kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.580.000   10.000   0,39%
  • USD/IDR 17.898   -13,00   -0,07%
  • IDX 6.159   -34,02   -0,55%
  • KOMPAS100 794   -2,65   -0,33%
  • LQ45 607   -1,45   -0,24%
  • ISSI 215   -2,01   -0,92%
  • IDX30 336   -0,87   -0,26%
  • IDXHIDIV20 430   -0,98   -0,23%
  • IDX80 91   -0,28   -0,30%
  • IDXV30 117   -0,79   -0,67%
  • IDXQ30 110   0,00   0,00%

Bisa Picu Ketegangan, Korea Utara Kecam AS Soal Penjualan Senjata ke Taiwan


Rabu, 07 Oktober 2026 / 10:46 WIB
Bisa Picu Ketegangan, Korea Utara Kecam AS Soal Penjualan Senjata ke Taiwan
ILUSTRASI. Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (via REUTERS/KCNA)


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  SEOUL. Korea Utara mengecam dukungan militer Amerika Serikat (AS) kepada Taiwan dan menilai penjualan senjata Washington berisiko meningkatkan ketegangan di Selat Taiwan.

Di saat yang sama, Pyongyang kembali menegaskan dukungannya kepada Rusia di tengah perang Rusia-Ukraina.

Pernyataan tersebut disampaikan media pemerintah Korea Utara, KCNA, pada Rabu (7/10/2026), yang mengutip analis urusan internasional Kim Myong Chol.

Ia menilai kebijakan AS terhadap Taiwan justru mengancam perdamaian dan stabilitas kawasan. 

Kim juga memperingatkan AS agar mempertimbangkan konsekuensi dari dukungannya terhadap Taiwan.

Baca Juga: Korea Utara Kecam Penjualan Senjata AS ke Korea Selatan, Akan Beri Tanggapan Tegas

“AS harus berpikir dua kali apakah siap menghadapi konfrontasi langsung dengan kekuatan nasional China yang kuat dan menghadapi konsekuensinya,” ucapnya.

Pernyataan itu muncul setelah dua unit pertama dari 66 jet tempur F-16V Block 70 yang dipesan Taiwan pada 2019 tiba di Taiwan pekan lalu. Pengiriman tersebut berlangsung ketika Taiwan menghadapi peningkatan tekanan militer dari China.

Sikap Pyongyang sejalan dengan posisi Beijing yang menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya. China menentang penjualan senjata AS ke Taiwan dan mendesak Washington menghentikan dukungan militer kepada pulau tersebut.

Korea Utara juga telah menyatakan dukungan terhadap prinsip “One China”. Saat bertemu Presiden China Xi Jinping di Pyongyang pada Juni lalu, pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menyatakan akan mendukung prinsip tersebut dalam situasi apa pun.

China merupakan sekutu perjanjian Korea Utara. Dalam pertemuan Juni, Xi dan Kim juga sepakat memperkuat hubungan di berbagai bidang, termasuk diplomasi, penegakan hukum dan militer.

Di sisi lain, Pyongyang kembali memperkuat dukungannya kepada Moskow. Dalam pesan ulang tahun kepada Presiden Rusia Vladimir Putin, Kim Jong Un menyatakan Korea Utara akan terus memperluas kerja sama dalam kerangka kemitraan strategis komprehensif kedua negara.

Baca Juga: Korea Utara Kecam Buku Putih Jepang, Ketegangan Militer Kedua Negara Kian Panas

Kim juga meyakini perang yang disebutnya sebagai perjuangan Rusia untuk mempertahankan kedaulatan, kepentingan keamanan dan integritas wilayah akan berakhir dengan kemenangan.

KCNA tidak secara eksplisit menyebut perang Rusia-Ukraina dalam laporan tersebut. Namun, Korea Utara dan Rusia semakin mempererat hubungan sejak Putin dan Kim menandatangani pakta pertahanan bersama pada Juni 2024.

Sejak 2024, Korea Utara juga diperkirakan telah mengirim sekitar 14.000 hingga 15.000 personel militer untuk mendukung Rusia dalam konflik dengan Ukraina, berdasarkan perkiraan Ukraina dan Korea Selatan.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×