Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - BEIJING/SINGAPURA. China dan Amerika Serikat (AS) berpeluang mencapai kesepakatan sektor pertanian dalam pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Xi Jinping pekan ini.
Namun, pelaku pasar menilai China kemungkinan tidak akan menambah pembelian kedelai AS secara signifikan di luar komitmen yang telah disepakati sebelumnya pada Oktober 2025.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Selasa (12/5), di Tengah Rapuhnya Negosiasi Damai AS-Iran
Sektor pertanian dinilai menjadi salah satu area yang relatif minim gesekan dalam hubungan bilateral kedua negara. Meski demikian, bentuk final kesepakatan yang akan diumumkan dalam pertemuan tingkat tinggi tersebut masih belum pasti.
Melansir Reuters Selasa (12/5/2026), sumber yang mengetahui pembahasan menyebut Gedung Putih tengah mendorong komitmen pembelian produk pertanian yang lebih besar dari Beijing, termasuk kedelai dan komoditas pangan lainnya.
“Mereka tahu itu sesuatu yang mereka butuhkan. Mereka juga tahu itu sesuatu yang ingin kami jual,” ujar seorang pejabat senior AS yang ikut memberi pengarahan terkait kunjungan Trump, tanpa merinci produk yang dimaksud.
Lebih dari selusin CEO dan eksekutif perusahaan besar AS disebut akan ikut mendampingi Trump dalam kunjungan tersebut. Salah satunya Chairman perusahaan perdagangan biji-bijian asal AS, Cargill, Brian Sikes.
Baca Juga: Australia Siapkan Reformasi Pajak Properti Besar-besaran, Defisit Anggaran Menyempit
Meski begitu, analis dan pedagang komoditas menilai ruang peningkatan impor kedelai China dari AS masih terbatas.
Hal ini disebabkan lemahnya permintaan domestik serta keberadaan pasokan kedelai murah dari Brasil.
Sebaliknya, pasar justru melihat peluang kesepakatan baru pada komoditas lain seperti jagung, sorgum, gandum penggilingan, daging sapi, dan unggas.
Sebagian pembahasan terkait komoditas tersebut sebelumnya juga sempat muncul dalam pertemuan tingkat tinggi kedua negara pada Maret lalu.
Direktur Trivium China, Even Rogers Pay, mengatakan masih terdapat ruang untuk memperluas kesepakatan pembelian produk ekspor utama AS selain kedelai.
“Kesepakatan itu bisa berbentuk komitmen volume pembelian untuk produk utama seperti jagung dan sorgum,” ujarnya.
Baca Juga: Kapal Migran Indonesia Tenggelam di Malaysia, 14 Orang Masih Hilang
Pada 2024, sebelum Trump kembali menjabat presiden, China membeli produk jagung, sorgum, dan gandum AS senilai sekitar US$ 4,5 miliar. Nilai itu masih jauh di bawah impor kedelai AS yang mencapai sekitar US$ 12 miliar.
Kementerian Perdagangan China maupun Kementerian Pertanian dan Urusan Pedesaan China belum memberikan tanggapan resmi terkait peluang kesepakatan tersebut.
Sementara itu, ketergantungan China terhadap produk pertanian AS terus menurun sejak perang dagang pada masa jabatan pertama Trump.
Pada 2024, porsi impor kedelai China dari AS tercatat hanya sekitar 20%, turun tajam dibandingkan 41% pada 2016. Bahkan pada tahun lalu, kontribusi AS terhadap total impor kedelai China hanya sekitar 15%.
Pelaku pasar kini menanti kejelasan implementasi komitmen pembelian kedelai yang disepakati tahun lalu, yakni sekitar 25 juta metrik ton per tahun hingga 2028. Jika terealisasi, angka tersebut akan menjadi volume tertinggi sejak 2022.
Baca Juga: Alphabet Siapkan Obligasi Yen Perdana untuk Danai Investasi AI
“China belum pernah secara resmi mengonfirmasi detail perjanjian tersebut. Belum jelas juga apakah target itu berlaku berdasarkan tahun kalender atau musim tanam,” kata Pay.
Di sisi lain, asosiasi petani kedelai AS berharap pertemuan Trump dan Xi dapat menghasilkan tambahan pembelian dari China.
“Kami tentu berharap ada tambahan pembelian dari China yang bisa mendekati volume ekspor normal seperti biasanya,” ujar Direktur Government Affairs American Soybean Association, Virginia Houston.













