Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Industri pengolahan kedelai China menghadapi tekanan biaya dan margin negatif menjelang kuartal IV 2026.
Persediaan kedelai di Brasil sebagai pemasok utama mulai mengetat, sementara tarif impor membuat kedelai Amerika Serikat (AS) sulit dijangkau oleh pengolah swasta China.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena China merupakan negara dengan industri pengolahan minyak nabati terbesar di dunia.
Baca Juga: China Perketat Aturan Pembayaran Produsen Mobil kepada Pemasok
Di sisi lain, industri tersebut tengah menghadapi pelemahan permintaan pakan akibat menyusutnya populasi babi di China.
Pelaku usaha kini berharap kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Washington bulan ini dapat membuka peluang bagi Beijing untuk menurunkan tarif impor 10% terhadap produk pertanian AS, termasuk kedelai.
Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer mengatakan pada Kamis (3/9/2026) bahwa kedua negara akan membuat sejumlah pengumuman terkait sektor pertanian dan hambatan non-tarif dalam pertemuan tersebut. Namun, ia tidak memberikan rincian lebih lanjut.
"Ketika Amerika Selatan mendekati akhir musim pemasarannya, pengolah swasta akan membutuhkan akses ke kedelai AS," kata Johnny Xiang, pendiri AgRadar Consulting yang berbasis di Beijing.
Menurut Xiang, akses tersebut bergantung pada kemungkinan penurunan tarif atau, jika tarif tetap berlaku, pelelangan cadangan kedelai milik Sinograin, perusahaan penyimpan cadangan pangan milik negara China.
Baca Juga: Dicurigai Lakukan Spionase Teknologi Semikonduktor, Belgia Tahan Warga China
Namun, prospek pelonggaran tarif masih belum pasti. Salah satu pengolah kedelai yang berbasis di China mengatakan pihaknya belum mempertimbangkan pembelian kedelai AS karena tarif yang berlaku.
"Jika tarif diturunkan, kami akan menghitung kembali margin pengolahan untuk menilai apakah kargo dari AS akan menguntungkan," ujarnya.
Harga Kedelai Naik, Margin Pengolah Tertekan
Tekanan terhadap industri pengolahan semakin besar karena harga kedelai global mengalami kenaikan.
Kontrak berjangka kedelai AS telah meningkat hampir 12% dari titik terendah pada Juni, didorong cuaca buruk di AS, pembelian oleh pemerintah China, serta kekhawatiran fenomena El Nino dapat mengganggu pasokan global.
Baca Juga: FTSE 100 Tertekan Harga Minyak dan Prospek Kenaikan Suku Bunga The Fed
Kedelai Brasil untuk pengiriman November ditawarkan dengan premi US$3,15-US$3,20 per bushel terhadap kontrak kedelai November di Chicago Board of Trade, termasuk biaya dan pengiriman ke China.
Sementara itu, kargo dari Gulf AS ditawarkan pada US$3,20-US$3,25 per bushel, belum termasuk tarif impor.
Meskipun kedelai AS saat ini lebih mahal dibandingkan pasokan Brasil, panen AS dalam beberapa pekan mendatang diperkirakan meningkatkan ketersediaan dan berpotensi menekan harga.
"Pada akhirnya, harga kedelai AS masih sangat tidak pasti karena permintaan pembelian dalam skala besar dari China belum muncul," kata Xiang.
Brasil sendiri baru akan memasuki musim panen berikutnya pada awal 2027.
Bahkan tanpa tambahan tarif 10%, impor kedelai AS untuk pengiriman Oktober-Januari diperkirakan masih menghasilkan margin pengolahan negatif pada harga saat ini.
Analis Shanghai JC Intelligence Rosa Wang mengatakan, margin pengolahan teoritis untuk kedelai Brasil dan AS, sebelum memperhitungkan tambahan tarif 10%, berada pada posisi rugi 150 yuan-230 yuan atau sekitar US$22,35-US$34,27 per ton untuk pengiriman Oktober-Desember.
Tekanan margin juga berpotensi meningkat seiring menyusutnya populasi babi China pada kuartal IV.
Pemerintah China tengah memperketat upaya mengurangi persediaan dan membatasi bobot babi untuk menstabilkan pasar yang mengalami kelebihan pasokan.
Baca Juga: Bank Sentral China Makin Agresif Memborong Emas
Pasokan Brasil Mulai Terbatas
Dari sisi pasokan, Brasil memiliki ruang terbatas untuk meningkatkan ekspor kedelai ke China pada kuartal IV.
Permintaan dari pembeli lain dan tingginya aktivitas pengolahan domestik membuat persaingan mendapatkan kedelai Brasil semakin ketat.
Petani Brasil telah menjual sekitar 82% hasil panen 2025/2026 hingga akhir Juli, dibandingkan 78% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut diperkirakan telah mendekati 85% saat ini.
"Pengolah domestik bersaing dengan eksportir dan terkadang membayar harga di atas harga paritas ekspor," kata Rafael Silveira, analis Safras & Mercado.
Pengiriman kedelai Brasil ke China hingga 25 Agustus turun 2,6 juta ton dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, pengiriman ke negara tujuan lainnya justru meningkat 6 juta ton.
China juga sebelumnya meningkatkan pasokan dari Argentina. Data bea cukai China menunjukkan Argentina memasok tambahan 7,9 juta ton kedelai ke China pada 2025, naik 92,4% dari 2024.
Baca Juga: TotalEnergies Dekati Keputusan Investasi Final Papua LNG
Namun, sumber pasokan tersebut diperkirakan tidak dapat menjadi penyangga yang sama kuat pada 2026 karena tidak ada insentif kebijakan serupa.
Sementara itu, importir China telah menyelesaikan sebagian besar pembelian untuk Oktober dan telah memesan sekitar 4,8 juta ton untuk November atau sekitar 60% dari proyeksi kebutuhan. Pembelian untuk pengiriman Desember dan Januari masih relatif minim.
Situasi ini membuat hasil pertemuan Xi Jinping dan Donald Trump menjadi salah satu faktor penting bagi prospek pasokan kedelai China pada akhir 2026.
Pelonggaran tarif AS berpotensi membuka kembali akses pengolah swasta China terhadap kedelai AS sekaligus mengurangi tekanan pasokan dari Amerika Selatan.














