kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.680.000   -30.000   -1,11%
  • USD/IDR 17.889   13,00   0,07%
  • IDX 6.330   62,48   1,00%
  • KOMPAS100 828   6,24   0,76%
  • LQ45 629   2,91   0,46%
  • ISSI 219   2,92   1,35%
  • IDX30 352   0,49   0,14%
  • IDXHIDIV20 427   -1,13   -0,26%
  • IDX80 95   0,69   0,73%
  • IDXV30 118   0,32   0,27%
  • IDXQ30 111   -0,13   -0,12%

Inflasi AS Juli Diprediksi Melandai, Bagaimana Nasib Suku Bunga The Fed?


Rabu, 12 Agustus 2026 / 11:26 WIB
Inflasi AS Juli Diprediksi Melandai, Bagaimana Nasib Suku Bunga The Fed?
ILUSTRASI. Dolar AS (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Inflasi konsumen Amerika Serikat (AS) diperkirakan meningkat secara moderat pada Juli 2026, seiring penurunan harga bensin.

Kondisi tersebut berpotensi semakin mengurangi ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) tahun ini.

Baca Juga: PFA vs EFL: Sengketa Batas Gaji Pemain di League One Memanas

Melansir Reuters, Departemen Tenaga Kerja AS dijadwalkan merilis laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) pada Rabu (12/8/2026) waktu setempat.

Rilis tersebut muncul setelah data ketenagakerjaan pekan lalu menunjukkan penurunan jumlah pekerjaan yang tidak terduga.

Ekonom menilai posisi AS sebagai eksportir bersih minyak serta berkurangnya persediaan minyak mentah telah membantu meredam dampak terhadap perekonomian dari lonjakan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah.

Meski demikian, risiko inflasi masih dinilai cenderung meningkat selama belum ada penyelesaian terhadap perang antara AS-Israel dan Iran.

"Saya tidak memperkirakan adanya kejutan signifikan ketika angka tersebut dirilis," kata Sung Won Sohn, profesor ekonomi dan keuangan di Loyola Marymount University.

Menurut dia, The Fed kemungkinan tidak akan menaikkan maupun menurunkan suku bunga, kecuali kondisi pasar tenaga kerja dan inflasi memburuk secara signifikan.

Baca Juga: Mengenal Katsu Curry Index, Indeks Pengukur Kekuatan Nilai Tukar Yen

Harga Bensin Menurun

Survei Reuters terhadap para ekonom memperkirakan CPI AS naik 0,1% pada Juli, setelah turun 0,4% pada Juni. Penurunan pada Juni merupakan yang pertama dalam enam tahun.

Secara tahunan, CPI diperkirakan meningkat 3,4% pada Juli, melambat dari kenaikan 3,5% pada Juni.

Kenaikan bulanan yang moderat tersebut diperkirakan mencerminkan penurunan lebih lanjut harga bensin.

Data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan harga rata-rata bensin berada di US$4,064 per galon pada Juli, turun dari US$4,184 per galon pada Juni. Harga bensin juga telah turun dari rata-rata US$4,609 per galon pada Mei.

Sementara itu, harga makanan diperkirakan hanya naik tipis, sejalan dengan tren beberapa bulan terakhir.

Harga barang, termasuk furnitur rumah tangga dan pakaian, diperkirakan turut menyumbang kenaikan CPI yang moderat seiring meredanya dampak tarif terhadap harga konsumen.

Baca Juga: Syarat Monetisasi YouTube 2027 Berubah, Ini yang Harus Diketahui Kreator

Inflasi Masih di Atas Target

Di luar komponen makanan dan energi yang cenderung bergejolak, CPI inti diperkirakan naik 0,2% pada Juli setelah tidak berubah pada Juni.

Kenaikan tersebut akan membuat inflasi CPI inti secara tahunan berada di sekitar 2,5%.

The Fed menggunakan indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) sebagai indikator utama untuk mencapai target inflasi 2%.

Meski inflasi yang lebih rendah dapat mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga, kondisi tersebut belum tentu memberikan banyak kelegaan bagi konsumen karena pertumbuhan upah belum mampu mengimbangi kenaikan harga.

"Ini merupakan perbaikan, tetapi kedua angka tersebut masih sangat tinggi dan tidak menyenangkan bagi konsumen," kata Tani Fukui, ekonom di MetLife Investment Management.

Tingginya biaya hidup juga telah memengaruhi pandangan masyarakat AS terhadap Presiden Donald Trump dan berpotensi menjadi faktor dalam pemilihan umum sela pada November mendatang yang akan menentukan kendali Kongres AS selama dua tahun berikutnya.

Trump memenangkan pemilu presiden 2024 antara lain dengan janji untuk menurunkan inflasi.

Baca Juga: Dolar Taiwan Menguat Rabu (12/8), Rupiah Jadi Mata Uang Asia yang Melemah

The Fed Masih Bisa Naikkan Suku Bunga

Inflasi inti diperkirakan terdorong oleh kenaikan kembali harga mobil dan truk bekas, barang terkait pendidikan dan komunikasi, serta tarif penerbangan.

Harga sewa juga diperkirakan meningkat moderat. Namun, para ekonom masih berbeda pendapat mengenai apakah harga kamar hotel dan motel akan melanjutkan tren penurunannya.

Meski CPI inti diperkirakan tetap terkendali, kondisi tersebut belum tentu tercermin sepenuhnya dalam indeks harga PCE inti.

Karena itu, sebagian ekonom masih memperkirakan The Fed akan memperketat kebijakan moneter pada September.

Baca Juga: Bursa Australia Melemah ke Level Terendah Sepekan, Ketegangan Timur Tengah Jadi Beban

Sebelum data CPI dirilis, para ekonom memperkirakan PCE inti naik 0,2% secara bulanan setelah meningkat 0,1% pada Juni. Secara tahunan, inflasi PCE inti diperkirakan mencapai 3,3%, sama dengan kenaikan pada Juni.

"Jika laporan sesuai dengan ekspektasi kami, hal itu akan memperkuat alasan bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga pada September," kata Stephen Juneau, ekonom AS di Bank of America Securities.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×