ketidakpastian geopolitik yang lebih luas masih membuat investor enggan mengambil posisi agresif.

Baca Juga: Dampak CEO Greg Abel: Berkshire Kucurkan Investasi US$ 16,8 Miliar dalam 2 Hari

Pasar juga masih mencermati prospek penyelesaian konflik antara AS dan Iran. Meski kedua negara telah menyepakati gencatan senjata sejak awal April, investor menilai situasi tersebut masih rapuh dan berisiko berubah sewaktu-waktu.

Melansir Reuters, indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan mata uang Negeri Paman Sam terhadap enam mata uang utama dunia, sempat menguat namun kemudian memangkas kenaikannya setelah pengumuman dari Lebanon. Indeks dolar tercatat bergerak datar di level 99,17.

Sementara itu, euro menguat tipis 0,03% ke level US$ 1,1634 dan pound sterling naik 0,07% menjadi US$ 1,346.

Baca Juga: Inflasi Konsumen Korea Selatan Meroket, Waspada Kenaikan Suku Bunga!

Analis mata uang senior Commonwealth Bank of Australia, Kristina Clifton, memperkirakan AS dan Iran dapat mencapai kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz secara bertahap serta memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari guna melanjutkan negosiasi terkait pengayaan uranium Iran.

"Kami memperkirakan AS dan Iran akan menyepakati pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap dan perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari untuk melanjutkan pembahasan mengenai pengayaan uranium Iran dalam pekan ini," ujar Clifton.

Menurutnya, kabar positif terkait berakhirnya konflik berpotensi menekan dolar AS karena mata uang tersebut selama ini berfungsi sebagai aset safe haven.

"Kabar baik mengenai berakhirnya perang akan membebani dolar AS karena mata uang ini merupakan aset lindung nilai," tambahnya.

Baca Juga: Alphabet Incar Dana US$ 80 Miliar untuk Kembangkan AI, Berkshire Suntik US$ 10 Miliar

Yen Jepang Dekati Area Intervensi

Di Jepang, Menteri Keuangan Satsuki Katayama mengatakan pemerintah siap mengambil langkah yang diperlukan di pasar valuta asing apabila dibutuhkan. Namun, ia menolak memberikan komentar terkait pergerakan nilai tukar yen terbaru.

Pernyataan tersebut muncul ketika yen diperdagangkan di level 159,66 per dolar AS, hanya sedikit di bawah level psikologis 160 yang selama ini dianggap pasar sebagai titik potensial intervensi pemerintah Jepang.

Kepala Strategi Mata Uang Mizuho Securities Masafumi Yamamoto mengatakan, risiko intervensi akan meningkat apabila dolar AS menembus level tersebut.

"Jika dolar AS terhadap yen menembus level 160, risiko melampaui puncak pada 30 April akan meningkat secara signifikan, sehingga peluang munculnya peringatan verbal yang lebih keras maupun intervensi langsung akan semakin besar," jelas Yamamoto.

Selain itu, pelaku pasar juga menantikan pidato Gubernur Bank of Japan (BOJ) Kazuo Ueda pada Rabu (3/6) untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga Jepang.

Baca Juga: Harga Minyak Ditutup Melonjak 4%: Pembicaraan AS-Iran Terhenti, Risiko Blokade Naik

Fokus Beralih ke Data Tenaga Kerja AS

Dari Amerika Serikat, investor kini menunggu rilis data lowongan pekerjaan atau Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) yang akan dipublikasikan Departemen Tenaga Kerja AS.

Data tersebut menjadi salah satu indikator penting menjelang laporan ketenagakerjaan bulanan AS yang akan dirilis pada Jumat (5/6).

Saat ini pasar memperkirakan Federal Reserve (The Fed) cenderung akan menaikkan suku bunga acuan dibandingkan ekspektasi sebelumnya yang memperkirakan pemangkasan suku bunga sebelum pecahnya konflik Iran.

Lonjakan harga energi akibat ketegangan geopolitik dinilai berpotensi meningkatkan tekanan inflasi sehingga membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter.

Berdasarkan survei Reuters terhadap ekonom, jumlah lapangan kerja baru di AS diperkirakan bertambah 85.000 pada Mei, sementara tingkat pengangguran diperkirakan tetap berada di level 4,3%.

Baca Juga: Wall Street Bertahan Dekat Rekor Tertinggi, Euforia AI Redam Kekhawatiran Perang Iran

Mata Uang Komoditas Menguat Tipis

Di kawasan Asia Pasifik, dolar Australia menguat 0,1% ke level US$ 0,7162, sedangkan dolar Selandia Baru atau kiwi naik 0,07% menjadi US$ 0,5933.

Di pasar aset digital, Bitcoin melemah 0,13% ke level US$ 71.277,59, sementara Ethereum turun tipis 0,04% menjadi US$ 2.001,94.

Pergerakan pasar global dalam beberapa hari ke depan diperkirakan masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan diplomasi di Timur Tengah, arah kebijakan bank sentral utama dunia, serta data ekonomi AS yang menjadi acuan investor dalam menilai prospek suku bunga.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×