Reporter: Syamsul Ashar | Editor: Syamsul Azhar
KONTAN.CO.ID - JAKARTA - Presiden Iran Masoud Pezeshkian melontarkan pesan tegas yang mengunci perhatian diplomatik dunia. Melalui akun media sosialnya X, Pezeshkian menegaskan bahwa ketidakpercayaan mendalam Iran terhadap perilaku pemerintah AS tetap membeku.
Bagi Iran, penghormatan terhadap komitmen adalah syarat mutlak dialog bermakna, namun sinyal kontradiktif dari pejabat Amerika justru mencerminkan pesan pahit: tekanan agar Iran menyerah.
"Menghormati komitmen adalah dasar dari dialog yang bermakna. Ketidakpercayaan historis yang mendalam di Iran terhadap perilaku pemerintah AS tetap ada, sementara sinyal yang tidak konstruktif dan kontradiktif dari para pejabat Amerika membawa pesan pahit, mereka menginginkan penyerahan Iran. Rakyat Iran tidak akan tunduk pada kekerasan," tegas Pezeshkian.
Pernyataan Presiden Iran ini menjadi perhatian penting disaat upaya Pakistan Kembali menyatukan Iran dan Amerika Serikat di meja perundingan, Islamabad Talk putaran kedua.
Seiring ketidakpercayaan Iran, ketegangan diplomatik ini diperparah dengan situasi sikap yang abu-abu dari Amerika Serikat terkait keberadaan Wakil Presiden JD Vance sebagai negosiator.
Di satu sisi, sebelumnya Presiden Donald Trump melontarkan klaim kepada New York Post, bahwa Vance akan mendarat di Pakistan dalam hitungan jam untuk melangsungkan pembicaraan krusial dengan Iran.
Baca Juga: Presiden Iran: Serangan terhadap Ayatollah Khamenei Sama dengan Deklarasi Perang
Namun, laporan Reuters justru menyebutkan fakta kontras: mengutip sumber yang mengetahui masalah tersebut, Vance dikonfirmasi masih berada di Amerika Serikat pada hari Senin.
Resistensi ini kembali mengemuka dalam komunikasi telepon antara Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araqchi, dan Wakil Perdana Menteri Pakistan, Mohammad Ishaq Dar, pada Minggu malam.
Dalam diskusi tersebut, Wakil Perdana Menteri Pakistan memaparkan upaya negaranya untuk meredam perang dan memacu perdamaian di kawasan.
Menteri Luar Negeri Iran mengapresiasi jasa dan mediasi Pakistan dalam negosiasi gencatan senjata. Meski demikian, ia tak ragu mengingatkan kembali komitmen Iran pada jalur diplomatik yang berbasis pada rekam jejak.
Baca Juga: Luhut Prediksi Iran Tak Akan Lama Menutup Selat Hormuz
Araqchi secara spesifik menyoroti pengalaman pahit setahun terakhir serta pelanggaran komitmen berulang kali oleh Amerika Serikat, termasuk agresi militer terhadap Iran di tengah negosiasi pada Juni dan Juli 2025 sebagai bukti nyata niat buruk Washington.
Araqchi menilai tindakan AS belakangan ini—mulai dari pelanggaran gencatan senjata, ancaman terhadap blokade pelabuhan dan penembakan kapal kargo Iran, hingga retorika tuntutan Trump yang tidak masuk akal, sebagai tanda ketidakseriusan diplomasi.
Iran memastikan akan mengerahkan seluruh kapabilitas untuk mengamankan kepentingan nasional. Sebagai tindak lanjut, kedua pihak sepakat melanjutkan konsultasi demi menjaga stabilitas kawasan.
Di tengah situasi ini, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei memberikan klarifikasi krusial mengenai posisi Iran di Selat Hormuz:
Koordinasi Vertikal: Kementerian Luar Negeri dipastikan tidak mengambil langkah sepihak tanpa koordinasi dengan otoritas tingkat tinggi.
Prinsip Profesionalisme: Pandangan ahli disampaikan dengan kehati-hatian tinggi, namun keputusan strategis tetap merujuk pada otoritas berwenang.
Status Cuitan Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araqchi. Cuitan Araghchi bukanlah kebijakan baru, melainkan penegasan atas implementasi kesepahaman yang sempat tersendat akibat pelanggaran gencatan senjata di Lebanon dan kegagalan AS memenuhi komitmen. Pesan ini mengonfirmasi komitmen Iran untuk menjaga Selat Hormuz sesuai janji awal.
Tonton: Tak Hanya Blokade, AS Buru Semua Kapal Iran di Seluruh Dunia













