Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Imbal hasil (yield) obligasi Pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) tenor 10 tahun mencapai level tertinggi yang belum pernah terlihat sejak 2007 pada Selasa (15/9/2026).
Yield US Treasury naik saat para investor bersiap menghadapi apa yang diperkirakan banyak pihak sebagai langkah awal dari serangkaian kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) dalam upayanya memerangi inflasi yang membandel.
Akibat tekanan di pasar obligasi terjadi secara global, surat kabar Telegraph melaporkan pada Selasa (15/9/2026), bahwa Bank of England mungkin akan menghentikan penjualan obligasi pemerintah Inggris tenor 20 dan 30 tahun yang dimilikinya, yang diduga sebagai langkah untuk mengurangi tekanan pada utang jangka panjang.
Imbal hasil US Treasury jangka pendek mencapai level tertinggi sejak pertengahan 2024, seiring pasar memperhitungkan probabilitas 92% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4,0% pada hari Rabu. Serta adanya kemungkinan nyata suku bunga mencapai 4,5% tahun depan.
"Skenario yang paling mungkin terjadi menurut kami adalah imbal hasil akan terus bergerak naik dari titik ini," ujar Calvin Tse, kepala strategi dan ekonomi AS di BNP Paribas seperti dikutip Reuters.
"Dari segi level, sulit untuk memastikannya, karena kami meyakini imbal hasil tenor 10 tahun bisa naik lebih tinggi, baik karena pasar mengantisipasi jalur suku bunga yang lebih tinggi bagi The Fed maupun karena adanya ruang bagi term premium untuk turut meningkat," imbuhnya.
Baca Juga: Investor Mulai Cemas Belanja AI Melambat, Saham Semikonduktor Tertekan
Term premium adalah imbal hasil tambahan yang diminta investor untuk meminjamkan dana dalam jangka waktu lebih lama, sebagai kompensasi atas biaya peluang karena tidak memegang uang tunai tersebut.
Premi tersebut terus meningkat sepanjang tahun ini, sebagian sebagai kompensasi atas kenaikan inflasi yang dipicu oleh harga bahan bakar, di tengah konflik di Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Para investor juga mewaspadai lonjakan utang pemerintah secara global dan tertarik pada imbal hasil lebih tinggi yang ditawarkan oleh perusahaan hyperscaler saat mereka mendanai investasi besar-besaran di bidang kecerdasan buatan (AI).
Kombinasi faktor-faktor tersebut mendorong imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun hingga mencapai puncaknya di angka 5,0266% di Asia. Sementara imbal hasil tenor 30 tahun menyentuh 5,3858%. Adapun imbal hasil obligasi tenor 2 tahun berada di level 4,6819%.
Sejauh tahun ini, imbal hasil obligasi tenor 10 tahun telah naik 86 basis poin, sehingga meningkatkan biaya pinjaman bagi pembeli rumah, perusahaan, dan pemerintah—yang anggarannya masih mengalami defisit besar.
Imbal hasil yang lebih tinggi juga membuat obligasi lebih menarik dibandingkan saham, sekaligus meningkatkan tingkat diskonto yang diterapkan pada laba perusahaan di masa depan dan menguji valuasi saham.
Menteri Keuangan Scott Bessent telah berupaya membendung gejolak di pasar obligasi dengan meningkatkan volume pembelian kembali utang, namun hasilnya minim.
Baca Juga: Bank of England Hentikan Penjualan Gilts 20 dan 30 Tahun di Tengah Gejolak Pasar














