Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga emas dunia melemah pada perdagangan Jumat (1/5/2026) dan bersiap mencatatkan penurunan mingguan, seiring lonjakan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi dan meredupkan peluang penurunan suku bunga oleh bank sentral.
Mengutip Reuters, harga emas spot turun 1,1% ke level US$4.573,33 per ons pada pukul 11.49 GMT. Secara mingguan, emas diperkirakan terkoreksi sekitar 2,8%.
Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Juni juga turun 1% ke posisi US$4.585,20 per ons.
Baca Juga: Harga Aluminium Rebound Jumat (1/5), Ketegangan AS-Iran Picu Kekhawatiran Pasokan
Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan, dalam jangka pendek, pergerakan harga emas cenderung berkorelasi negatif dengan harga minyak karena pengaruhnya terhadap ekspektasi suku bunga.
“Emas tetap berkorelasi negatif dengan minyak dalam jangka pendek, karena dampaknya terhadap ekspektasi suku bunga,” ujarnya.
Lonjakan harga minyak dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran.
Teheran bahkan memperingatkan akan melancarkan serangan balasan jika Washington kembali melakukan aksi militer.
Baca Juga: Pejabat The Fed Ini Sebut Kebijakan Penurunan Suku Bunga Tidak Lagi Tepat
Harga minyak mentah Brent tercatat telah melonjak hingga dua kali lipat dibandingkan awal tahun.
Kenaikan ini memicu kekhawatiran perlambatan ekonomi global serta lonjakan inflasi akibat naiknya harga energi.
Di AS, inflasi tercatat meningkat pada Maret, didorong oleh kenaikan harga bensin akibat konflik tersebut. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS (The Fed) akan menahan suku bunga tinggi lebih lama.
Sejalan dengan itu, sejumlah bank sentral utama dunia seperti Bank Sentral Eropa (ECB), Bank of England (BoE), serta Bank of Japan (BoJ) juga memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya dalam pertemuan terbaru.
Sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian geopolitik, emas biasanya diminati saat kondisi global tidak stabil.
Baca Juga: Krisis Iran Hambat Distribusi Bantuan Pengungsi, Biaya Logistik Melonjak
Namun, dalam lingkungan suku bunga tinggi, daya tarik emas cenderung menurun karena investor beralih ke instrumen yang memberikan imbal hasil seperti obligasi pemerintah AS.
Meski demikian, UBS tetap mempertahankan prospek positif harga emas dalam jangka menengah hingga panjang.
Staunovo memperkirakan harga emas berpotensi naik hingga US$5.900 per ons pada akhir 2026.
Proyeksi tersebut didukung oleh sejumlah faktor, antara lain ketidakpastian menjelang pemilu paruh waktu di AS, potensi pelemahan dolar AS, serta penurunan suku bunga riil seiring kebijakan pelonggaran moneter di masa depan.
Di pasar logam mulia lainnya, harga perak turun 0,3% menjadi US$73,53 per ons. Sementara itu, platinum melemah 0,5% ke level US$1.975,65 dan paladium terkoreksi 0,1% menjadi US$1.522,18 per ons.













