kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.680.000   -30.000   -1,11%
  • USD/IDR 17.887   11,00   0,06%
  • IDX 6.300   32,47   0,52%
  • KOMPAS100 826   3,68   0,45%
  • LQ45 628   1,77   0,28%
  • ISSI 218   1,35   0,62%
  • IDX30 352   0,19   0,05%
  • IDXHIDIV20 427   -1,45   -0,34%
  • IDX80 94   0,46   0,49%
  • IDXV30 118   0,04   0,03%
  • IDXQ30 111   -0,20   -0,18%

Harga Minyak dan Emas Naik, Pasar Global Menanti Data Inflasi AS


Rabu, 12 Agustus 2026 / 09:32 WIB
Harga Minyak dan Emas Naik, Pasar Global Menanti Data Inflasi AS
ILUSTRASI. JAPAN-ECONOMY-STOCKS (AFP/KAZUHIRO NOGI)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Harga minyak dan emas menguat pada perdagangan Rabu (12/8/2026), sementara saham-saham regional Asia bergerak hati-hati di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan penantian data inflasi Amerika Serikat (AS).

Investor mencermati data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS yang akan dirilis hari ini. Data tersebut dinilai dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada pertemuan September mendatang.

Baca Juga: Dolar Taiwan Menguat Rabu (12/8), Rupiah Jadi Mata Uang Asia yang Melemah

"Sentimen pasar masih lesu di tengah risiko geopolitik yang terus membayangi dan investor bersiap menghadapi data CPI AS," kata Kyle Rodda, analis pasar keuangan senior di Capital.com.

Menurutnya, minimnya perkembangan signifikan dalam pembicaraan AS-Iran serta sikap Iran yang tetap mempertahankan kendali atas Selat Hormuz membuat risiko harga minyak cenderung mengarah ke atas.

Minyak dan Emas Menguat

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 0,89% menjadi US$83,94 per barel. Sementara harga minyak Brent menguat 0,78% menjadi US$89,60 per barel.

Kedua harga acuan tersebut pada perdagangan Selasa (11/8) ditutup naik lebih dari US$1 per barel. Level tersebut merupakan penutupan tertinggi sejak 31 Juli.

Baca Juga: Bos Konglomerat US$400 Miliar Ini Dikabarkan Segera Mundur

Kenaikan harga minyak berlanjut setelah kedua benchmark tersebut melonjak sekitar 5% pada Senin (10/8), seiring memudarnya harapan terhadap kesepakatan damai antara AS dan Iran.

Harga emas spot juga naik 0,46% menjadi US$4.387,03 per ons troi.

Serangan Kapal Picu Kekhawatiran Energi

Ketegangan geopolitik menjadi salah satu pendorong harga komoditas. AS dan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran melaporkan serangan terpisah terhadap kapal di jalur pelayaran strategis.

Kementerian Transportasi Yaman mengatakan empat awak kapal milik Mesir tewas dalam serangan Houthi pada Selasa.

Baca Juga: Harga Emas Spot Kembali Menguat Rabu (12/8) Pagi, Pasar Menanti Data Inflasi AS

Jika dikonfirmasi, korban tersebut akan menjadi kematian pertama akibat serangan Houthi terhadap pelayaran sejak perang Iran dimulai pada 28 Februari.

Militer AS juga mengatakan telah menyerang sebuah kapal kontainer yang berusaha berlayar menuju pelabuhan Iran.

Perang tersebut belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir meski Presiden AS Donald Trump berulang kali mengatakan kesepakatan dengan Iran sudah semakin dekat.

Korea Utara dan Taiwan Tambah Risiko Geopolitik

Sentimen pasar Asia juga tertekan oleh perkembangan geopolitik lainnya.

Korea Utara meluncurkan rudal balistik ke arah lepas pantai timur Semenanjung Korea.

Baca Juga: Trump Sebut Pesawat yang Ditumpanginya Berisiko Jadi Target Pembunuhan Iran

Peluncuran tersebut terjadi beberapa hari sebelum latihan militer gabungan besar antara Korea Selatan dan AS yang selama ini ditentang Pyongyang.

Sementara itu, Taiwan mengecam rencana latihan angkatan laut China bersama kapal perang Indonesia di perairan sebelah timur Taiwan.

MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik 0,5%. Indeks Nikkei Jepang bergerak datar setelah pasar kembali dibuka usai libur.

CPI AS Jadi Perhatian Utama

Data CPI AS yang dirilis Rabu tidak akan sepenuhnya mencerminkan kenaikan harga energi terbaru.

Namun, data tersebut tetap berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar terhadap keputusan The Fed bulan depan.

Baca Juga: Dolar AS Bergerak Datar, Pasar Menanti Data Inflasi untuk Prediksi The Fed

Pasar uang saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed berada di sekitar 50%.

Jajak pendapat Reuters memperkirakan harga konsumen AS naik 0,1% pada Juli setelah turun 0,4% pada Juni. Secara tahunan, inflasi CPI diperkirakan melambat menjadi 3,4% dari 3,5% pada bulan sebelumnya.

"Semua mata tertuju pada laporan CPI," kata Skye Masters, kepala riset pasar National Australia Bank.

Menurutnya, jika data CPI menunjukkan inflasi tidak berubah, pasar obligasi AS berpotensi menguat karena investor mengurangi ekspektasi terhadap pengetatan kebijakan The Fed.

Imbal Hasil Obligasi Jepang Capai Rekor

Di Jepang, pasar semakin memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga lebih awal. Kondisi tersebut memberikan tekanan terhadap obligasi pemerintah Jepang tenor pendek.

Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor lima tahun naik menjadi 2,1%, level tertinggi sepanjang masa. Sementara imbal hasil tenor dua tahun mencapai 1,63%, level tertinggi dalam 31 tahun.

Di pasar valuta asing, indeks dolar AS naik tipis 0,04% menjadi 99,85.

Baca Juga: Latihan Militer China-Indonesia di Timur Taiwan Picu Ketegangan Baru

Euro melemah 0,02% menjadi US$1,1538, sedangkan yen Jepang turun 0,03% menjadi 159,31 per dolar AS.

Yen masih berada jauh dari level 155,20 per dolar AS yang dicapai pekan lalu setelah sejumlah dugaan intervensi pasar valuta asing.

Poundsterling Inggris juga turun tipis 0,01% menjadi US$1,3501.

Di awal perdagangan Eropa, kontrak berjangka Euro Stoxx 50 turun 0,15% menjadi 6.563. DAX Jerman melemah 0,12% menjadi 26.444, sedangkan FTSE futures turun 0,25% menjadi 10.825.

Sementara itu, kontrak berjangka S&P 500 AS naik tipis 0,03% menjadi 7.750.




TERBARU

[X]
×