Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - SEOUL. Korea Utara membantah tuduhan Korea Selatan bahwa ranjau yang dipasang Pyongyang menyebabkan dua tentara Korea Selatan terluka parah di zona demiliterisasi (DMZ).
Pyongyang juga menolak tuntutan Seoul agar meminta maaf atas insiden tersebut.
Bantahan itu disampaikan Kim Yo Jong, pejabat Partai Buruh Korea sekaligus saudara perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.
Melalui pernyataan yang dikutip kantor berita pemerintah KCNA, Kim menyebut tuduhan Korea Selatan sebagai sesuatu yang "tidak berdasar". "Korea Selatan membuat kesimpulan yang tidak berdasar," kata Kim.
Baca Juga: Korea Utara Uji Coba 10 Rudal Balistik Saat Latihan AS-Korea Selatan Dekati Akhir
Insiden tersebut terjadi pada 21 September ketika dua tentara Korea Selatan terluka parah akibat ledakan saat menjalankan misi pengintaian di dalam DMZ. Zona perbatasan selebar sekitar 4 kilometer itu membentang di sepanjang Semenanjung Korea.
Militer Korea Selatan sebelumnya menyimpulkan ranjau Korea Utara menjadi penyebab ledakan.
Seoul kemudian menuntut Pyongyang meminta maaf dan menghentikan aktivitas penguatan perbatasan. Militer Korea Selatan juga memperingatkan akan mengambil tindakan yang dianggap perlu sebagai respons.
Penyelidikan atas insiden tersebut dilakukan militer Korea Selatan bersama Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNC) yang mengawasi pelaksanaan gencatan senjata Perang Korea. Pada Rabu (30/9), UNC menyatakan insiden tersebut merupakan pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata Perang Korea.
Namun, Korea Utara membantah telah sengaja menanam ranjau di kawasan perbatasan untuk menyebabkan ledakan tersebut.
Baca Juga: Korea Utara Tegaskan Tak Terikat Lagi Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir
Kim mengatakan Seoul terlalu cepat menyimpulkan bahwa ledakan terjadi akibat pemasangan ranjau secara diam-diam dan sengaja oleh Pyongyang.
Kim juga mengecam tuntutan Korea Selatan agar Korea Utara meminta maaf. Menurut dia, tuntutan tersebut tidak masuk akal karena Pyongyang tidak mengakui telah melakukan pemasangan ranjau yang dituduhkan Seoul.
Terkait aktivitas penguatan perbatasan, Kim mengatakan langkah tersebut bertujuan menutup perbatasan Korea Utara secara permanen. Bahkan, menurut dia, pembatasan itu dirancang sedemikian rupa sehingga "bahkan hewan liar tidak dapat keluar-masuk".
Kim mempertanyakan alasan Korea Selatan menganggap Korea Utara sengaja memasang ranjau untuk menimbulkan insiden dengan Seoul.
Baca Juga: Korea Utara Tegaskan Tak Terikat pada Perjanjian Non Proliferasi Senjata Nuklir
Hubungan kedua Korea sendiri terus memburuk dalam beberapa tahun terakhir. Korea Utara telah meninggalkan tujuan reunifikasi sebagai agenda nasional dan secara terbuka menyebut Korea Selatan sebagai "musuh utama".














