kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.605.000   -25.000   -0,95%
  • USD/IDR 17.939   104,00   0,58%
  • IDX 6.299   -76,31   -1,20%
  • KOMPAS100 819   -14,09   -1,69%
  • LQ45 623   -9,92   -1,57%
  • ISSI 219   -2,18   -0,99%
  • IDX30 345   -5,37   -1,53%
  • IDXHIDIV20 429   -4,96   -1,14%
  • IDX80 93   -1,50   -1,58%
  • IDXV30 117   -1,48   -1,24%
  • IDXQ30 111   -1,66   -1,48%

Harga Minyak Ditutup Naik Sekitar 3%, Terbakar Serangan Houthi di Arab Saudi


Jumat, 25 September 2026 / 05:58 WIB
Harga Minyak Ditutup Naik Sekitar 3%, Terbakar Serangan Houthi di Arab Saudi
ILUSTRASI. Harga minyak Brent dan WTI ditutup melonjak setelah Arab Saudi mengatakan telah mencegat enam rudal balistik Houthi (REUTERS/Todd Korol)


Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga minyak ditutup melonjak naik sekitar 3% ke level tertinggi satu minggu setelah serangan rudal Houthi di Arab Saudi menghidupkan kembali kekhawatiran akan gangguan pasokan, tetapi perdagangan bergejolak dan harga turun dari level tertinggi sesi setelah laporan bahwa AS dan Iran membahas pembukaan kembali Selat Hormuz.

Kamis (24/9/2026), harga minyak mentah berjangka jenis Brent untuk kontrak pengiriman November 2026 ditutup naik US$ 3,52 atau 3,4% menjadi US$ 106,60 per barel.

Sejalan, harga minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate  (WTI) untuk kontrak pengiriman November 2026 ditutup menguat US$ 2,45 atau 2,7% ke US$ 94,61 per barel.

Pada titik tertinggi sesi tersebut, kedua kontrak naik sekitar 5%.

Baca Juga: Yield US Treasury Tenor 30 Tahun Capai Level Tertinggi Sejak 2004, Ini Penyebabnya

Brent mencatat penutupan tertinggi sejak 15 September. Ini juga merupakan kenaikan pertama dalam beberapa hari untuk WTI, yang turun 13% selama enam sesi sebelumnya.

Pada sesi tersebut, Arab Saudi mengatakan telah mencegat enam rudal balistik yang ditembakkan oleh Houthi Yaman yang didukung Iran, menggagalkan serangan di provinsi selatan Taif dan daerah Yanbu di Laut Merah, kata koalisi pimpinan Saudi di Yaman.

Maskapai penerbangan Iran dilarang masuk ke negara-negara tetangga termasuk UEA dan Oman sebagai tanggapan terhadap sanksi baru AS, dampak besar pertama dari pergeseran kebijakan AS untuk menargetkan perusahaan di negara ketiga yang berbisnis dengan Iran.

Dengan perang AS-Israel melawan Iran yang sebagian besar buntu selama berbulan-bulan di medan perang, Washington telah mengumumkan perpanjangan sanksi keuangannya, yang menargetkan perusahaan dari negara ketiga yang berbisnis dengan perusahaan Iran, praktik yang dikenal sebagai "sanksi sekunder".

Pada hari Rabu, Iran mengancam akan membalas negara-negara tetangga yang mematuhi larangan AS terhadap penerbangannya, dengan membuat bandara mereka "tidak dapat digunakan".

Secara terpisah, Arab Saudi sedang meningkatkan volume pemompaan minyak mentah melalui Pipa East-West yang mengarah ke pusat ekspor Laut Merah di Yanbu, meskipun pemuatan kapal tanker minyak mentah belum dilanjutkan, menurut sumber industri, citra satelit, dan data pengiriman.

PERUNDINGAN DAMAI SEDANG BERLANGSUNG

Negosiator AS dan Iran di New York sedang menjajaki jalur bertahap untuk keluar dari perang yang akan melibatkan Teheran membuka kembali Selat Hormuz dan Washington mencabut blokade ekonomi terhadap Iran, kata sumber yang dekat dengan perundingan tersebut.

Selat tersebut telah menjadi alat tawar-menawar utama dalam upaya untuk mengakhiri konflik AS-Iran yang hampir berlangsung selama tujuh bulan. Iran menginginkan keringanan dari blokade AS yang mencekik ekonominya, dan Washington menginginkan jalur bebas bagi kapal-kapal di rute pasokan minyak global yang kini diblokir oleh Teheran.

Menurut komentar dua sumber Iran, dua pejabat regional, dan dua sumber diplomatik Barat kepada Reuters, kedua pihak tidak ingin menyerahkan pengaruhnya.

Baca Juga: Ekonomi Global Tertekan, Ini Peringatan IMF

Dengan harga solar mencapai rekor tertinggi dalam beberapa pekan terakhir karena gangguan pasokan, kontak tingkat tinggi terus berlanjut antara Uni Eropa dan AS. AS dilaporkan berencana untuk melarang ekspor solar, sebuah langkah yang diyakini Uni Eropa dapat merugikan kedua belah pihak.

Pasokan solar global terbatas karena Moskow melarang ekspor bahan bakar tersebut akibat gangguan yang disebabkan oleh serangan Ukraina terhadap kilang dan infrastruktur energi Rusia. Serangan Iran terhadap kapal dan infrastruktur energi di Timur Tengah semakin mempersempit pasokan.

Menteri Energi AS Chris Wright telah menghubungi para eksekutif di beberapa kilang besar Amerika dalam beberapa hari terakhir untuk mengukur dukungan terhadap pembatasan sukarela ekspor solar karena pemerintahan Trump mencari alternatif selain larangan jangka pendek, menurut tiga orang yang mengetahui diskusi tersebut.

Baca Juga: Korea Utara Tolak Desakan Hentikan Uji Coba Nuklir dari Komunitas Internasional

Politico melaporkan bahwa AS sedang mempersiapkan larangan ekspor diesel selama 90 hari karena lonjakan harga menjelang pemilihan paruh waktu November. Wright membantah hal itu.

Para analis dan pengamat pasar telah memperingatkan bahwa larangan ekspor diesel AS tidak akan banyak membantu meredakan harga energi yang tinggi dan dapat memperburuk pasokan global serta semakin mengganggu perekonomian.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×