Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak dunia mulai stabil pada perdagangan Jumat (29/5/2026), tetapi masih menuju penurunan mingguan terdalam sejak April.
Pasar kini menanti kepastian soal potensi perpanjangan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang dinilai bisa meredakan gangguan pasokan energi global.
Mengutip Reuters, harga minyak Brent kontrak Juli turun tipis 0,3% ke level US$ 94,05 per barel pada pukul 08.10 GMT. Sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) AS bergerak stabil di US$ 88,89 per barel, setelah sebelumnya sempat anjlok lebih dari 1%.
Sepanjang pekan ini, Brent tercatat merosot sekitar 9%, menjadi penurunan mingguan terbesar sejak awal April. Adapun WTI melemah hampir 8%, menjadi koreksi terdalam sejak pertengahan April.
Baca Juga: Harga Minyak Anjlok 11% di Tengah Sinyal Damai AS-Iran, Konflik Masih Memanas
Tekanan terhadap harga minyak muncul setelah muncul laporan bahwa AS dan Iran telah mencapai kesepakatan awal untuk memperpanjang gencatan senjata serta membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Namun, kesepakatan itu disebut belum final karena masih menunggu persetujuan Presiden AS Donald Trump dan belum dikonfirmasi penuh oleh pemerintah Iran.
Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan perhatian pasar saat ini tertuju pada peluang tercapainya kesepakatan AS-Iran, meski arus minyak melalui Selat Hormuz masih terbatas dan stok minyak global terus menyusut.
"Pasar fokus pada potensi kesepakatan AS-Iran, sementara pasokan melalui Selat Hormuz belum sepenuhnya pulih," ujarnya.
Selat Hormuz sebelumnya menjadi titik panas konflik dan merupakan jalur vital bagi sekitar seperlima pasokan minyak serta gas alam cair dunia.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Anjlok Hampir 7% di Tengah Harapan Damai AS-Iran
Ketidakpastian soal pembukaan kembali jalur tersebut membuat harga minyak bergerak sangat fluktuatif dalam beberapa hari terakhir, bahkan sempat berayun hingga US$ 6 per barel dalam sehari.
Analis ING menilai pembukaan kembali Selat Hormuz memang dapat memberi kelegaan jangka pendek bagi pasar minyak. Namun, pemulihan arus distribusi energi global diperkirakan tidak akan berlangsung cepat.
Dampak konflik juga mulai terasa di negara-negara importir energi. Jepang, yang sangat bergantung pada minyak Timur Tengah, mencatat penurunan impor minyak mentah hingga 66% pada bulan lalu dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca Juga: Minyak Dunia Jatuh Hampir 5%, Kesepakatan Damai AS-Iran Bikin Pasar Lega
Di sisi lain, data pemerintah AS menunjukkan persediaan minyak mentah, bensin, dan distilat di negara itu turun pada pekan lalu. Penurunan stok terjadi seiring meningkatnya permintaan kilang dan konsumsi bahan bakar.
Laporan Badan Informasi Energi AS (EIA) juga mencatat ekspor minyak AS turun 1,16 juta barel per hari menjadi 4,4 juta barel per hari.













