Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa Amerika Serikat (AS) memegang peran penting dalam menentukan kapan konflik antara kedua negara dapat berakhir.
Dalam wawancara yang disiarkan program Special Report with Bret Baier di Fox News, Kamis (24/9/2026), Pezeshkian mengatakan Iran tidak menginginkan perang berkepanjangan, namun keputusan untuk mengakhirinya bergantung pada langkah Washington.
“Kami tidak ingin melanjutkan perang ini. Amerika yang harus memilih apakah ingin mengakhirinya atau tidak,” kata Pezeshkian ketika ditanya mengenai kemungkinan konflik berakhir sebelum akhir tahun.
Baca Juga: Arab Saudi Klaim Cegat Rudal Houthi, Incar Riyadh dan Fasilitas Aramco
Pernyataan tersebut disampaikan sehari setelah Pezeshkian berbicara di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa Teheran tidak akan menyerah terhadap tekanan AS, sementara kedua negara masih memiliki perbedaan pandangan mengenai jalan keluar konflik.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump pada Selasa (22/9) menyatakan bahwa AS dapat “menghancurkan” Iran jika tidak tercapai kesepakatan untuk mengakhiri perang. Namun, Trump juga mengisyaratkan peluang tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat.
Konflik antara AS, Israel dan Iran dimulai pada 28 Februari, ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran.
Teheran kemudian membalas dengan serangan ke wilayah Israel dan sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.
Sejak konflik berlangsung, serangan AS-Israel terhadap Iran serta serangan Israel di Lebanon telah menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar dan menyebabkan jutaan orang mengungsi.
Salah satu tujuan operasi militer yang disampaikan pemerintah AS adalah melemahkan kemampuan nuklir Iran.
Baca Juga: Harga Minyak Ditutup Naik Sekitar 3%, Terbakar Serangan Houthi di Arab Saudi
Iran menegaskan bahwa negara tersebut tidak memiliki senjata nuklir dan membantah tuduhan bahwa Teheran berupaya mengembangkannya.
Pemerintah Iran juga menyatakan bahwa sebagai anggota Traktat Non-Proliferasi Nuklir (Non-Proliferation Treaty/NPT), negara itu memiliki hak untuk mengembangkan teknologi nuklir untuk tujuan damai.
Perkembangan konflik di Timur Tengah terus menjadi perhatian pasar global karena berpotensi memengaruhi pasokan energi, pergerakan harga minyak, serta sentimen investor terhadap aset berisiko.














