Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan awal Asia, Selasa (12/5/2026), seiring rapuhnya negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung sejak Februari lalu.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik 30 sen atau 0,29% menjadi US$ 104,51 per barel pada pukul 00.02 GMT.
Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 31 sen atau 0,32% ke level US$ 98,38 per barel.
Baca Juga: Australia Siapkan Reformasi Pajak Properti Besar-besaran, Defisit Anggaran Menyempit
Kedua acuan minyak tersebut sebelumnya juga melonjak hampir 2,8% pada perdagangan Senin (11/5/2026).
Penguatan harga minyak terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyebut gencatan senjata dengan Iran berada dalam kondisi “on life support” atau sangat rapuh.
Pernyataan itu mencerminkan masih besarnya perbedaan sikap antara Washington dan Teheran terkait sejumlah tuntutan Iran, termasuk penghentian konflik di seluruh kawasan, pencabutan blokade laut AS, pemulihan ekspor minyak Iran, serta kompensasi atas kerusakan perang.
Iran juga kembali menegaskan kedaulatannya atas Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi jalur distribusi sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Baca Juga: Rupiah Anjlok ke Rp 17.495 per Dolar AS Selasa (12/5), Jadi Mata Uang Asia Terlemah
Chief Market Analyst KCM Trade Tim Waterer mengatakan, harga minyak berpotensi tetap bertahan di atas US$ 100 per barel selama negosiasi AS-Iran belum mencapai kesepakatan dan arus distribusi energi melalui Selat Hormuz masih terganggu.
“Terobosan nyata menuju perjanjian damai dapat memicu koreksi harga Brent sekitar US$ 8-US$ 12. Namun, jika terjadi eskalasi atau ancaman blokade baru, Brent berpotensi kembali menuju US$ 115 per barel,” ujarnya.
Gangguan distribusi akibat hampir tertutupnya Selat Hormuz telah memaksa sejumlah produsen memangkas ekspor minyaknya.
Survei Reuters menunjukkan produksi minyak OPEC pada April 2026 turun ke level terendah dalam lebih dari dua dekade.
CEO Saudi Aramco Amin Nasser juga memperingatkan bahwa gangguan ekspor melalui Selat Hormuz dapat menunda stabilisasi pasar energi global hingga 2027.
Baca Juga: Kapal Migran Indonesia Tenggelam di Malaysia, 14 Orang Masih Hilang
Menurut dia, potensi kehilangan pasokan mencapai sekitar 100 juta barel minyak per pekan.
Di tengah lonjakan harga energi, pemerintahan Trump pada Senin mengumumkan rencana peminjaman 53,3 juta barel minyak mentah dari cadangan strategis minyak AS atau Strategic Petroleum Reserve (SPR) guna membantu meredam gejolak pasar.
Data pelacakan kapal juga menunjukkan pengiriman minyak dari SPR AS sedang menuju Turki, menandai pengiriman pertama ke kawasan Mediterania dari cadangan strategis tersebut.
Sementara itu, menjelang pertemuan Trump dengan Presiden China Xi Jinping pekan ini, pemerintah AS juga menjatuhkan sanksi baru terhadap tiga individu dan sembilan perusahaan yang dituduh membantu pengiriman minyak Iran ke China.
Baca Juga: Alphabet Siapkan Obligasi Yen Perdana untuk Danai Investasi AI
Perusahaan yang terkena sanksi berasal dari Hong Kong, Uni Emirat Arab, dan Oman.
Di sisi lain, Wall Street Journal melaporkan Uni Emirat Arab (UEA) melakukan serangan militer terhadap Iran, termasuk serangan ke kilang minyak di Pulau Lavan pada awal April lalu. Namun, laporan tersebut belum dikonfirmasi secara resmi oleh pemerintah UEA.













