Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak dunia kembali menguat pada Kamis (16/4/2026), berbalik naik setelah sebelumnya sempat melemah.
Pasar mempertanyakan apakah perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran mampu menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri perang yang telah mengganggu pasokan energi Timur Tengah secara besar-besaran.
Kontrak minyak mentah Brent naik US$ 1,65 atau 1,7% menjadi US$ 96,58 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat US$ 1,45 atau 1,6% menjadi US$ 92,74 per barel.
Kedua acuan minyak tersebut sebelumnya ditutup relatif datar pada perdagangan Rabu setelah bergerak dalam rentang yang lebar sepanjang sesi.
Baca Juga: Trump: Israel dan Lebanon Siap Buka Dialog Setelah 34 Tahun
Analis pasar minyak dari PVM, John Evans, mengatakan pasar masih meragukan penyelesaian konflik dalam waktu dekat.
Menurutnya, setiap perkembangan positif terkait perang hampir selalu diimbangi dengan kabar negatif lain yang membuat pasar tetap waspada.
Selat Hormuz Masih Jadi Faktor Utama
Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah menyebabkan gangguan besar terhadap pasokan minyak dan gas global. Konflik ini memicu terhentinya lalu lintas di Selat Hormuz, jalur yang biasanya dilalui sekitar 20% aliran minyak dan gas alam cair dunia.
Penutupan jalur tersebut membuat pasar khawatir terhadap ketatnya pasokan energi global, terutama karena wilayah Timur Tengah tetap menjadi sumber utama ekspor minyak dunia.
Perundingan Damai Berpotensi Dilanjutkan
Pejabat Amerika Serikat dan Iran dikabarkan mempertimbangkan untuk kembali menggelar pembicaraan di Pakistan pada akhir pekan ini. Panglima militer Pakistan bahkan telah tiba di Teheran pada Rabu sebagai mediator.
Baca Juga: Akibat Perang, Pemasok Cokelat Bagi Kit Kat Memprediksi Laba Akan Turun 15%
Sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut menyebut Iran dapat mempertimbangkan untuk kembali membuka jalur pelayaran di sisi Oman dari Selat Hormuz jika tercapai kesepakatan guna mencegah pecahnya kembali konflik setelah gencatan senjata dua pekan yang dimulai pada 8 April.
Di sisi lain, kabinet Israel juga dilaporkan membahas situasi di Lebanon, lebih dari enam pekan setelah perang dengan kelompok Hezbollah yang didukung Iran.
Gangguan Pasokan Masih Besar
Analis dari ING memperkirakan sekitar 13 juta barel minyak per hari terdampak akibat penutupan Selat Hormuz, meskipun sebagian aliran dialihkan melalui jaringan pipa dan sejumlah kecil kapal tanker masih berhasil melintas.
Gangguan pasokan berpotensi memburuk setelah Amerika Serikat mengumumkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran menyusul gagalnya perundingan damai akhir pekan lalu.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga mengatakan Washington tidak akan memperpanjang pengecualian sanksi terhadap sebagian minyak Iran dan Rusia.
Baca Juga: Penjualan Pernod Ricard Melejit Capai € 1,95 Miliar, Lampaui Ekspektasi Analis!
Stok Energi AS Turun
Di tengah ketatnya pasokan global, persediaan minyak mentah, bensin, dan bahan bakar sulingan di Amerika Serikat juga mengalami penurunan pada pekan lalu.
Energy Information Administration menyebut turunnya stok terjadi karena meningkatnya ekspor energi Amerika Serikat untuk menggantikan pasokan yang terganggu, sementara impor justru menurun.
Kondisi ini mempertegas bahwa pasar energi global masih berada dalam tekanan tinggi dan sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik di Timur Tengah.













