kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.733.000   -10.000   -0,36%
  • USD/IDR 18.202   2,00   0,01%
  • IDX 5.413   70,64   1,32%
  • KOMPAS100 712   13,06   1,87%
  • LQ45 537   9,62   1,83%
  • ISSI 188   3,21   1,74%
  • IDX30 304   5,83   1,95%
  • IDXHIDIV20 376   6,15   1,66%
  • IDX80 81   1,49   1,87%
  • IDXV30 103   1,11   1,09%
  • IDXQ30 98   2,20   2,29%

5 Cara SpaceX Mengubah Aturan Main IPO di Wall Street


Selasa, 09 Juni 2026 / 08:28 WIB
5 Cara SpaceX Mengubah Aturan Main IPO di Wall Street
ILUSTRASI. SpaceX (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

KONTAN.CO.ID - SpaceX, perusahaan antariksa milik Elon Musk itu berencana melantai di bursa dengan target valuasi sekitar US$1,8 triliun atau setara Rp32.652 triliun.

Terlepas dari nilainya yang fantastis, SpaceX juga menjalankan proses penawaran saham perdana dengan cara yang berbeda dari praktik yang selama ini menjadi standar di Wall Street.

SpaceX mengambil sejumlah langkah yang berpotensi mengubah cara perusahaan-perusahaan besar melakukan penawaran saham di masa depan.

Berikut lima cara SpaceX mengubah aturan main IPO di Wall Street.

Baca Juga: China Kian Ketat Awasi Investasi Offshore, Apa Dampaknya bagi Investor?

Wall Street

1. Harga Saham Sudah Ditentukan Sebelum Roadshow

Perusahaan biasanya menawarkan kisaran harga saham terlebih dahulu. Harga final baru ditetapkan setelah manajemen bertemu calon investor dalam rangkaian roadshow untuk mengukur minat pasar.

SpaceX memilih jalur berbeda. Perusahaan langsung mematok harga saham di level US$135 per lembar atau sekitar Rp2,45 juta per saham sebelum roadshow dimulai.

Langkah ini menunjukkan tingkat kepercayaan diri yang tinggi dari SpaceX terhadap daya tarik sahamnya di pasar.

Baca Juga: Sebelum Beli Bitcoin, Investor Perlu Tahu Ancaman dari Booming Saham AI

2. Investor Ritel Diberi Porsi Lebih Besar

Mengutip Reuters, IPO besar di Wall Street biasanya didominasi investor institusi seperti dana pensiun, perusahaan investasi, dan hedge fund. Investor ritel umumnya hanya memperoleh porsi terbatas.

SpaceX berencana mengubah pola tersebut dengan mempertimbangkan alokasi hingga 30 persen saham IPO untuk investor individu.

Kebijakan tersebut dinilai sebagai upaya memanfaatkan tingginya antusiasme publik terhadap Elon Musk sekaligus memperluas akses investor ritel terhadap salah satu IPO terbesar dalam sejarah.

Baca Juga: Mengapa Investor China Tak Bisa Mengakses Dokumen IPO SpaceX?

3. Karyawan Bisa Menjual Saham Lebih Cepat

Dalam kebanyakan IPO, karyawan dan investor awal perusahaan harus menunggu sekitar enam bulan sebelum diperbolehkan menjual saham mereka ke publik.

SpaceX mengambil pendekatan yang lebih fleksibel. Berdasarkan dokumen perusahaan, sebagian karyawan akan diizinkan menjual saham secara bertahap sebelum masa tunggu tersebut berakhir.

Lagi-lagi, kebijakan ini mengindikasikan bahwa perusahaan cukup percaya diri terhadap permintaan pasar sehingga tidak terlalu khawatir terhadap potensi aksi jual dari orang dalam.

Baca Juga: Sebelum IPO Anthropic, Investor Perlu Tahu Hubungannya dengan Pemerintah AS

4. Elon Musk Tetap Memegang Kendali

Meski membuka kepemilikan bagi publik, Elon Musk tetap menjadi sosok yang memegang kendali utama di SpaceX.

Setelah IPO, Musk diperkirakan masih menguasai sekitar 85,1 persen hak suara gabungan perusahaan. Porsi tersebut membuat pengaruhnya terhadap arah kebijakan dan strategi bisnis SpaceX tetap sangat dominan.

Perusahaan juga menerapkan sejumlah ketentuan tata kelola yang memperkuat posisi manajemen. Beberapa aturan bahkan dapat membatasi kemampuan pemegang saham untuk menantang keputusan perusahaan melalui mekanisme tertentu.

Baca Juga: Booming IPO India, Raksasa Asing Justru Tarik Dana Miliaran Dolar

5. Investor Membeli Visi Masa Depan SpaceX

Cara terakhir yang membedakan IPO SpaceX adalah alasan utama investor tertarik membeli sahamnya.

Umumnya, perusahaan masuk bursa dalam keadaan finansial terbaik. SpaceX justru masih mencatatkan kerugian karena besarnya investasi yang digelontorkan untuk berbagai proyek jangka panjang.

Dalam kasus SpaceX, sebagian besar optimisme investor berasal dari proyek-proyek yang masih dalam tahap pengembangan, seperti roket Starship dan rencana jangka panjang untuk mendukung kolonisasi Mars.

Dengan kata lain, banyak investor membeli saham SpaceX bukan hanya berdasarkan kondisi bisnis saat ini, tetapi juga keyakinan terhadap visi Elon Musk untuk masa depan.

Baca Juga: AS Sanksi Bursa Kripto Terbesar Iran, Nobitex Dituduh Bantu IRGC




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×