Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) bergerak stabil pada perdagangan Selasa (26/5/2026) setelah optimisme pasar terhadap kesepakatan damai Iran mulai memudar akibat serangan terbaru AS ke Iran dan belum adanya kepastian pembukaan kembali Selat Hormuz.
Mengutip Reuters, pasar sebelumnya berharap konflik Iran dapat segera mereda dan jalur pelayaran strategis Selat Hormuz kembali dibuka.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Turun Hampir 1% Selasa (26/5), Setelah Harga Minyak Melonjak
Harapan tersebut sempat menekan harga minyak di bawah US$ 100 per barel, mengurangi tekanan terhadap mata uang negara berkembang, dan memperbaiki sentimen aset berisiko.
Namun, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan proses negosiasi dengan Iran masih dapat memakan waktu beberapa hari.
Pernyataan itu muncul sehari setelah AS melancarkan serangan yang disebut Washington sebagai serangan defensif di wilayah selatan Iran.
Euro tercatat melemah tipis ke level US$ 1,163 setelah sebelumnya naik 0,3% pada Senin. Sementara yen Jepang berada di posisi 158,99 per dolar AS.
Baca Juga: Boikot Meluas, Penjualan Starbucks di Korea Selatan Anjlok Setelah Kontroversi
Indeks dolar AS terhadap sekeranjang mata uang global berada di level 99,031.
Chief Investment Strategist Saxo di Singapura Charu Chanana menilai, pasar memang memiliki alasan untuk tetap optimistis karena potensi pembukaan Selat Hormuz dapat menurunkan risiko ekstrem terhadap harga minyak, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi global.
Namun, menurut dia, pasar belum bisa menganggap situasi benar-benar mereda hanya karena adanya kemajuan negosiasi.
“Ujian sesungguhnya bukan hanya kesepakatan di atas kertas, tetapi apakah kapal tanker bisa kembali bergerak bebas, premi asuransi turun, dan arus energi kembali normal,” ujarnya.
Baca Juga: Putin Berikan Keringanan Utang untuk Rekrutmen Tentara Baru Perang Ukraina
Chanana memperkirakan sentimen pasar masih akan bergerak fluktuatif atau stop-start risk-on trade hingga kepastian normalisasi pasokan energi benar-benar terjadi.
Dolar Australia yang kerap dianggap sebagai mata uang berisiko turun 0,23% ke level US$ 0,7158 setelah sehari sebelumnya menguat 0,65%.
Sementara dolar Selandia Baru melemah 0,42% ke level US$ 0,5848 menjelang keputusan kebijakan bank sentral negara tersebut pada Rabu (27/5).
Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS turun tajam setelah pasar AS kembali dibuka usai libur panjang, mengikuti pelemahan imbal hasil obligasi global yang dipicu harapan tercapainya kesepakatan damai.
Harga minyak juga kembali menguat setelah sebelumnya anjlok. Kontrak Brent naik 1,5% menjadi US$ 97,76 per barel setelah sempat merosot 7% pada perdagangan Senin.
Baca Juga: Dokumen Bersejarah Vatikan: Paus Leo XIV Sebut AI Bisa Picu Perang Tanpa Akhir
Meski demikian, sejumlah analis menilai harga energi tidak akan cepat kembali ke level sebelum perang meski konflik mereda dalam waktu dekat.
Normalisasi rantai pasok energi diperkirakan membutuhkan waktu lebih lama sehingga tekanan inflasi dan kekhawatiran suku bunga tinggi masih tetap bertahan.
Strategis OCBC menilai belum ada alasan kuat bagi pasar untuk bersikap bearish terhadap dolar AS, didukung ketahanan ekonomi AS serta tekanan inflasi berbasis teknologi kecerdasan buatan (AI) yang mendorong Federal Reserve tetap bersikap hawkish.













