kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.750.000   10.000   0,36%
  • USD/IDR 17.744   36,00   0,20%
  • IDX 6.502   -24,02   -0,37%
  • KOMPAS100 848   -1,25   -0,15%
  • LQ45 642   -2,64   -0,41%
  • ISSI 228   -0,01   0,00%
  • IDX30 359   -1,39   -0,39%
  • IDXHIDIV20 437   -0,21   -0,05%
  • IDX80 97   -0,26   -0,27%
  • IDXV30 121   0,35   0,29%
  • IDXQ30 114   -0,45   -0,40%

Dukungan Warga AS Terhadap Perang Iran Makin Rendah, Popularitas Trump Jatuh


Selasa, 25 Agustus 2026 / 05:31 WIB
Dukungan Warga AS Terhadap Perang Iran Makin Rendah, Popularitas Trump Jatuh
ILUSTRASI. Perang AS - Iran (REUTERS/David Ryder)


Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Dukungan publik Amerika Serikat (AS) terhadap perang dengan Iran merosot ke tingkat terendah sejak awal konflik, yang turut membawa popularitas Presiden AS Donald Trump tetap berada di rekor terendah. Demikian jajak pendapat Reuters/Ipsos yang dirilis Senin (24/8/2026).

Jajak pendapat selama empat hari tersebut menunjukkan hanya 31% warga AS yang mendukung aksi militer AS terhadap Iran, turun dari 37% dalam jajak pendapat Reuters/Ipsos bulan Maret dan 34% pada awal bulan ini.

Penurunan ini didorong oleh berkurangnya jumlah responden yang mengidentifikasi diri sebagai pendukung Partai Republik yang mendukung konflik tersebut. Sekitar 69% responden dari Partai Republik mendukung perang ini, dibandingkan dengan 77% pada bulan Maret.

Baca Juga: Pemerintahan Trump Akan Tetapkan Biaya Lebih dari US$ 100.000 untuk Visa Pekerja H-1B

Perang Iran ini telah membebani citra publik Trump tahun ini, dan untuk kedua kalinya secara berturut-turut. Hanya 33% responden yang menyatakan setuju dengan kinerja politisi Partai Republik tersebut di Gedung Putih. Angka ini merupakan tingkat terendah dalam jajak pendapat Reuters/Ipsos selama masa jabatan pertama maupun kedua Trump.

Trump telah mengatakan kepada warga Amerika bahwa perang tersebut—yang dimulai dengan serangan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari—diperlukan untuk mencegah Teheran mengembangkan senjata nuklir.

Konflik ini telah mereda dalam beberapa bulan terakhir, namun Iran tetap mempertahankan blokade de facto terhadap ekspor minyak dari kawasan tersebut, yang telah mendorong harga bensin di AS mendekati rekor tertinggi.

Trump telah berjanji untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran—dan Menteri Keuangan Scott Bessent pada hari Senin mengumumkan kemungkinan perluasan sanksi bagi negara-negara yang berbisnis dengan Iran, namun belum sampai pada tahap menjatuhkan sanksi secara nyata; hal ini mencerminkan betapa peliknya konflik tersebut bagi pemerintahannya.

Kekhawatiran Perang Berkepanjangan

Sekitar 83% masyarakat berpendapat bahwa perang akan berlangsung "dalam jangka waktu yang lama"—demikian hasil jajak pendapat terbaru Reuters/Ipsos, naik dari 80% pada awal bulan ini.

Dalam kampanye menjelang pemilihan presiden 2024, Trump menjanjikan pengendalian inflasi dan penghindaran konflik militer yang berkepanjangan. Setelah enam bulan perang dengan Iran berlangsung, harga bensin di AS tercatat lebih tinggi lebih dari satu dolar per galon dibandingkan sebelum perang dimulai.

Baca Juga: Iran Peringatkan Kapal yang Melanggar Aturan di Selat Hormuz, Ancam Jatuhkan Denda

Kondisi ini membebani sekutu Trump dari Partai Republik yang harus mempertahankan keunggulan tipis mereka di Kongres pada pemilihan paruh waktu tanggal 3 November. Dalam jajak pendapat tersebut, pemilih independen lebih condong mendukung Partai Demokrat dibandingkan Partai Republik—dengan perbandingan 33% berbanding 19%—saat ditanya pihak mana yang akan mereka pilih dalam pemilihan Kongres jika pemungutan suara dilakukan hari ini.

Jajak pendapat ini melibatkan 1.215 orang dewasa di seluruh AS sebagai responden dan memiliki margin kesalahan sebesar 3 poin persentase.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×