kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.798.000   -5.000   -0,18%
  • USD/IDR 17.817   60,00   0,34%
  • IDX 6.150   -56,19   -0,91%
  • KOMPAS100 813   -7,20   -0,88%
  • LQ45 625   -6,66   -1,06%
  • ISSI 216   -1,74   -0,80%
  • IDX30 357   -3,63   -1,01%
  • IDXHIDIV20 441   -5,38   -1,20%
  • IDX80 94   -0,69   -0,73%
  • IDXV30 121   -1,88   -1,53%
  • IDXQ30 115   -1,28   -1,09%

Harga Emas Dunia Turun Hampir 1% Selasa (26/5), Setelah Harga Minyak Melonjak


Selasa, 26 Mei 2026 / 13:25 WIB
Harga Emas Dunia Turun Hampir 1% Selasa (26/5), Setelah Harga Minyak Melonjak
ILUSTRASI. Harga Emas (REUTERS/Alexander Manzyuk)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Harga emas turun pada perdagangan Selasa (26/5/2026) setelah serangan terbaru Amerika Serikat (AS) di Iran mendorong kenaikan harga minyak dan memicu kekhawatiran inflasi serta potensi suku bunga tinggi bertahan lebih lama.

Mengutip Reuters, harga emas spot turun 0,9% menjadi US$ 4.529,50 per ons troi pada pukul 05.45 GMT.

Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Juni justru naik tipis 0,2% ke level US$ 4.529,60 per ons troi.

Baca Juga: Boikot Meluas, Penjualan Starbucks di Korea Selatan Anjlok Setelah Kontroversi

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan, negosiasi kesepakatan dengan Iran kemungkinan masih membutuhkan waktu beberapa hari.

Pernyataan tersebut memupus harapan pasar akan berakhirnya konflik dalam waktu dekat, sehari setelah pasukan AS melakukan serangan yang disebut Washington sebagai serangan defensif di wilayah selatan Iran.

Analis senior pasar OANDA Kelvin Wong mengatakan, kerusakan fasilitas produksi minyak di Timur Tengah dapat menghambat normalisasi pasokan energi global, meskipun kesepakatan damai antara AS dan Iran pada akhirnya tercapai.

“Kerusakan pada fasilitas produksi minyak Timur Tengah bisa menghambat pemulihan cepat arus pasokan minyak ke dunia,” ujarnya.

Baca Juga: Putin Berikan Keringanan Utang untuk Rekrutmen Tentara Baru Perang Ukraina

Menurut Wong, pasar kini mulai memperhitungkan potensi kenaikan suku bunga AS tahun ini akibat risiko inflasi yang meningkat.

Harga minyak mentah Brent tercatat naik 2% pada perdagangan Asia, seiring belum tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz.

Kenaikan harga minyak mentah dinilai dapat memperbesar tekanan inflasi dan membuat suku bunga bertahan tinggi lebih lama.

Meski emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, suku bunga tinggi biasanya menekan daya tarik logam mulia karena tidak memberikan imbal hasil.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang sebesar 56% bahwa bank sentral AS atau Federal Reserve akan menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun.

Baca Juga: Bursa Hong Kong Hadapi Tekanan Setelah Beijing Perketat Kontrol Modal Lintas Batas

Selain emas, harga logam mulia lainnya juga melemah. Harga perak spot turun 2,1% menjadi US$ 76,45 per ons troi, platinum melemah 1% ke level US$ 1.948,12 per ons troi, sedangkan paladium turun 1,4% menjadi US$ 1.378,89 per ons troi.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×