kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.679.000   50.000   1,90%
  • USD/IDR 17.940   1,00   0,01%
  • IDX 6.344   -7,43   -0,12%
  • KOMPAS100 833   -2,31   -0,28%
  • LQ45 631   -3,13   -0,49%
  • ISSI 219   -0,63   -0,29%
  • IDX30 354   -1,64   -0,46%
  • IDXHIDIV20 433   -1,50   -0,35%
  • IDX80 95   -0,31   -0,33%
  • IDXV30 120   -0,41   -0,34%
  • IDXQ30 113   -0,60   -0,53%

Suku Bunga The Fed Seharusnya Sudah Naik, Pejabat Bank Sentral AS Ini Beri Alasannya


Jumat, 07 Agustus 2026 / 07:30 WIB
Diperbarui Jumat, 07 Agustus 2026 / 07:33 WIB
Suku Bunga The Fed Seharusnya Sudah Naik, Pejabat Bank Sentral AS Ini Beri Alasannya
ILUSTRASI. Bank Sentral AS (The Fed) (REUTERS/Elizabeth Frantz)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Presiden Federal Reserve Bank St. Louis Alberto Musalem menyatakan, bank sentral Amerika Serikat (The Fed) seharusnya menaikkan suku bunga acuan pada rapat kebijakan pekan lalu.

Menurutnya, langkah tersebut diperlukan untuk mencegah inflasi bertahan di atas target 2%.

Mengutip Reuters, Jumat (7/8/2026), Musalem mengatakan dirinya mendukung kenaikan suku bunga federal funds rate sebesar 25 basis poin dalam pertemuan The Fed pada 29 Juli lalu.

Baca Juga: Belanja Rumah Tangga Jepang Turun Tak Terduga pada Juni, Jadi Sorotan BOJ

"Saya menyampaikan preferensi pada pertemuan tersebut untuk menaikkan suku bunga federal funds rate sebesar 25 basis poin," ujar Musalem dalam pidatonya di Brasil.

Menurut Musalem, alasan utama di balik usulan kenaikan suku bunga adalah risiko inflasi yang masih berpotensi bertahan di atas target 2% dalam satu tahun ke depan apabila kebijakan moneter tetap berada pada level saat ini.

Ia menilai, kenaikan suku bunga secara bertahap sejak dini akan lebih baik dibandingkan harus melakukan pengetatan yang lebih agresif di kemudian hari.

"Kenaikan suku bunga secara bertahap sejak sekarang lebih baik, tidak terlalu mengganggu, dan lebih rendah biayanya dibandingkan perubahan suku bunga yang lebih tajam di kemudian hari," kata Musalem.

Pada pertemuan 29 Juli lalu, The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%–3,75%, meskipun inflasi masih berada jauh di atas target 2%.

Baca Juga: Laba Kuartal II OCBC Melonjak 22%, Bank Naikkan Proyeksi Pertumbuhan Kredit 2026

Dalam rapat tersebut, tiga pejabat The Fed memberikan suara mendukung kenaikan suku bunga karena menilai langkah tersebut diperlukan untuk menekan tekanan harga.

Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah pejabat The Fed juga menyatakan bank sentral seharusnya sudah menaikkan suku bunga atau setidaknya siap melakukannya apabila inflasi tidak kunjung mereda.

Di sisi lain, Ketua The Fed Kevin Warsh belum memberikan petunjuk yang jelas mengenai arah kebijakan suku bunga berikutnya.

Ia justru menyatakan bahwa pelaku pasar perlu menilai sendiri prospek kebijakan moneter ke depan.

Musalem mengatakan dirinya memang memperhatikan pergerakan pasar keuangan, tetapi tidak menjadikan ekspektasi pasar sebagai dasar utama dalam menentukan kebijakan.

"Jika Anda yakin sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengubah kebijakan ke arah tertentu, maka kebijakan itu seharusnya diubah, terlepas dari apa yang sudah diperhitungkan oleh pasar," ujarnya.

Baca Juga: AS Terapkan Tarif 15% atas Produk Polysilicon, Trump Bidik Dominasi China

Ia menambahkan, ada kalanya bank sentral perlu memberikan kejutan kepada pasar apabila kondisi ekonomi memang mengharuskannya.

Musalem juga menilai kondisi keuangan saat ini masih sangat mendukung aktivitas ekonomi, sementara harga aset berada pada level yang relatif tinggi.

Meski ekspektasi masyarakat terhadap inflasi masih mengarah pada target 2%, Musalem memperingatkan bahwa ekspektasi tersebut dapat berubah apabila The Fed gagal mengendalikan tekanan harga.

Menurutnya, bank sentral juga tidak seharusnya mempertahankan kebijakan moneter yang terlalu longgar hanya untuk mendukung produktivitas dengan harapan inflasi akan turun di masa depan.

"Sangat penting bagi kebijakan moneter untuk memberikan tekanan yang berarti terhadap inflasi yang mendasari, bukan mentoleransi inflasi yang lebih tinggi saat ini demi mengejar pertumbuhan produktivitas di masa depan," tegasnya.

Baca Juga: Trump Kembali Batasi Kewarganegaraan Otomatis di AS, Ini Isi Aturan Barunya

Ia memperingatkan bahwa pendekatan tersebut dapat menggerus kredibilitas The Fed. "Bank sentral yang dipandang mentoleransi inflasi di atas target dengan janji adanya lonjakan produktivitas di masa depan berisiko kehilangan jangkar ekspektasi inflasi," ujarnya.

Di sisi lain, Musalem menilai perekonomian Amerika Serikat masih menunjukkan ketahanan dalam beberapa bulan terakhir.

Menurutnya, pasar tenaga kerja telah stabil dengan pertumbuhan lapangan kerja yang solid serta tingkat pengangguran yang mendekati level jangka panjangnya.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×