Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) bergerak datar pada awal perdagangan Asia, Rabu (12/8/2026).
Pelaku pasar mengabaikan kembali meningkatnya serangan terhadap kapal di jalur pelayaran strategis Timur Tengah dan memilih menunggu rilis data inflasi AS untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Rabu (12/8) Pagi, Brent ke US$89,63 dan WTI ke US$83,91
Melansir Reuters, Yen Jepang bergerak stabil di level 159,275 per dolar AS. Mata uang Jepang tersebut masih berada di sekitar level terlemahnya dalam sebulan, meski sebelumnya otoritas AS dan Jepang melakukan intervensi bersama untuk memperkuat yen.
Sementara itu, euro bertahan di US$1,1542 per euro. Poundsterling Inggris juga tidak banyak berubah di level US$1,3508.
Dolar Australia dan dolar Selandia Baru masing-masing stabil di US$0,7064 dan US$0,5879.
Pasar Menanti Data Inflasi AS
Perhatian utama pasar pekan ini tertuju pada data inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis pada Rabu.
Data tersebut dinilai penting untuk memperkirakan arah kebijakan suku bunga The Fed dalam beberapa bulan mendatang.
Baca Juga: Latihan Militer China-Indonesia di Timur Taiwan Picu Ketegangan Baru
Laporan ketenagakerjaan AS pekan lalu yang lebih lemah dari perkiraan serta konferensi pers Ketua The Fed Kevin Warsh bulan lalu belum sepenuhnya menghilangkan ketidakpastian mengenai arah kebijakan bank sentral AS.
Analis ING memperkirakan masih terdapat ruang bagi inflasi AS untuk melandai sepanjang sisa 2026, dengan asumsi harga minyak tetap terkendali dan Selat Hormuz kembali dibuka.
"Ada jalur menuju penurunan inflasi seiring berjalannya sisa 2026," tulis analis ING dalam catatannya.
Menurut mereka, pasar saat ini bahkan telah memperhitungkan skenario penurunan inflasi yang relatif moderat.
Harga Minyak Jadi Risiko Inflasi
Harga minyak mentah kembali menguat pada perdagangan Asia, sehingga menjadi salah satu faktor yang berpotensi memengaruhi inflasi AS.
Harga minyak Brent naik sekitar 0,6% menjadi US$89,40 per barel setelah kelompok Houthi yang didukung Iran menyerang kapal kargo di Selat Bab el-Mandeb.
Baca Juga: Investasi Asing Ogah Masuk Ke Negara Tetangga RI Ini, Tanam Modal Anjlok Ke Terendah
Selain itu, militer AS melakukan serangan terhadap kapal kontainer di lepas pantai Pakistan yang disebut berupaya menerobos blokade terhadap Selat Hormuz.
Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global. Jika harga minyak terus naik, tekanan inflasi dapat kembali meningkat dan memengaruhi keputusan The Fed.
Presiden Federal Reserve Bank of Chicago Austan Goolsbee mengatakan pada Selasa bahwa bank sentral AS saat ini lebih mengkhawatirkan inflasi yang terlalu tinggi dibandingkan pelemahan pasar tenaga kerja.
Namun, belum jelas apakah pandangan Goolsbee sejalan dengan kelompok kecil pejabat The Fed yang mendukung kenaikan suku bunga pada pertemuan bulan lalu.
Pasar Terbelah soal Suku Bunga The Fed
Pelaku pasar masih terbagi mengenai keputusan The Fed pada pertemuan September mendatang.
Berdasarkan CME Group FedWatch Tool, kontrak futures suku bunga The Fed menunjukkan probabilitas 52% bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan yang berakhir 16 September.
Baca Juga: Korea Utara Luncurkan Proyektil Tak Dikenal Jelang Latihan Gabungan Korsel-AS
Sementara itu, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin mencapai 48%.
Perbedaan ekspektasi tersebut menunjukkan bahwa data inflasi AS akan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan arah pasar valuta asing dan aset berisiko dalam beberapa pekan ke depan.
Bitcoin Melemah Tipis
Di pasar aset kripto, Bitcoin juga bergerak melemah tipis. Harga Bitcoin turun 0,2% menjadi US$63.554,30.
Sementara itu, Ethereum turun 0,1% menjadi US$1.879,62.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
