Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Imbal hasil (yield) US Treasury atau obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) naik dengan yield obligasi 30 tahun menyentuh level tertinggi sejak 2004 pada hari Kamis (24/9/2026), dengan penurunan harga obligasi baru-baru ini semakin dalam karena lebih banyak pejabat Federal Reserve (The Fed) mengatakan kenaikan suku bunga tambahan mungkin diperlukan untuk mengekang inflasi yang tinggi.
Imbal hasil US Treasury tenor 30 tahun terakhir naik 7 basis poin menjadi 5,472%. Angka tersebut sempat mencapai 5,5016%, level tertinggi sejak Juni 2004.
Imbal hasil US Treasury acuan tenor 10 tahun naik 7,1 basis poin menjadi 5,185%. Angka tersebut sempat mencapai 5,2251%, level tertinggi baru dalam 19 tahun.
Imbal hasil obligasi AS 7 tahun terakhir naik 8 basis poin menjadi 5,133%.
Baca Juga: Ekonomi Global Tertekan, Ini Peringatan IMF
Komentar dari para pembuat kebijakan The Fed, termasuk Presiden The Fed Philadelphia Anna Paulson dan Presiden The Fed New York John Williams, muncul sehari setelah Gubernur The Fed Michael Barr mengatakan bank sentral AS kemungkinan perlu menaikkan suku bunga lebih lanjut.
Para investor sekarang melihat peluang sekitar 70% untuk kenaikan suku bunga lagi ketika bank sentral AS bertemu lagi pada bulan Oktober, menurut FedWatch Tool dari CME Group. Ekspektasi itu turun menjadi 66% pada Rabu malam.
Sekedar mengingatkan, The Fed menaikkan suku bunga pekan lalu untuk pertama kalinya sejak 2023 dalam upaya untuk mengendalikan inflasi.
Imbal hasil, yang bergerak berlawanan arah dengan harga, naik tajam pada hari Rabu (23/9/2026) setelah laporan manajer pembelian AS yang lebih kuat dari perkiraan kembali memicu kekhawatiran inflasi dan menyebabkan para pedagang meningkatkan taruhan pada kenaikan suku bunga Fed.
Lelang obligasi tenor 5 tahun yang buruk pada hari Rabu (23/9/2026) menambah kenaikan imbal hasil pada hari itu. Pada hari Kamis (24/9/2026), imbal hasil sebagian besar bertahan pada level yang lebih tinggi setelah lelang obligasi tenor 7 tahun.
Harga obligasi di seluruh dunia telah berada di bawah tekanan selama berbulan-bulan karena perang antara AS-Israel dengan Iran yang telah mendorong harga energi naik. Sementara, pertumbuhan tetap stabil. Harga minyak juga naik pada hari Kamis karena ketidakpastian tentang perang di Timur Tengah terus berlanjut.
"Saya tidak ragu (The Fed akan) menaikkan suku bunga seperempat atau bahkan setengah poin lagi, tetapi itu masih menempatkan mereka di belakang kenaikan suku bunga pasar," kata Oliver Pursche, wakil presiden senior dan penasihat untuk Wealthspire Advisors di Westport, Connecticut.
"Pasar mencerminkan kekhawatiran atas harga energi yang tinggi, yang merupakan pendorong utama inflasi. Pertanyaannya adalah kapan harga tersebut akan mereda dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menormalkan harga energi."
Baca Juga: Rusia Usulkan Kenaikan Pajak untuk Mendukung Belanja Militer
Imbal hasil obligasi 30 tahun sedikit memperpanjang kenaikannya setelah Departemen Keuangan AS mengatakan telah melakukan pembelian kembali (buyback) US Treasury tenor 20 tahun hingga US Treasury 30 tahun senilai US$ 4,078 miliar sebagai bagian dari pembelian kembali yang sedang berlangsung untuk mendukung likuiditas pasar.
Obligasi senilai US$ 10,468 miliar ditawarkan selama operasi tersebut. Sebelumnya pada hari itu, Departemen Keuangan mengatakan akan membeli kembali hingga US$ 6 miliar obligasi.
Lelang obligasi tenor 7 tahun "lemah tetapi tidak seburuk lelang tenor 5 tahun kemarin," tulis Peter Boockvar, kepala investasi di One Point BFG Wealth Partners, mencatat bahwa lelang hari Kamis memiliki rasio penawaran terhadap permintaan di bawah rata-rata 12 bulan sebelumnya.
Imbal hasil US Treasury tenor 2 tahun, yang biasanya bergerak seiring dengan ekspektasi suku bunga The Fed, naik 1,9 basis poin menjadi 4,914%.
Bagian kurva imbal hasil obligasi pemerintah AS yang dipantau secara ketat, yang mengukur selisih antara imbal hasil obligasi pemerintah jangka 2 dan 10 tahun, dan dianggap sebagai indikator ekspektasi ekonomi, berada pada angka positif 26,9 basis poin.














