Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga minyak dunia turun pada perdagangan Selasa (21/4/2026), berbalik melemah setelah melonjak tajam sehari sebelumnya. Penurunan ini dipicu oleh ekspektasi pasar bahwa perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran akan berlangsung pekan ini dan membuka kembali pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.
Minyak mentah Brent turun 54 sen atau 0,6% menjadi US$ 94,94 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk kontrak Mei turun US$ 1,11 atau 1,2% menjadi US$ 88,50 per barel. Kontrak WTI Mei akan berakhir pada Selasa, sedangkan kontrak Juni yang lebih aktif turun 76 sen atau 0,9% ke level US$ 86,66 per barel.
Sebelumnya, kedua acuan harga minyak tersebut melonjak pada Senin. Brent naik 5,6%, sedangkan WTI melesat 6,9% setelah Iran kembali menutup Selat Hormuz dan Amerika Serikat menyita kapal kargo Iran sebagai bagian dari blokade terhadap pelabuhan negara tersebut.
Baca Juga: Negara Teluk Khawatir Negosiasi AS-Iran Perkuat Cengkeraman “Emas” Teheran di Hormuz
Meski demikian, investor kini lebih fokus pada kemungkinan perundingan pekan ini menghasilkan perpanjangan gencatan senjata yang berlaku saat ini atau bahkan kesepakatan damai yang lebih permanen. Namun, risiko gangguan pasokan minyak masih tinggi apabila negosiasi gagal mencapai hasil konkret.
Analis dari ING menilai pasar masih terlalu optimistis terhadap peluang negosiasi antara AS dan Iran. Menurut mereka, pasar belum sepenuhnya memperhitungkan risiko gangguan pasokan yang masih berlangsung.
Sementara itu, Iran dilaporkan tengah mempertimbangkan untuk ikut dalam perundingan damai di Pakistan setelah upaya Islamabad mendorong penghentian blokade AS. Namun, pejabat Iran menegaskan belum ada keputusan final terkait keikutsertaan tersebut.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menyebut pelanggaran gencatan senjata oleh AS masih menjadi hambatan bagi kelanjutan negosiasi.
Baca Juga: Harga Emas Turun Tipis, Pasar Menanti Peluang Perundingan Damai AS-Iran
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, juga menegaskan bahwa Teheran tidak akan bernegosiasi di bawah ancaman.
Aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz masih sangat terbatas. Jalur ini merupakan koridor penting bagi sekitar 20% pasokan minyak dunia. Jika gangguan berlanjut selama satu bulan lagi, Citi memperkirakan total kehilangan pasokan dapat mencapai sekitar 1,3 miliar barel dan harga minyak berpotensi naik mendekati US$ 110 per barel pada kuartal II-2026.
Di sisi lain, Kuwait dilaporkan telah menetapkan force majeure atas pengiriman minyak akibat blokade di Selat Hormuz. Kenaikan harga energi juga mulai memukul permintaan global.
Analis dari Societe Generale memperkirakan permintaan minyak global telah turun sekitar 3% akibat tingginya harga saat ini. Mereka memperingatkan bahwa risiko penurunan permintaan bisa semakin besar jika normalisasi pasokan terus tertunda













