Sumber: Reuters | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - MOSKOW. Pemerintah Rusia memproyeksikan defisit anggaran sekitar 2% dari produk domestik bruto (PDB) untuk tiga tahun ke depan dan mengusulkan serangkaian kenaikan pajak guna menopang belanja militer. Hal ini terungkap dalam dokumen Kementerian Keuangan pada hari Kamis (24/9).
Pemerintah telah meninjau rancangan anggaran yang harus diserahkan ke parlemen sebelum 1 Oktober. Pemerintah menyatakan bahwa kebutuhan pertahanan dan keamanan merupakan prioritas strategis dalam anggaran baru tersebut.
"Sumber daya yang direncanakan akan memungkinkan penyediaan senjata dan peralatan militer yang diperlukan bagi angkatan bersenjata, modernisasi perusahaan pertahanan, serta pembayaran tunjangan bagi personel militer," ungkap kementerian tersebut.
Baca Juga: Korea Utara Tolak Desakan Hentikan Uji Coba Nuklir dari Komunitas Internasional
Biaya perang yang telah berlangsung selama 4,5 tahun di Ukraina terus meningkat bagi Rusia, di mana pertumbuhan ekonomi melambat tajam tahun lalu hingga mendekati nol persen, dan pemerintah terpaksa menaikkan pajak serta menambah utang untuk membiayai upaya perang.
Tahun ini, Rusia menghadapi tekanan tambahan akibat serangan pesawat nirawak (drone) Ukraina terhadap infrastruktur dan kilang minyak, sehingga harus mengeluarkan dana dalam jumlah yang tidak disebutkan untuk pertahanan terhadap drone, perbaikan, dan impor bahan bakar guna mengatasi kelangkaan di dalam negeri.
Risiko dapat memperlambat pertumbuhan
Pendapatan negara pada tahun 2027 diproyeksikan sebesar 43,3 triliun rubel (US$509 miliar) dengan belanja sebesar 48,8 triliun rubel, sehingga menghasilkan defisit sebesar 2,2% dari PDB, dibandingkan dengan proyeksi 1,2% dari PDB dalam perkiraan tiga tahun sebelumnya.
Sebagai bagian dari penyusunan anggaran baru, Kementerian Ekonomi sedikit menaikkan perkiraan pertumbuhan tahun ini menjadi 0,6% dari sebelumnya 0,4% berkat kuatnya tingkat konsumsi, namun menyatakan bahwa sejumlah risiko yang tidak disebutkan secara spesifik dapat memperlambat pertumbuhan.
Kementerian juga menaikkan proyeksi harga rata-rata minyak untuk tahun ini menjadi US$61,2 per barel untuk jenis Urals blend dari sebelumnya US$59, namun menyatakan bahwa harga aktual bisa lebih tinggi, sehingga menambah pendapatan anggaran.
Rusia telah merevisi prospek produksi dan ekspor gas alam serta minyak mentah di tengah memburuknya hubungan dengan Eropa.
Baca Juga: Klaim Pengangguran AS Dekati Level Terendah Dalam 57 Tahun, Pasar Kerja Menguat
Rusia menaikkan pajak tahun ini untuk menopang belanja militer, dan sepanjang tahun, para pejabat berupaya meyakinkan publik bahwa tidak akan ada lagi kenaikan pajak.
Pada hari Kamis, kementerian keuangan mengusulkan kenaikan pajak atas apa yang mereka sebut sebagai keuntungan berlebih di sektor logam dan pupuk akibat tingginya harga global, serta pajak atas perdagangan elektronik lintas batas.
Pihaknya juga mengusulkan kenaikan tarif pajak atas penghasilan pribadi yang bersifat pasif, seperti dari investasi sekuritas, penjualan properti, dan bunga deposito bank. Langkah ini diperkirakan akan berdampak pada sekitar 4 juta orang.
Industri menyusut, investasi turun
Berdasarkan perkiraan pemerintah yang baru dirilis pada hari Kamis, output industri Rusia diperkirakan akan turun sebesar 0,2% tahun ini—menandai kontraksi pertama sejak tahun 2020 (tahun pandemi COVID-19)—berbeda dari proyeksi pertumbuhan 0,6% yang dibuat sebelumnya.
Pemerintah menaikkan perkiraan inflasi tahun 2026 menjadi 6,8%. Penyesuaian ini dilakukan menyusul serangan pesawat nirawak (drone) terhadap kilang minyak, yang menyebabkan kelangkaan bahan bakar dan lonjakan harga.
Investasi modal, yang terdampak oleh tingginya suku bunga dan sanksi Barat, diperkirakan akan turun sebesar 5,4% tahun ini. Ini merupakan kontraksi terdalam sejak krisis ekonomi tahun 2015, saat investasi anjlok sebesar 10,1%.
Awalnya, penurunan investasi yang lebih moderat, yakni sebesar 1,5%, diproyeksikan untuk tahun ini. Untuk tahun 2027, kementerian ekonomi memperkirakan pertumbuhan investasi hampir nol persen, tepatnya 0,2%, dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya sebesar 2,0%.
Data tersebut juga menunjukkan bahwa konsumsi akan memberikan dukungan bagi perekonomian tahun ini; perkiraan pertumbuhan penjualan ritel direvisi naik menjadi 4,6% dari sebelumnya 0,8%, sementara proyeksi pertumbuhan upah riil direvisi naik menjadi 4,0% dari 2,2%.
Baca Juga: Arab Saudi Cegat Serangan Enam Rudal Balistik Houthi














