Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan menyentuh rekor terendah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (12/5/2026), di tengah penguatan dolar AS yang turut menekan mayoritas mata uang Asia lainnya.
Mengutip data Reuters pada pukul 02.12 GMT, rupiah berada di level Rp 17.495 per dolar AS, melemah 0,51% dibanding penutupan hari sebelumnya di Rp 17.405 per dolar AS.
Baca Juga: Kapal Migran Indonesia Tenggelam di Malaysia, 14 Orang Masih Hilang
Pelemahan rupiah menjadi salah satu yang terdalam di kawasan Asia bersama won Korea Selatan dan peso Filipina.
Selain rupiah, won Korea Selatan tercatat melemah 0,90% menjadi 1.486,10 per dolar AS. Sementara peso Filipina turun 0,81% ke level 61,406 per dolar AS.
Mata uang Asia lainnya juga bergerak melemah, di antaranya yen Jepang turun 0,23% ke 157,53 per dolar AS, dolar Singapura melemah 0,17% ke 1,270 per dolar AS, serta baht Thailand turun 0,29% ke 32,35 per dolar AS.
Di sisi lain, yuan China relatif stabil dan menguat tipis 0,03% ke level 6,794 per dolar AS. Dolar Taiwan juga naik tipis 0,01%.
Baca Juga: Kondisi Kesehatan Donald Trump Dipantau Publik, Pemeriksaan Fisik Digelar 26 Mei
Secara year to date (YTD) sepanjang 2026, rupiah tercatat telah melemah 4,72% dibanding posisi akhir 2025 di level Rp 16.670 per dolar AS.
Adapun rupee India menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia tahun ini setelah turun 5,71%, disusul peso Filipina yang melemah 4,24% dan won Korea Selatan sebesar 3,14%.
Tekanan terhadap mata uang Asia terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap konflik Timur Tengah, terutama setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan peluang kelangsungan gencatan senjata dengan Iran semakin kecil.
Baca Juga: Alphabet Siapkan Obligasi Yen Perdana untuk Danai Investasi AI
Ketegangan geopolitik tersebut mendorong harga minyak dunia tetap tinggi dan memicu kekhawatiran inflasi global, sehingga pasar memperkirakan suku bunga AS akan bertahan tinggi lebih lama.
Kondisi ini turut menopang penguatan dolar AS terhadap mayoritas mata uang emerging market, termasuk rupiah.













