kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.602.000   -2.000   -0,08%
  • USD/IDR 17.681   54,00   0,31%
  • IDX 6.535   -6,68   -0,10%
  • KOMPAS100 866   8,07   0,94%
  • LQ45 659   9,32   1,43%
  • ISSI 225   -2,18   -0,96%
  • IDX30 366   5,04   1,40%
  • IDXHIDIV20 458   8,21   1,83%
  • IDX80 99   1,17   1,20%
  • IDXV30 126   0,85   0,68%
  • IDXQ30 118   2,25   1,94%

Kredit Bank China Agustus Anjlok, Permintaan Pinjaman Masih Lemah


Senin, 14 September 2026 / 18:12 WIB
Kredit Bank China Agustus Anjlok, Permintaan Pinjaman Masih Lemah
ILUSTRASI. Yuan China (REUTERS/CHINA STRINGER)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Penyaluran kredit baru perbankan China kembali positif pada Agustus 2026 setelah mencatat kontraksi terbesar pada Juli.

Namun, realisasinya jauh di bawah ekspektasi pasar karena permintaan kredit rumah tangga dan korporasi masih lemah.

Berdasarkan perhitungan Reuters dari data People's Bank of China (PBOC) yang dirilis Senin (14/9/2026), bank-bank China menyalurkan kredit baru dalam yuan sebesar 60 miliar yuan atau sekitar US$ 8,95 miliar pada Agustus.

Baca Juga: The Fed Hadapi Tekanan Naikkan Bunga Saat Inflasi AS Kembali Memanas

Angka tersebut berbalik dari kontraksi 340 miliar yuan pada Juli. Namun, realisasi tersebut jauh di bawah perkiraan analis dalam jajak pendapat Reuters yang memproyeksikan kredit baru mencapai 400 miliar yuan.

Selain itu, penyaluran kredit Agustus masih jauh di bawah 590 miliar yuan pada periode yang sama tahun lalu.

Lemahnya penyaluran kredit mencerminkan permintaan pinjaman rumah tangga yang masih tertekan. Kredit rumah tangga China tercatat mengalami kontraksi selama enam bulan berturut-turut.

Capital Economics menilai kondisi tersebut membuat peluang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat masih kecil.

"Penurunan berkepanjangan dalam permintaan KPR sejak awal krisis properti menjadi salah satu penyebabnya. Namun, hambatan utama berasal dari lemahnya minat rumah tangga untuk membiayai konsumsi melalui utang," kata Capital Economics dalam sebuah catatan.

Sepanjang Januari-Agustus 2026, total penyaluran kredit baru mencapai 10,44 triliun yuan, turun dari 13,46 triliun yuan pada periode yang sama tahun lalu.

Pertumbuhan kredit yuan yang beredar juga melambat menjadi 4,9% secara tahunan pada Agustus, dari 5,1% pada Juli. Angka tersebut menjadi pertumbuhan terlemah yang pernah tercatat.

Baca Juga: Bank Global Ramai-ramai Prediksi The Fed Naikkan Suku Bunga Pekan Ini

Kredit rumah tangga, termasuk KPR, menyusut 202,9 miliar yuan pada Agustus. Meski lebih baik dibandingkan kontraksi 460,3 miliar yuan pada Juli, angka ini menunjukkan permintaan kredit konsumen masih lesu.

Sebaliknya, kredit korporasi meningkat 260 miliar yuan pada Agustus, berbalik dari penurunan 130 miliar yuan pada Juli.

Ekonomi China Masih Kehilangan Momentum

Lemahnya permintaan kredit menjadi hambatan berkepanjangan bagi ekonomi terbesar kedua dunia tersebut.

Kondisi ini terjadi meski pemerintah China berupaya memperluas sumber pembiayaan di luar kredit perbankan, termasuk melalui pasar saham dan obligasi.

Ekonomi China kehilangan momentum pada awal paruh kedua tahun ini. Pertumbuhan produksi industri dan penjualan ritel melambat di tengah gangguan cuaca ekstrem dan lemahnya permintaan domestik.

Kondisi tersebut meningkatkan tekanan terhadap pemerintah untuk memberikan stimulus tambahan.

Baca Juga: Saudi Terdesak Houthi, Putra Mahkota Mohammed bin Salman Temui Panglima AS

Data kredit yang mengecewakan, setelah pertumbuhan ekonomi kuartal II melambat ke level terendah dalam tiga setengah tahun, juga menunjukkan ketergantungan China terhadap ekspor untuk mengimbangi lemahnya konsumsi dan investasi.

China masih menghadapi tekanan dari tarif Amerika Serikat (AS) serta dampak konflik di Timur Tengah.

Untuk mendorong konsumsi dan investasi, Beijing baru-baru ini memperluas subsidi bunga pinjaman bagi perusahaan swasta kecil dan konsumen.

Pemerintah juga mengumumkan suntikan dana US$ 54 miliar kepada delapan lembaga keuangan milik negara untuk memperkuat modal inti dan menopang penyaluran kredit.

Pemerintah China bulan lalu juga meluncurkan sejumlah kebijakan untuk menstabilkan sektor properti, termasuk dukungan pembiayaan yang lebih besar bagi pengembang serta memperpanjang maksimum tenor KPR dari 30 tahun menjadi 40 tahun.

Namun, analis masih berhati-hati terhadap kecepatan pemulihan permintaan perumahan.

Capital Economics memperkirakan pemangkasan suku bunga sekitar 30 basis poin hingga akhir 2027.

Namun, kenaikan harga minyak dan potensi percepatan belanja fiskal membuat peluang pelonggaran moneter dalam waktu dekat semakin kecil.

Baca Juga: Dolar AS Menguat ke Level Tertinggi 2 Pekan Senin (14/9), Harga Minyak Jadi Pemicu

Pertumbuhan M2 Melambat

Data PBOC juga menunjukkan pertumbuhan jumlah uang beredar luas atau M2 melambat menjadi 7,5% secara tahunan pada Agustus.

Angka tersebut merupakan level terendah dalam 17 bulan dan berada di bawah proyeksi analis sebesar 7,6%.

Pertumbuhan M2 pada Juli tercatat 7,7%.

Sementara itu, jumlah uang beredar yang lebih sempit atau M1 tumbuh 4,1% secara tahunan pada Agustus, sedikit meningkat dari 4% pada Juli.

Total social financing, yang menjadi indikator luas kredit dan likuiditas dalam perekonomian China, tumbuh 7,2% secara tahunan pada Agustus. Pertumbuhan ini melambat dari 7,4% pada Juli.

Peningkatan penerbitan obligasi pemerintah berpotensi membantu mendorong pertumbuhan total pembiayaan sosial China ke depan.

Baca Juga: Kabur dari China Gara-gara Tarif AS, Perusahaan Kini Mulai Kembali




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×