kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.602.000   -2.000   -0,08%
  • USD/IDR 17.681   54,00   0,31%
  • IDX 6.535   -6,68   -0,10%
  • KOMPAS100 866   8,07   0,94%
  • LQ45 659   9,32   1,43%
  • ISSI 225   -2,18   -0,96%
  • IDX30 366   5,04   1,40%
  • IDXHIDIV20 458   8,21   1,83%
  • IDX80 99   1,17   1,20%
  • IDXV30 126   0,85   0,68%
  • IDXQ30 118   2,25   1,94%

Kabur dari China Gara-gara Tarif AS, Perusahaan Kini Mulai Kembali


Senin, 14 September 2026 / 16:47 WIB
Kabur dari China Gara-gara Tarif AS, Perusahaan Kini Mulai Kembali
ILUSTRASI. CHINA-ECONOMY (AFP/CN-STR)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Strategi perusahaan global memindahkan produksi keluar dari China untuk menghindari tarif Amerika Serikat (AS) mulai menghadapi tantangan.

Sejumlah perusahaan justru kembali menggunakan pemasok dan fasilitas produksi di China setelah menemukan bahwa membangun ekosistem manufaktur serupa di negara lain tidak mudah.

Fenomena tersebut muncul sekitar setahun setelah kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump mendorong perusahaan global melakukan diversifikasi rantai pasok.

Baca Juga: India Bisa Ekspor 1,64 Juta Ton Baja ke Uni Eropa, Tapi Terbebani Biaya Karbon

China memang menghadapi tarif AS yang lebih tinggi dibandingkan sejumlah negara Asia lainnya.

Namun, keunggulan China dalam tenaga kerja terampil, jaringan pemasok, infrastruktur produksi hingga ketersediaan listrik membuat sebagian perusahaan menilai biaya pindah produksi tidak selalu lebih murah.

Heather Kuang, wakil presiden Dawang Metals, perusahaan pengecoran logam berbasis di Dandong China mengatakan, salah satu pelanggan besar asal AS sempat mengalihkan sebagian pesanannya ke India untuk menghindari tarif.

Namun, pelanggan tersebut kemudian kembali dengan pesanan baru setelah menghadapi sejumlah kendala di India.

"Keunggulan rantai pasok China masih terlalu besar dan sulit untuk mereplikasi produksi domestik di tempat lain," ujar Kuang.

Dawang Metals sendiri sempat mempertimbangkan memindahkan sebagian produksinya ke luar negeri, tetapi akhirnya membatalkan rencana tersebut.

Baca Juga: Tesla Mendirikan Unit Bisnis di Vietnam, Bergerak di Penjualan Mobil

Biaya pindah produksi tak lagi murah

Strategi "China plus one", yakni mempertahankan produksi di China sambil membangun kapasitas tambahan di negara lain, memang masih berjalan.

Negara seperti Vietnam, Indonesia dan India tetap menarik investasi manufaktur dari sektor elektronik, otomotif dan industri lainnya.

Namun, sejumlah perusahaan mulai menyadari bahwa perbedaan tarif tidak otomatis menghasilkan biaya produksi yang lebih rendah.

Menurut estimasi Economist Intelligence Unit (EIU) pada Juli, tarif efektif AS terhadap China berada di sekitar 20%, sementara Vietnam sekitar 6,1%, Indonesia 13,4% dan Thailand 4,5%.

Keunggulan tarif tersebut kini mulai menyempit setelah Washington memperluas tarif ke lebih banyak negara. Kondisi itu membuat sebagian produsen China kembali mempertimbangkan investasi di dalam negeri.

Jin Chaofeng, eksportir furnitur luar ruang asal Hangzhou, bahkan menutup fasilitas produksinya di Ho Chi Minh City, Vietnam, yang baru dibuka pada 2024. Produksi tersebut kemudian dipindahkan kembali ke China tahun ini.

Menurut Jin, dirinya kesulitan mendapatkan peralatan produksi di Vietnam. Sejumlah kebutuhan dasar seperti sekrup dan cetakan untuk tempat gelas bahkan harus didatangkan dari China.

"Setelah memperhitungkan semuanya, biaya keseluruhan tidak jauh berbeda, jadi tidak ada gunanya," katanya.

Baca Juga: Harga Minyak Naik 3% Setelah Serangan Infrastruktur Energi Arab Saudi

Bukan hanya soal tarif

Pertimbangan perusahaan untuk mempertahankan produksi di China kini juga tidak lagi sebatas tarif.

Ketersediaan energi menjadi faktor penting, terutama ketika gejolak di Timur Tengah menyebabkan harga minyak dan biaya input meningkat.

Stanislaw Krykun, CEO perusahaan kemasan asal Polandia DST Pack mengatakan, pihaknya mampu melewati periode kenaikan harga bahan baku plastik sebesar 15% pada April dengan dukungan mitra manufakturnya di China.

DST Pack saat ini memasok sekitar 80% produksinya dari pabrik di Shenzhen, sedangkan 10% berasal dari fasilitas di AS dan 10% dari Eropa.

Menurut Krykun, biaya produksi di fasilitas alternatif tersebut bisa mencapai dua hingga tiga kali lipat dibandingkan produksi di China.

Krykun juga mengurungkan rencana memindahkan produksi ke Asia Tenggara setelah melihat mitra bisnisnya menghadapi berbagai kendala di Vietnam, mulai dari produksi hingga ekspor.

Pengacara yang berbasis di Qingdao dan menangani perusahaan manufaktur, Guan Baokui mengatakan, Vietnam dan Indonesia masih menghadapi tantangan terkait pasokan listrik yang tidak stabil dan berkesinambungan.

Masalah tersebut semakin terasa ketika harga minyak global meningkat.

Baca Juga: Frasers Naikkan Saham Hugo Boss di Atas 50%, Chairman Siap Mundur

Indonesia dan Vietnam tetap jadi alternatif

Meski sebagian perusahaan kembali ke China, tren diversifikasi manufaktur belum berakhir. Vietnam masih menjadi salah satu penerima manfaat terbesar dari strategi perusahaan mengurangi ketergantungan terhadap China, dengan investasi asing yang terus mengalir ke negara tersebut.

Yu Yangxian, produsen loker listrik dan mesin penjual otomatis, mengatakan perusahaannya tetap mempertahankan sekitar seperdelapan kapasitas produksi di Vietnam sebagai langkah mitigasi.

Menurut dia, kapasitas di Vietnam masih dapat diperbesar jika tarif AS kembali melonjak.

Artinya, perusahaan kini cenderung tidak sepenuhnya meninggalkan China maupun memindahkan seluruh produksinya ke negara lain.

Strategi yang berkembang adalah menjaga sejumlah pusat produksi sebagai alternatif untuk menghadapi perubahan tarif, gangguan rantai pasok dan risiko geopolitik.

Baca Juga: Harga Minyak Naik 3% Setelah Serangan Infrastruktur Energi Arab Saudi

Pelaku usaha juga tidak terlalu berharap pertemuan Trump dan Presiden China Xi Jinping yang diperkirakan berlangsung bulan ini dapat langsung menyelesaikan persoalan perdagangan.

Kuang mengatakan perusahaan harus mencari pasar ekspor lain untuk menjaga keberlangsungan bisnis dan tidak sepenuhnya bergantung pada kebijakan Trump.

"Kami tidak bisa bergantung kepadanya untuk mencari nafkah atau menggantungkan seluruh harapan kepadanya. Kami harus mencari pasar ekspor untuk mempertahankan bisnis," ujarnya.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×