Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia mulai menahan penurunan pada perdagangan Asia, Rabu (18/2/2026), setelah anjlok sekitar 2% pada sesi sebelumnya.
Pelaku pasar kini mencermati perkembangan perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, meski masih bersikap hati-hati terhadap peluang tercapainya kesepakatan akhir yang berpotensi menambah pasokan minyak global.
Mengutip laporan Reuters, kontrak berjangka minyak Brent naik 15 sen atau 0,22% ke level US$67,57 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 12 sen atau 0,19% menjadi US$62,45 per barel.
Meski menguat tipis, kedua harga tersebut masih berada di kisaran terendah dalam dua pekan terakhir.
Baca Juga: Bursa Asia Menguat, Harga Minyak Tertekan Isu Nuklir Iran-AS
Pasar merespons pernyataan Iran dan AS yang pada Selasa (17/2) menyatakan telah mencapai kesepahaman mengenai prinsip-prinsip utama dalam perundingan untuk menyelesaikan sengketa nuklir yang telah berlangsung lama.
Namun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan bahwa kesepahaman tersebut tidak serta-merta berarti kesepakatan akhir akan segera tercapai.
Sejumlah analis menilai peluang kemajuan lanjutan masih terbatas. Pendiri lembaga riset SS WealthStreet, Sugandha Sachdeva, mengatakan harga minyak berpotensi mengalami pemulihan teknikal, tetapi pasar tetap waspada.
Menurutnya, kesepakatan final masih jauh dan momentum diplomatik belum cukup kuat untuk mengubah sentimen secara signifikan.
Ketegangan geopolitik juga menjadi perhatian pelaku pasar. Iran dan Rusia dijadwalkan menggelar latihan angkatan laut bersama di Laut Oman dan Samudra Hindia bagian utara pada Kamis (19/2), hanya beberapa hari setelah Garda Revolusi Iran melakukan latihan militer di Selat Hormuz.
Baca Juga: Harga Minyak Turun Tipis Rabu (18/2), di Tengah Harapan Meredanya Ketegangan AS-Iran
Konsultan politik Eurasia Group bahkan memperkirakan ada peluang 65% terjadinya serangan militer AS terhadap Iran hingga akhir April.
Dari sisi pasokan, pasar juga menantikan laporan mingguan persediaan minyak AS dari American Petroleum Institute yang dirilis Rabu malam waktu setempat, serta data resmi dari Energy Information Administration pada Kamis.
Hasil jajak pendapat Reuters terhadap para analis menunjukkan persediaan minyak mentah AS diperkirakan naik sekitar 2,3 juta barel pada pekan yang berakhir 13 Februari 2026.
Sebaliknya, stok bensin diperkirakan turun sekitar 200.000 barel, sementara persediaan distilat, termasuk solar dan minyak pemanas. diprediksi menyusut sekitar 1,6 juta barel.
Faktor geopolitik lain yang turut membayangi pasar adalah perkembangan konflik Ukraina–Rusia. Perunding dari kedua negara baru saja menyelesaikan hari pertama pembicaraan damai yang dimediasi AS di Jenewa.
Baca Juga: Pasar Menanti Pembicaraan Nuklir AS-Iran, Harga Minyak Dunia Naik Tipis
Presiden Donald Trump mendorong Ukraina untuk bergerak cepat menuju kesepakatan guna mengakhiri konflik yang telah berlangsung empat tahun.
Analis menilai setiap perubahan signifikan dalam peta geopolitik global berpotensi menambah premi risiko pada harga minyak di pasar internasional.













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)