Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak mentah kembali menguat pada Selasa (11/8/2026), melanjutkan kenaikan lebih dari 5% pada sesi sebelumnya.
Penguatan harga minyak didorong kekhawatiran terhadap pasokan global akibat terganggunya arus energi di Timur Tengah serta meredupnya harapan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Baca Juga: Nvidia Gandeng 6 Raksasa Keuangan, Siapkan Pembiayaan Infrastruktur AI US$500 Miliar
Mengutip Reuters, harga minyak Brent berjangka naik US$2,09 atau 2,38% menjadi US$89,81 per barel pada pukul 09.52 GMT. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$2,15 atau 2,62% menjadi US$84,28 per barel.
Kedua harga acuan tersebut berada di level tertinggi sejak 31 Juli 2026.
Harga minyak sebelumnya melonjak lebih dari 5% pada Senin (10/8), setelah Presiden AS Donald Trump merespons persyaratan Iran untuk kesepakatan damai dengan tuntutan agar Iran memberikan kompensasi atas korban perang, serangan, dan aksi protes.
Tuntutan tersebut dinilai berpotensi semakin mempersulit upaya pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu rute utama perdagangan energi dunia.
Trump kemudian mengatakan bahwa AS telah menguasai Selat Hormuz dan melakukan pembersihan ranjau di jalur perairan strategis tersebut.
Baca Juga: Ini Perkiraan Perusahaan Sekuritas Besar untuk S&P 500 pada 2026
Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank Ole Hansen mengatakan belum terdapat jalur yang jelas menuju penyelesaian konflik maupun pembukaan penuh Selat Hormuz.
"Belum ada jalur yang jelas menuju solusi dan pembukaan penuh selat tersebut saat ini, sehingga kembali memberikan tekanan kenaikan pada harga," ujar Hansen.
Data pelayaran menunjukkan lalu lintas kapal yang melewati Selat Hormuz turun menjadi hanya enam kapal pada Senin, dibandingkan rata-rata 10 hari sekitar 11 kapal.
Sementara itu, analis Barclays mencatat ekspor bersih minyak mentah dan produk olahan minyak melalui Selat Hormuz rata-rata hanya sekitar 3 juta barel per hari (bpd) pada pekan yang berakhir 7 Agustus 2026.
Angka tersebut turun dari 4,4 juta bpd pada pekan sebelumnya.
Sebelum konflik Iran dimulai pada akhir Februari, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia setiap hari melewati Selat Hormuz.
Baca Juga: Militer Ukraina Serang Kilang Minyak di Orsk, Rusia
Risiko Gangguan Pasokan Meningkat
Gangguan pasokan energi juga terjadi di jalur strategis lainnya. Sebuah kapal kargo diserang pada Selasa oleh kelompok Houthi yang berafiliasi dengan Iran di Selat Bab el-Mandeb.
Serangan tersebut menewaskan tiga awak kapal, menurut sumber penjaga pantai Yaman dan pejabat militer pemerintah.
Baca Juga: Shein Siapkan Rencana IPO di Hong Kong, Valuasi Ditarget US$ 40 Miliar
Analis pasar utama KCM Trade Tim Waterer mengatakan risiko gangguan terhadap arus energi di Selat Hormuz maupun Bab el-Mandeb masih tinggi.
"Risiko pembatasan bahkan secara berkala maupun ancaman insiden lebih lanjut membuat biaya asuransi tetap tinggi dan memaksa kapal mengambil rute yang lebih panjang. Karena itu, arus energi kemungkinan tetap terbatas dalam jangka pendek," kata Waterer.
Di sisi lain, Saudi Aramco menunda kembali dimulainya operasi kilang Jazan berkapasitas 400.000 barel per hari menjadi 30 Agustus.
Penundaan dilakukan setelah kelompok Houthi mengklaim telah melancarkan dua serangan terhadap kilang tersebut pada Minggu (9/8).
Sementara itu, Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) menawarkan minyak mentah melalui tender spot. Penjualan tersebut menjadi tender spot kedelapan sejak awal Juni, seiring upaya perusahaan minyak negara Uni Emirat Arab tersebut mengalihkan pengiriman minyak dari jalur Selat Hormuz.
Baca Juga: Marcos Jr Usulkan Anggaran Filipina US$118 Miliar untuk Tahun 2027
Gangguan pasokan juga datang dari Eropa. Militer Ukraina pada Selasa mengatakan telah menyerang sebuah kilang minyak di Orsk, kota terbesar kedua di wilayah Orenburg, Rusia, yang merupakan salah satu pusat industri penting negara tersebut.
Sejumlah gangguan tersebut memperkuat kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global dan menjadi faktor yang mendorong harga minyak kembali mendekati US$90 per barel.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
