Reporter: Adi Wikanto | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - China berpotensi menjadi juara umum ke-12 kali dalam ajang Asian Games. Memasuki minggu pertama Asian Games 2026 di Aichi-Nagoya, Jepang, China kokoh di peringkat pertama dalam perolehan medali. Namun, medali emas bukan target utama China di ajang olahraga multi cabang tingkat Asia ini.
China kembali memperlihatkan kekuatannya dalam ajang Asian Games 2026 di Aichi-Nagoya, Jepang. Data Asian Games 2026 mencatat, hingga 24 September 2026, China sudah mendapatkan 80 medali emas, jauh lebih unggul dibandingkan tuan rumah Jepang yang berada di posisi kedua dengan 20 emas.
Dalam sejarah Asian Games, China sudah menjadi juara umum selama 11 kali secara berturut-turut. Pencapaian kali ini akan menjadikan China juara Asian Games 12 kali berturut-turut.
Selain membidik perolehan medali, negara tersebut menjadikan kompetisi olahraga Asia ini sebagai bagian dari upaya memperkuat regenerasi atlet dan memperluas basis prestasi menuju Olimpiade Los Angeles 2028.
China dikenal memiliki kekuatan besar di sejumlah cabang olahraga, seperti loncat indah, senam, angkat besi, menembak, tenis meja, dan bulu tangkis. Namun, strategi pengembangan olahraga negara tersebut diarahkan untuk membangun kemampuan yang lebih merata di berbagai cabang.
China Daily, sebagaimana dikutip dari en.hangzhou.com.cn, melaporkan bahwa China berupaya mengurangi ketergantungan terhadap cabang-cabang tradisional melalui pengembangan atlet dan pembinaan olahraga secara lebih menyeluruh.
Baca Juga: Bagi Paus Leo, Risiko Kiamat AI Menjadi Perhatian Utama
Strategi 633 Jadi Bagian Pengembangan Olahraga China
Salah satu pendekatan yang disebut dalam laporan tersebut adalah strategi "633" dalam Rencana Lima Tahun ke-15 untuk pengembangan olahraga China periode 2026–2030.
Strategi ini membagi 12 cabang olahraga ke dalam tiga kelompok utama, yaitu:
| Kelompok | Cabang olahraga |
|---|---|
| Enam cabang tradisional | Loncat indah, senam, angkat besi, menembak, tenis meja, bulu tangkis |
| Tiga cabang fundamental | Atletik, renang, olahraga air |
| Tiga olahraga beregu | Sepak bola, bola basket, bola voli |
Strategi tersebut diarahkan untuk memperluas kekuatan olahraga China, tidak hanya melalui cabang yang selama ini menjadi sumber medali, tetapi juga melalui cabang dengan jumlah nomor pertandingan yang besar dan olahraga beregu.
Menteri Administrasi Umum Olahraga China Gao Zhidan mengatakan pada konferensi pers di Beijing, 3 September 2026, bahwa pengembangan olahraga kompetitif perlu dilakukan secara lebih komprehensif dan seimbang.
Menurut Gao, fokus pengembangan olahraga China perlu bergeser dari pencapaian terobosan di sejumlah cabang utama menuju pembinaan yang lebih menyeluruh.
Baca Juga: Taiwan Perkuat Patroli di Laut China Selatan, Kapal Baru Dikerahkan
Regenerasi Atlet Jadi Perhatian
Regenerasi menjadi salah satu aspek penting dalam strategi olahraga China. Komposisi kontingen yang didominasi atlet muda mencerminkan upaya negara tersebut menjaga kesinambungan prestasi dalam jangka panjang.
Di cabang loncat indah, China masih mengandalkan sejumlah juara Olimpiade, termasuk Chen Yiwen, Chen Yuxi, dan Wang Zongyuan.
Pada Asian Games Hangzhou 2022, China menyapu bersih 10 medali emas yang diperebutkan di cabang loncat indah. Rekam jejak tersebut menjadi salah satu dasar kekuatan China dalam mempertahankan prestasi di cabang tradisional.
Regenerasi juga terlihat dalam tenis meja. Para juara Olimpiade seperti Sun Yingsha, Wang Manyu, dan Wang Chuqin menjadi bagian dari tim China.
Pelatih kepala tim tenis meja China Qin Zhijian mengatakan para pemain senior meneruskan pengalaman kepada atlet muda, sementara generasi muda membawa energi baru bagi tim.
"Ketiga juara Olimpiade itu meneruskan pengalaman mereka kepada tujuh pemain muda, sementara para pemain muda membawa semangat dan dorongan untuk menginspirasi para peraih medali Olimpiade," kata Qin, seperti dikutip China Daily.
Baca Juga: Saudi Keluarkan Peringatan Bahaya di Mekkah, Tabuk, Jeddah, dan Yanbu
Atletik dan Renang Jadi Sasaran Penguatan
China juga berupaya memperkuat cabang atletik dan renang. Kedua cabang tersebut memiliki banyak nomor pertandingan sehingga pengembangan atlet di dalamnya dapat memperluas peluang perolehan medali.
Dalam materi yang dikutip China Daily, China mengirim 72 atlet atletik ke Aichi-Nagoya 2026. Sejumlah atlet muda menjadi sorotan, termasuk Yan Ziyi dan Chen Yujie.
Yan Ziyi, yang berusia 18 tahun, mencatat lemparan sejauh 71,74 meter pada nomor lempar lembing putri. Sementara itu, Chen Yujie yang berusia 17 tahun disebut memecahkan rekor Asia junior nomor lari 100 meter putri dengan catatan waktu 11,08 detik.
Di cabang renang, China juga menampilkan kombinasi atlet senior dan muda. Salah satu nama yang menjadi sorotan adalah Yu Zidi, perenang berusia 13 tahun.
Yu mencatat rekor Asian Games pada nomor 200 meter gaya kupu-kupu putri dengan waktu 2 menit 5,08 detik, berdasarkan materi awal. Laporan juga mengonfirmasi performanya yang mencuri perhatian di ajang Aichi-Nagoya.
Kehadiran atlet muda tersebut menunjukkan bagaimana China mengembangkan kekuatan di luar cabang olahraga yang secara historis menjadi andalannya.
Baca Juga: Stok BBM Singapura Turun 6,9%, Ekspor Bensin ke Indonesia Capai 231.000 Ton
Olahraga Beregu Masih Jadi Tantangan
Berbeda dengan cabang seperti senam, loncat indah, dan tenis meja, China masih menghadapi tantangan dalam pengembangan sepak bola, bola basket, dan bola voli.
Ketiga cabang tersebut menjadi bagian dari strategi 633. Pengembangan olahraga beregu membutuhkan pembinaan jangka panjang, kekuatan kompetisi domestik, serta kemampuan membangun tim yang konsisten.
Tim bola voli putri China, misalnya, menghadapi persaingan ketat dari negara-negara Asia lainnya. Kekalahan dari Thailand pada final Kejuaraan Asia sebelum Asian Games menjadi salah satu tantangan yang disebut dalam materi awal.
Sementara itu, tim bola basket putra China menghadapi hasil yang kurang menguntungkan dalam kompetisi Aichi-Nagoya. China kalah dari Jepang pada semifinal dan kemudian dari Iran dalam perebutan medali perunggu, sehingga finis di posisi keempat.
Pelatih Guo Shiqiang mengakui perkembangan tim-tim bola basket Asia Timur dan Asia Barat meningkatkan tingkat persaingan. Ia juga menyoroti sejumlah kesenjangan China jika dibandingkan dengan tim Eropa dan negara-negara terbaik dunia, terutama dalam kemampuan individu, intensitas pertandingan, dan duel fisik.
Hasil tersebut menggambarkan bahwa kekuatan China tidak sama merata di seluruh cabang olahraga.
Asian Games 2026 Jadi Persiapan Menuju Olimpiade 2028
Asian Games Aichi-Nagoya 2026 menjadi salah satu ajang penting bagi China untuk menguji hasil pembinaan atlet menjelang Olimpiade Los Angeles 2028.
China perlu mempertahankan kekuatan di cabang-cabang tradisional, sekaligus memperluas prestasi di atletik, renang, olahraga air, dan olahraga beregu.
Pengembangan atlet muda menjadi bagian dari upaya menjaga kesinambungan prestasi. Dengan memperluas basis atlet dan meningkatkan kedalaman di berbagai nomor pertandingan, China berupaya membangun sistem olahraga yang tidak hanya bergantung pada sejumlah cabang unggulan.
Dengan demikian, pencapaian China di Asian Games tidak semata-mata berkaitan dengan jumlah medali emas. Regenerasi atlet, pengembangan cabang olahraga yang lebih luas, serta pembinaan olahraga beregu juga menjadi aspek penting dalam strategi olahraga China menuju Olimpiade berikutnya.
Sebagian artikel berasal dari https://www.kompas.com/tren/read/2026/09/24/152900065/china-terus-panen-emas-di-asian-games-2026-apa-yang-bikin-mereka-sulit?page=all#page2.














